Skatepark: Monumen Transformasi Kalijodo
Semua foto oleh Arzia Tivany Wargadiredja.
Jakarta

Skatepark: Monumen Transformasi Kalijodo

Berselang setahun usai penggusuran, bekas komplek pelacuran kumuh DKI Jakarta itu menjadi ruang publik ramai, berkat keberadaan taman dan skatepark.
31 Januari 2017, 12:49pm

Ratusan orang, tua muda, berkerumun menyaksikan para pemain skateboard beraksi. Taman seluas 3,5 hektar ini disesaki manusia saat saya datang akhir pekan lalu. Beberapa perempuan lanjut usia santai bercengkrama di pinggir skatepark. Arena skate di Jakarta Utara itu menjadi monumen yang secara harfiah melebur semua batasan. Ruang publik ini membasuh sepenuhnya citra buruk yang menghantui dari masa lalu.

Setahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengambil keputusan kontroversial. Dia menggusur kawasan pelacuran terbesar Ibu Kota: Kalijodo. Sebelum diratakan dengan tanah, Kalijodo kesohor sebagai wilayah penuh hotel murah, bar dan pekerja seks yang berkeliaran di sisi jalan. Para pekerja seks di sana mematok tarif Rp100-300 ribu sekali kencan. Itu harga yang terhitung murah. Apalagi jika mempertimbangkan kemungkinan para pelanggan Kalijodo terjangkit HIV.

Ketika pelacuran masih berjaya, Kalijodo menjadi rumah bagi 1.400 orang yang menggantungkan hidup dari di hotel esek-esek dan tempat-tempat perjudian. Dari jumlah itu, 450 di antaranya adalah pekerja seks yang bekerja di bawah manajemen germo-germo serta mucikari setempat. Tak sedikit dari pekerja seks di Kalijodo adalah korban perdagangan manusia.

"Germonya datang dari seluruh Indonesia. Nah kalau pelacurnya, ada yang dijual ke germo. Ada juga yang milih jadi pelacur. Banyak kasus penjualan manusia di sini," kata Caling yang pernah bekerja sebagai petugas keamanan di komplek prostitusi Kalijodo. Orang-orang memanggilnya Bang Caling.

Jumlah uang berputar di Kalijodo ketika masih menjadi lokalisasi pelacuran tak main-main, di kisaran belasan miliar rupiah per bulan. Rumor mengatakan uang dalam jumlah besar ini masuk ke kocek raja tempat pelacuran yang tinggal di luar Jakarta. Penolakan sebagian warga sempat muncul terhadap rencana Pemprov DKI. Namun, akhirnya komplek prostitusi akhirnya rata dengan tanah pada 29 Februari 2016 tanpa perlawanan.

Setelah kalijodo digusur, mayoritas pekerja seks pulang  ke tempat asal masing-masing. Begitu pula dengan para mucikari dan pengusaha bar. "Yang punya bar orang luar semua, engga tinggal di sini," ungkap Bang Caling.

Kisah tentang bagaimana Kalijodo bisa beroperasi selama beberapa abad lamanya mengingatkan saya pada sosok Legendaris Daeng Aziz, salah satu tokoh paling berpengaruh di balik bisnis bir dan bar di Kalijodo. Kekuasaan Daeng Aziz membuatnya menjadi semacam tokoh legendaris, lantaran bisa mencegah FPI mengobrak-abrik Kalijodo.

Di negeri seperti Indonesia yang masyarakatnya mengharamkan pelacuran, Kalijodo sempat sukses bertahan lebih dari tiga dekade menyediakan jasa seks bawah tanah. Setahun setelah digusur, bekas kawasan pelacuran itu berubah drastis menjadi taman bermain dan skatepark yang bisa dinikmati siapapun. Pemprov DKI memerintahkan Sinar Mas merevitalisasi kawasan Kalijodo melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), membangun taman multifungsi yang menghabiskan dana senilai Rp60 miliar.

"Mending sekarang lah, kalau masalah pendapatan enakan yang dulu. Tapi beda lah mendingan sekarang berkahnya juga lain dulu enggak ada berkahnya," kata Caling.