Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.
Tulisan ini perlu dimulai dengan informasi bahwa harga obat-obatan belakangan ini meroket di banyak negara. Sepanjang 2015, pengeluaran warga Amerika Serikat khusus buat menebus obat mencapai angka $457 juta (setara Rp6 triliun). Menurut Kementerian Kesehatan AS, data tersebut naik delapan persen dari tahun sebelumya. Meski harga yang harus dibayar tergantung masalah kesehatan yang dihadapi dan layanan asuransi yang dimiliki pasien, masyarakatlah yang tetap yang paling terdampak kenaikan harga obat.
Menurut survey terbaru Consumer Report, sepertiga pasien di Negeri Paman Sam melaporkan kenaikan dalam biaya tebus obat. Kebanyakan dari mereka harus merogoh dana sebesar $39 (Rp500 ribu) setiap kali menebus ulang obat yang sama. Kenaikan dipicu oleh meningkatnya harga obat generik. 40 persen pasien yang merasakan dampak kenaikan harga obat sampai harus mengirit jatah makan dan hiburan. Sementara, 32 persen lainnya harus mengirit uang belajar.
Kondisi seperti ini memaksa beberapa orang melirik antibiotik kadaluwarsa dan mengambil beberapa buah pil dari belakang kabinet obat. Pertanyaannya, apakah ini solusi yang tepat?
"Singkatnya, kalau yang dikonsumsi adalah tablet atau kapsul untuk penyakit yang tak begitu serius, dan memiliki efek samping yang tak terlalu parah, seharusnya sih aman-aman saja untuk menggunakannya selang satu atau dua tahun setelah tanggal kadaluwarsa." ujar C. Michael White, Kepala Departemen Praktek Farmasi University of Connecticut's School of Pharmacy. Perusahaan farmasi harusnya memberi tahu pengguna obat bahwa khasiat sebuah obaa tinggal 90 persen setelah mencapai tanggal kadaluwarsa. Menurut White, sampai saat ini belum ada yang menyelidiki berapa persen khasiat obat tersisa setelah lewat masa kadaluwarsa.
Dalam sebuah studi kasus yang hampir mustahil diulang pada tahun 2012, para peneliti dari School of Pharmacy, Universiry of California menemukan obat-obatan generik yang disimpan dengan baik. Semua obat ini telah 28 sampai 40 tahun melewati tangal kadaluwarsanya. 12 dari 14 obat yang diuji masih memiliki 90 persen khasiat awalnya meski seharusnya obat-obatan itu digunakan di masa pemerintahan Ronald Reagan.
"Ada alasan kuat untuk mengatakan bahwa khasiat obat masih tetap meski tanggal kadaluwarsanya sudah lewat beberapa tahun lalu," ungkap White. "Tapi ada beberapa hal yang harus dipahami."
Yang pasti, segera buang obat-obatan yang bentuk sudah aneh—warnanya berubah, berjamur dan mulai lapuk. Usahakan selalu menaati tanggal kedaluwarsa obat cair. Untuk perkara obat yang disuntikan dan diteteskan ke mata, khasiat, sterilitasnya. Belum lagi beberapa obat tak bakal jadi manjur jika khasiatnya sudah jauh menurun.Yang termasuk jenis obat terakhir adalah epinephrine; theophylline; obat kontraseptif oral; dan obat epilepsi, serangan jantung, dan obat masalah kelenjar gondok.
Masalahnya lebih pelik ketika berurusan dengan antibiotik. "Jika infeksi ditangani dengan sempurna, tubuh kita akan memiliki kekebalan terhadap antibiotik," kata Christopher Carrubba, dokter sekaligus direktur pengembangan dan pendidikan Yayasan Med School Tutors. Bakteri bisa membentuk kekebalan terhadap antibiotik jika ditangani dengan obat yang tak begitu kuat. Gampangnya, bakteri menggunakan khasiat antibiotik kadaluwarsa ini melatih dan memperkuat diri. Atas alasan ini, Carubba menganjurkan kita agar tidak menyimpan antibiotik yang biasanya diresepkan untuk menangani infeksi umum, seperti infeksi saluran kencing lalu menggunakannya jika gejala serupa muncul lagi.
Biarpun, begitu tak banyak yang harus dikhawatirkan saat menggunakan mayoritas obat kadaluwarsa. "Kamu tak akan mengalami efek samping yang mengerikan. Yang kamu dapat cuma khasiat obat yang berkurang. Itu saja."
