FYI.

This story is over 5 years old.

Blogger Fashion

Blogger Muslim Hoda Katebi Menjelaskan Hubungan Antara Selera Pakaian dan Revolusi

Blogger anti-kapitalis pencetus situs JooJoo Azad menjelaskan citra perempuan Muslim dan harapannya untuk masa depan perempuan Timur Tengah.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D.

Hoda Katebi, 22 tahun adalah sosok di balik blog pendukung fashion etis dan anti-kapitalis JooJoo Azad yang berniat merubah wajah industri ini. Mendorong brand dan media untuk selalu bersikap transparan, JooJoo Azad telah menulis ulang peran blog fashion. Situs miliknya berperan sebagai penyaring ketertarikan Katebi dengan dunia fashion dan caranya menantang bagaimana media Amerika Serikat merepresentasikan perempuan Muslim berhijab selama ini. Sebagai seorang perempuan Muslim Amerika keturunan Iran yang tinggal di Chicago, suara Katebi jelas berbau politis—karena bagi orang dengan multi identitas seperti dirinya, semua hal menjadi politis. Kini, presiden negaranya sendiri tengah berusaha melarang penduduk dari negara mayoritas muslim untuk masuk ke AS. Di situasi seperti inilah, suara Katebi yang lantang menjadi sangat penting, bukan hanya untuk memulai percakapan, tapi juga memulai perubahan.

Iklan

Katebi memulai blognya, JooJoo Azad sejak 2013 setelah mendengar berita tentang seorang perempuan Muslim yang hamil di Perancis keguguran setelah diserang kaum anti-Muslim. Dalam bahasa Farsi, JooJoo Azad berarti "burung yang bebas", sebuah lambang yang pas untuk Katebi yang berusaha mendobrak semua aturan di industri fashion. "JooJoo Azad adalah tempat dimana saya bisa berteriak di internet lewat kata-kata dan visual. Biarpun caption foto saya mungkin hanya menjelaskan brand di dalam foto, tapi imej foto itu sendiri berteriak, "Ini gue. Gue mengenakan hijab. Elo semua mesti bisa nerima ini," jelas Katebi. Dengan cara mengusut kebijakan dan opini dari industri fashion menggunakan sudut pandang etis feminis interseksional, Katebi berhasil mengubah ekspektasi khalayak umum.

"JooJoo Azad bertujuan sebagai situs perebutan kembali identitas wanita Muslim, pengguna Hijab, dan wanita Timur Tengah dan menantang pandangan media Barat yang cenderung Orientalis," jelasnya di blog. "Saya tidak akan membiarkan media melukiskan saya dengan cara yang tidak benar. Saya tidak mau suara saya dibungkam. Saya di sini, berteriak, dan menuntut perhatian." Melalui tulisannya tentang intrik politik dunia fashion atau daftar brand yang harus diboikot, Katebi tidak pernah hanya berdiam diri seperti penonton dan sekedar menyaksikan dunia fashion berkembang. Dengan cara mendokumentasikan eksistensinya lewat blog pribadi, Katebi berhasil merebut kembali kacamata yang menampilkan bagaimana perempuan Muslim Amerika harusnya dilihat.

Iklan

Apa kamu menggemari fashion sejak dulu?
Hoda Katebi: Berbeda dari blogger fashion lainnya, saya tidak punya cerita masa kecil soal "bagaimana saya selalu mencintai fashion" atau sudah terbiasa main dandan-dandanan di masa muda. Dulu saya menggemari serangga, sekarang kalau ditanya saya juga bingung menjelaskannya. Sesungguhnya, saya tidak peduli soal fashion atau pakaian sebelum mulai kuliah. Sebelum itu, semua pakaian saya dibelikan Ibu. Dulu tipikal gaya saya seperti ini: kaos lengan panjang di dalam t-shirt, dan celana cutbray faded masuk ke dalam sepatu boot. Sama buruknya dengan kemampuan saya berteman, fashion memang bukan keahlian saya dulu.

