Di Garis Depan Invasi Grime Ibiza

Selama bertahun-tahun, MC-MC Grime menolak tawaran besar dari berbagai superclub di Ibiza demi bisa manggung di gig yang lebih ramai di Ayia Napa. Mendadak semuanya berubah, kami kembali ke Kepulauan Belearik untuk mencrarti tahu.
17.8.16

Artikel ini pertama kali muncul di Noisey UK.

Selama bertahun-tahun, MC-MC Grime menolak tawaran besar berbagai superclub di Ibiza demi bisa manggung di gig yang lebih ramai di Ayia Napa. Mendadak semuanya berubah. Kami kembali ke Kepulauan Belearik untuk mencari tahu.

"Bisa dibilang, makin malam makin gila di sini," ucap Jordan Hallpike sambil tertawa—Director of Talent & Programming di Ibiza Rocks. Kami ngobrol di pinggir kolam Pikes Hotel, bekas gua hedon yang terletak di kawasan rural berdebu di timur laut San Antonio, Ibiza.

Nama tempat ini diambil dari pencipta dan juragan pesta, Tony Pike. Tempat ini adalah relik tua Ibiza yang klasik: pesta sepanjang 72 jam, hal-hal yang mistik, pesta madat kokain, orgy seks bebas, acip trip dan, ini yang paling dikenal, pesta ulang tahun Freddie Mercury yang ke 41. Inilah tempat dimana Grace Jones, Frank Zappa dan Kylie Minoque berusaha mendapatkan lucid dream; Inilah tempat yang dianggap Goerge Michael paling pas untuk bikin video "Club Tropicana"; tempat yang hampir ditutup polisi Ibiza di dekade 80an sampai pelanggan hotel Julio Iglesias—saat itu ia masih playboy yang fotonya mungkin terpampang di dinding universitas ibu anda—mengundang kepala kepolisian untuk 'makan malam' dan semua masalah seakan hilang begitu saja. Perubahan perlahan hotel ini—mulai dari finca spanyol ala abad 15, menjadi tempat pesta pora di dekade 80an hingga dibeli dan dinamai ulang sebagai Ibiza Rocks House at Pikes—sangat menunjukkan kalau jiwa pulau ini akan tetap hidup justru ketika segalanya berada dalam ketidakpastian.

Visi 80an Ibiza nantinya luntur juga di dekade 90an dengan datangnya macam-macam jenis pil, Paul Oakenfold, Nick Holloway dan Danny Rampling yang merubah identitas spiritual kepulauan itu—setidaknya bagi orang Inggris—sebagai "Disneyland-nya generasi rave." Sejak saat itu, kepulauan itu dirancang ulang guna menampung musik househouse music, superclub, penari erotis, VIP, pesta bujangan, layanan alkohol gaya klub dan Carl Cox. Inilah imaji Ibiza yang masih nyantol di kepala kita, yang diabadikan oleh Kompilasi Ministry of Sound, It's All Gone Pete Tong serta feed instagram para penggila pesta. Salah satunya mungkin pernah satu apartemen dengan anda di jaman kuliah.

Namun, alasan saya kembali ke kepulauan Balearik bukan untuk menemukan kembali Ibiza klasik atau jalan-jalan di hanger yang diterangi lampu sorot di Pacha, Amnesia dan Space. Tujuan saya di sini adalah untuk menyigi sound baru yang tengah menyerang kepulauan ini. Selama jalan-jalan di pantai San Antonio, susah sekali untuk tidak melihat berbagai macam tanda: tanda literal. Barangkali masih banyak billboard besar yang mengiklankan residensi Bob Sinclair yang tak pernah beres, bahkan mungkin sampai kiamat nanti. Namun, di sisi papan-papan iklan itu, berdiri foto Stormzy setinggi 20 kaki, menawarkan sesuatu yang berbeda. MC London Selatan itu memulai residensi We Are Rockstars sepanjang musim panas lalu. Tiketnya ludes terjual. Ia tidak sendirian. Wiley, Novelist, Big Narstie, Lethal Bizzle, Bugzy Malone, J Hus, Lady Leshurr, Elf Kid, Predutag, Slimzee and banyak mc lainnya akan manggung di Ibiza sepanjang musim panas ini. The White Isle, sepertinya, memang tengah dilanda invasi grime.

Sebenarnya, ini lumrah saja. Dengan grime yang merajalela di UK—jadi identitas kultural Inggris dengan menembus pelbagai radio mainstream, List Mercury Prize dan jadi favorit di akun spotify om-om di inggris—grime akan mendarat di Kepulauan Belearik juga. Kepulauan ini memang sudah lama jadi lini terdepan tren budaya klub inggris dan mempengaruhi banyak tren di London juga. Namun, Dizze, Skepta dan Wiley telah wara-wiri di Ibiza selama setengah dekade—dan grime sudah ada selama lebih dari 15 tahun—terus apa yang bikin infiltrasi grime teranyar ini spesial? Well, salah satunya, kini orang mulai datang menonton.

"Dulu saya benci Ibiza," Jelas Lethal Bizzle. "Saya pertama ke sini pada 2008/2009. Waktu itu saya mikir, 'Ini bukan sarang kami.' Gignya sepi, dan saya tak ingin ke sini lagi. Saya ingin ke Napa. Di sana, musik saya bisa pecah. Ayo kita ke Ayia Napa dan ajak teman-temanmu! Ibiza taek kucing."

