VICE Exclusives

LeRoy Merefleksikan Teror dan Kebahagiaan 2016 Melalui 'Bambadea'

Album baru produser asal Munich ini terinspirasi warna-warni peristiwa sepanjang tahun lalu. Satu track dirilis eksklusif lewat VICE Indonesia. Dengarkan di sini!
1.2.17

VICE Indonesia bakal rutin merilis single eksklusif dari musisi keren seluruh dunia melalui kanal 'VICE Exclusives'. Nantikan rilisan-rilisan kami berikutnya dalam waktu dekat.

Produser musik elektronik asal Munich, LeRoy merasa 2016 begitu berat selama proses penulisan Bambadea—karya terbarunya setelah album Skläsh yang sukses. Dia terkejut melihat bermacam kejadian buruk. Mulai dari Serangan Paris November 2015 yang efeknya terasa sampai sekarang, krisis pengungsi, hingga kebangkitan politik populis serta ultranasionalis yang menyebar di Eropa dan Amerika Serikat. Semua faktor ini berkontribusi terhadap sound di Bambadea yang berusaha kalem dan introspektif.

Iklan

Di sisi lain, Bambadea terasa sejuk dan hangat sekaligus. Album yang terkesan bipolar ini adalah jenis musik pantai yang cocok bagi tipe pendengar penyuka hal-hal filosofis. Lagu-lagu di LP terbarunya ini bisa kita maknai sebagai respon LeRoy terhadap rangkaian warna-warni peristiwa sepanjang 2016 yang berat. Album ini berisikan kekhawatiran, bernuansa kontemplatif, namun tetap ringan didengar.

Tim Laksmana dari VICE Indonesia menemui LeRoy, mengajaknya membahas kancah musik elektronik Eropa, sampai memahami cara musisi sepertinya merespons kondisi dunia yang semakin hiruk pikuk.

Terus scroll ke bawah untuk mengunduh "The Village," track eksklusif album Bambadea persembahan VICE Indonesia.

Semua foto dimuat seizin LeRoy.

VICE Indonesia: Ceritakan dong tentang Bambadea? Apa bedanya sama album pertamamu Skläsh?
LeRoy: Album kedua saya Bambadea dirilis oleh label yang sama, Schamoni. Bisa dibilang Bambadea lebih fokus dibanding album pertama. Semua track di album ini saya kumpulkan dalam rentang tiga hingga empat bulan, sementara album Skläsh berisikan materi dari sesi rekaman yang berbeda-beda selama rentang tiga-empat tahun. Skläsh itu dibuat menggunakan perekam four-track, semacam harta karun yang tersimpan di hard disk saya. Ya ibaratnya buah mangga masih setengah matang [tertawa]. Sebaliknya, Bambadea lebih terpoles, biarpun masih satu keluarga dengan Skläsh. Bambadea mulai masuk ke ranah downbeat dan bersifat lebih introvert.

Kamu sempat bilang Bambadea lahir dari rasa gembira dan perasaan Weltschmerz [lelah dengan dunia]. Bisa dijelaskan maksudnya?
Ada banyak hal memusingkan yang terjadi di Jerman. Banyak situasi politik yang berakhir dengan aneh. Seakan-akan kita mundur ke masa lalu. Saya orangnya lambat, dan musik saya adalah cara saya merefleksikan perasaan saya.

Iklan

Jadi ada hubungannya dengan berita-berita buruk yang kerap muncul dari Jerman dan Eropa tahun lalu? Bagaimana semua peristiwa tadi mempengaruhi musikmu?
Iya, banyak tragedi yang terjadi di seluruh penjuru dunia tahun lalu. Saya sangat kecewa dengan cara banyak orang bereaksi terhadap krisis pengungsi—banyak yang penuh rasa benci dan ketakutan, bahkan di kalangan anak-anak muda yang biasanya lebih progresif. Kemudian Brexit terjadi, lalu Donald Trump terpilih, dan seterusnya…

Parah banget memang. Menurutmu apa semua tragedi ini ada pengaruhnya ke kancah musik Eropa?
Sudah pasti. Semua musisi yang sadar lingkungan sekitarnya tidak mungkin mengabaikan hal seperti ini.

Sempat ada orang yang mendeskripsikan musikmu sebagai 'psychedelic-balearic' versi kontemporer. Kamu setuju atau tidak?
Kalau niatnya bagus, kenapa enggak? [tertawa]

Saya suka sekali track kedua, 'Happened From The Void.' Apa cerita di balik pembuatan lagu ini?
Sesuai dengan liriknya, 'the state of mind isn't for anybody out there.' (isi pikiran saya bukan untuk orang lain). Lagu ini bercerita tentang perasaan seseorang yang terisolasi dari masyarakat.

Musikmu ibarat kombinasi terukur antara seni analog dan bebunyian elektronik. Apa prinsipmu saat menggunakan teknologi dalam penciptaan musik?
Jujur saja, belum lama ini iPad-ku rusak sewaktu aku sedang mengisi musik. [Tertawa] Jadi, soal teknologi, bisa dibilang saya menyukai gagasan yang menarik dan menarik. Saya berusaha membuat unsur teknologi dalam musik-musik saya terdengar sederhana, saya memang membatasinya. Sejauh ini, pendekatan semacam itu menghasilkan karya yang memuaskan. Saya memainkan semua instrumen, menggabungkannya dengan sample-sample yang menurut saya menarik, lalu berusaha menciptakan atmosfer khusus dari gabungan keduanya.

Musik apa yang biasanya kamu dengar? Ada musisi yang menginspirasimu selama ini?
Ini jenis pertanyaan sulit. Selama proses produksi Bambadea, saya mendengar banyak album-album surf klasik. Misalnya saja Santo and Johnny. Lalu saya juga mendengar album-album The Smiths, Wim Mertens, Neil Young, serta album-album dari Can…

Iklan

Luas banget dong referensi musikmu! 
Ya, begitulah. Pengaruh dari luar [musik elektronik] memang menarik perhatianku.

Jadi, ada proyek apa dari LeRoy yang akan muncul sepanjang 2017?
Dalam waktu dekat, moniker LeRoy akan menggelar live gigs bersama band. Lalu, saya berencana memproduksi album berikutnya, kali ini akan banyak pengaruh folk. Proyek ini bukan untuk LeRoy, tapi proyek musik sampingan saya yang dominan memainkan dub: DAS HOBOS. Mungkin juga saya akan bikin musik surf juga beberapa dub.

Menarik. Jadi tidak sabar menantikan karya-karya barumu segera dirilis. 

Simak single terbaru LeRoy "The Village" . Download lagunya lewat tautan berikut. Single dari album 'Bambadea' ini dirilis eksklusif melalui VICE Indonesia.