Saya mulai kehilangan banyak teman ketika saya membuat keputusan fashion yang besar: mengenakan hijab di SMP saya yang mayoritas berkulit putih dan konservatif. Pengalaman saya besar sebagai perempuan Muslim berhijab—dan semua serangan verbal, fisik, dan emosional yang saya alami—membentuk pandangan saya soal fashion dan pakaian. Saya mulai tertarik dengan fashion setelah menyadari aspek politik dan komunikasinya. Bagaimana kamu berpakaian dan menampilkan diri mempengaruhi perasaanmu, tindakanmu dan bagaimana orang lain bereaksi terhadapmu. Jujur aja, kalau dulu saya mengenakan syal di leher dan bukan di kepala, mungkin saya tidak akan dibully dan dipanggil 'teroris' ketika berumur 11 tahun.

JooJoo Azad adalah sebuah "blog fashion anti-kapitalis." Apa makna istilah ini buatmu? Apa tantangan mempromosikan budaya fashion yang etis?
Industri fashion adalah salah satu industri yang paling merusak di dunia. Gimana cara saya bisa berdiam diri dan tidak mengkonfrontasi omong kosong yang terus terjadi di dalam dunia fashion? Kenapa sampai sekarang buruh garmen masih dieksploitasi? Ketika kaos dijual sangat murah dan masih mendatangkan profit, kira-kira buruh yang sebetulnya bikin kaos itu digaji berapa? Menjadi seorang blogger fashion anti-kapitalis itu bukan hanya sekedar bersikap moral atau politis, tapi juga bertanggung jawab.

Iklan

Dengan menjalankan blog fashion anti-kapitalis, saya tidak berfokus ke aspek konsumerisme fashion dan konten pakaian yang sedang trendi, tapi lebih memilih untuk bekerja sama dengan brand-brand fashion yang menjalankan bisnisnya secara etis. Saya juga harus melakukan riset, membuat daftar brand yang harus diboikot, dan mendorong pembaca blog saya untuk memikirkan kembali hubungan mereka dengan pakaian yang mereka beli—sebagai bentuk seni dan bukan sekedar komoditas.

Apa yang kamu alami setelah mengungkap identitas kamu dengan jujur dan terbuka ke hadapan dunia?
Setiap manusia memiliki sejarah sendiri dan cerita, kepribadian, perspektif yang berbeda-beda. Tidak mudah untuk membuka diri saya lewat sebuah artikel semata, apalagi ketika identitas orang-orang seperti saya selalu ditekan dan dihomogenisasi oleh media dan akademis dunia Barat. Belum lagi industri-industri bernilai milyaran dollar yang mengeruk profit dari penciptaan dan penyebaran Islamofobia—contohnya: perusahaan teknologi pengawasan CCTV, pembuat senjata militer, drone, dan sebagainya. Orang kerap berusaha mengecilkan pengalaman pribadimu tanpa sebetulnya tahu apa-apa.

Sama seperti banyak perempuan Muslim minoritas yang lantang dalam bentuk konten dan kata-kata, dan kerap membuat kaum mayoritas merasa tidak nyaman lewat tulisan, Saya sudah ditaruh dalam daftar hitam, menjadi target, dilecehkan, dan dikirimi ancaman mati dan kekerasan. Tapi ini semua bukan hal baru. Bahkan tanpa pesona online sekalipun, saya juga kerap dilecehkan kaum-kaum bigot di negara ini. Untungnya, mayoritas respon yang saya depan sangat positive dan ini membuat saya terinspirasi untuk terus menulis. Saya sangat menghargai semua pembaca saya dan dukungan yang mereka berikan. Selain es krim kunyit, orang-orang inilah inspirasi saya.