Semua berubah ketika Bizzle kembali musim panas kemarin. "Saya dan DJ EZ dapat 6 show residensi di Sankeys, dan kami manggung gila-gilaan tiap minggu. Semua berubah. Rame sekali tahun ini—salah satu show paling nampol tahun lalu. Saya sampai bilang, 'Anjrit, Ibiza sudah siap nih!' saya lihat-lihat kembali ke sana tahun ini dan kayaknya kami yang megang tahun ini. Tapi, ini permintaan publik ya kan? Ini yang orang mau. Tentunya, ini adalah bisnis. Jadi kalau mau bisnismu berkembang, ya ikuti apa yang anak muda inginkan. Sekarang, yang lagi ngehip Urban dan Grime."

Salah satu yang memicu perubahan di Ibiza adalah penataan ulang Ibiza Rocks. Jika anda berumur lebih dari 20 tahun, barangkali anda masih ingat konsep awal Ibiza Rocks. Awalnya, ia cuma tempat hura-hura kecil-kecilan di ruang belakang Manumission. Idenya sederhana: menangkap kultur festival dan live music yang sedang ramai di Inggris dengan membawa beberapa artis indie ke sana. Jadilah Ibiza Rocks sebagai semacam club bagi mereka yang suka matahari, pasir ,narkobadasi dan Kaiser Chiefs. Kala itu, Ibiza adalah klub untuk mereka yang suka sepatu lancip yang kabur dari kawanannya untuk mononton The Subways selama 1 jam, sebelum kembali ikut ngumpul di Doner King.

Namun Fast Forward ke 2o16, Ibiza Rocks menjelma jadi francise terbesar di kepulauan Belearik. Asetnya mencakup 3 hotel (Ibiza Rocks Hotel, Sol House Mixed by Ibiza Rocks, dan Pikes), 2 bar serta macam-macam toko eceran dan hotel budget. Musik yang ditawarkan juga berkembang. Program Ibiza Rocks Hotel masih memasang artis macam LCD Soundsystem, Wolf Alice dan Slaves. Namun, sister brand-nya, We Are Rockstars kini bermain dengan tren-tren baru di Inggris. Walhasil, line up-nya kerap didominasi artis Grime ditambah artis macam Ms Dynamite, Yungen, So Solid Crew, dan bahkan Kurupt FM.

Lantai dansa super club memang masih dipenuhi pengunjung berpenampilan santai—kaos dan sepatu sneaker—yang tengah mencari keringat. Usia mereka hampir atau awal 30 tahuan. Namun, dalam antrian di show pertama Stormzy, yang berbaris sangat berbeda: mereka mengenakan topi snapback dan sendal slider, sepatu creps dan kaos kaki jaring, rambut dikuncir kuda dan gaya rambut cepak brightspot. Mereka lebih belia dan mereka haus akan musik 140 BPM.

"Ini beda banget dari semua yang ada di luar sana," jelas Jordan, lelaki yang bertanggung jawab membawa sebagian artis ini ke Kepulauan Belearik. "Musim panas ini, saya sudah lihat moshpit, saya sudah lihat artis membelah kerumunan penonton, saya juga sudah lihat ring of death. Ada juga minuman yang terlempar tinggi ke udara bahkan tangan-tangan yang teracung menyerupai pistol, semuanya pecah. Ini terjadi di kepulauan dimana penonton di sini biasanya cuma berdiri dan ngangguk-ngangguk doang. Pas pertama kali sekuriti lokal datang ke grime night, mereka panik—Ada apa nih? Ada yang berantem?" Mereka susah mempercayainya. Bagi saya sih, ini lebih menyenangkan dari klub grime gelap yang ada di London sana. Rasanyaa beda banget."

Saya tak perlu repot-repot menulis satu paragraf untuk menjelaskan betapa pecahnya pertunjukkan pertama Stormzy. Ia toh lebih banyak ditulis, bahkan jika dibandingkan cerita Brexit. Lagipula, tidak terlalu banyak cara untuk menggambarkan satu venue penuh pecah gara-gara lagu "Shut up." Tapi gini deh, gampangnya malam itu Stormzy mengubah Ibiza Rocks jadi apa yang disebut Big Narstie sebagai "kebun binatang."

Meski demikian, invasi Grime tidak untuk semua orang. Banyak purist klub di pulau ini yang tidak terlalu tertarik "Saya masih sering lihat 'Go Back To Ayia Napa!'" di media sosial," tukas Jordan. "Masih ada sejumput orang yang mikir Ibiza isinya cuma trance, house dan techno. Ya mereka mungkin pernah ke sini beberapa kali dan itu bagian pulau ini yang mereka temui—Ini bukan masalah. Cuma bagi saya, Ibiza itu tentang kebebasan, keragaman dan kemampuan menikmati semua yang kita mau. Hanya mereka yang benar-benar mencintai pulau ini yang paham kenapa perubahan yang terus terjadi sejatinya adalah jiwa kepulauan ini."

Malam berakhir juga. Kami segera menuju afterparty. Lalu, malam sekali lagi berakhir. Kali ini, kami kembali ke Pikes Hotel. Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan hotel itu tak pernah tutup. Para pengunjung—mata mereka jauh dari mengantuk—merokok di taman dan berjalan-jalan tanpa tujuan pasti di teras dan koridor sempit. Di ruang utama, saya lihat seorang DJ tengah meramu electro house, belearic dan funk di hadapan pengunjung dengan busana smart casual dengan tan yang sehat. Kelihatannya, pengunjung malam itu terdiri dari penduduk lokal, pelanggan hotel serta anak muda yang bekerja di Ibiza di musim panas yang tak mau pergi. Ada juga veteran raver dari tahun 90an yang kini mungkin sudah muak dengan San Antonio. Mereka kembali ke hotel ini setiap musim panas. Kebanyakan punya bisnis yang menjanjikan di tempat asal mereka. Dibanding moshpit di gig Stormzy, yang saya lihat adalah sejumput old school Ibiza. Grime belum masuk sini. Setidaknya, belum saat ini.

Follow Joe di Twitter.