Kamu pernah menulis fashion itu sesungguhnya bersifat politis. Bagaimana ide kamu ini telah mempengaruhi hubungan pribadimu dengan fashion?
Dulu saya tidak pernah sadar bahwa pakaian yang saya kenakan memiliki sifat politis. Suka atau tidak, mengenakan hijab di AS menjadi sebuah penyataan politik. Setelah saya mengenakan hijab selama bertahun-tahun barulah saya sadar betapa kuatnya fashion itu sendiri. Tentu saja, seperti yang saya sebutkan dalam tulisan saya, kadang fashion memang terkesan hampa, dangkal dan apolitis. Dalam sejarah, fashion selalu menjadi industri yang mayoritasnya perempuan. Dan sama seperti hal lainnya di dalam sistem patriarki, fashion kerap diremehkan. Namun sesungguhnya fashion adalah bentuk seni yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, menantang, menolak, dan mendefinisikan sesuatu. Semakin saya mendalami sisi politik fashion, semakin saya mengerti bahwa pakaian saya adalah sebuah bentuk seni. Saya mengurangi konsumsi pakaian dan menjadi lebih peduli tentang siapa yang membuat pakaian saya. Inilah yang mendorong saya untuk mempromosikan industri fashion yang etis.

Apa saran kamu buat perempuan yang ingin lebih etis dalam dunia fashion?
Berhenti belanja pakaian melulu. Anggaplah rak baju kamu seperti sebuah galeri. Pilih yang merepresentasikan dirimu—dan dibuat secara etis. Stop tergoda berbelanja ketika ada sale. Lebih baik berinvestasi di pakaian berkualitas tinggi yand diproduksi secara etis daripada menghambur-hamburkan uang di produk hasil eksploitasi buruh yang tidak akan bertahan lama.

Apa harapanmu untuk representasi perempuan-perempuan Timur Tengah di masa depan? Bagaimana kamu bisa mengubah imej buruk perempuan-perempuan ini yang kerap dibentuk oleh media?
Saya ingin perempuan Muslim Timur Tengah diangkat, dirayakan dan menjadi contoh, bukan muslim 'versi orang kulit putih' yang kini beredar di mana-mana. Kita tidak akan pernah bisa bebas apabila kebebasan kita diciptakan oleh orang-orang yang mengeruk keuntungan dari penindasan tersebut. Saya berharap kontribusi saya bisa menyumbangkan suara bersama kaum kreatif Muslim lainnya dalam bentuk tulisan dan seni yang lantang dan radikal. Ada banyak seniman-seniman Muslim penuh talenta yang saya suka: di antaranya Leila Abdelrazaq, Hushidar Mortezaie, Moshtari, Tasnim Baghdadi dan Sundus Hadi. Saya harap karya saya, bersama dengan mereka menjadi bentuk perayaan perempuan Muslim. Saya ingin karya saya membuat saya dicap "marah". Memang saya marah. Dengan semua omong kosong yang terjadi di dunia, bagaimana cara saya tidak marah? Saya ingin karya saya menunjukkan semua itu.

Apa rencanamu selanjutnya untuk mengembangkan situs JooJoo Azad?
Saya akan senang apabila saya bisa terus sekedar mengunggah editorial fashion sederhana dan berkolaborasi dengan brand-brand yang etis, sayangnya saya tidak punya privilesi itu lagi. Sekarang AS sudah menjadi negara fasis. Jadi pekerjaan saya harus berfokus di menolak kebijakan-kebijakan fasis ini, mendukung pihak lain yang juga menolak dan terus bekerja sama dengan orang-orang ini. Tentu saja karya saya tidak pernah kendor dari sisi politik, karena memang itulah alasan JooJoo Azad dibentuk, tapi sekaranglah waktunya untuk benar-benar bersuara dengan lantang. Saya sudah mengembangkan program magang saya agar melibatkan sukarelawan. Kami akan meluncurkan clothing line etis versi kami, berkolaborasi dengan kaum kreatif minoritas lainnya dan terus berkarya sebagai respon kami terhadap iklim politik AS.