Musik

'Rintik' Menandai Upaya Pandai Besi Mencari Identitas Baru

Pandai Besi ingin melepas citra band yang sekadar membawakan ulang lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Album baru dengan materi orisinal sedang digarap.
09 Maret 2017, 11:48am
Semua foto diambil dari arsip Pandai Besi

Sulit sekali membahas Pandai Besi tanpa menyebut nama salah satu band indie rock terbesar di Indonesia: Efek Rumah Kaca (ERK). Cerita Pandai Besi dimulai ketika dua anggota ERK, Cholil dan Akbar, mengundang beberapa teman musisi melengkapi formasi Pandai Besi. Pembentukan band ini, menurut Cholil, sepenuhnya diniatkan sebagai proyek sampingan selama ERK masih vakum. Ide dasarnya sederhana. Pandai Besi akan mengaransemen ulang lagu-lagu ERK yang menjadi lebih rumit dan panjang. Cholil juga sempat mengutarakan wacana membentuk Pandai Besi dipicu kejenuhannya membawakan lagu-lagu ERK di atas panggung selama bertahun-tahun.

Pada 2013, Pandai Besi merilis album Daur Baur, berisikan interpretasi ulang sembilan lagu ERK dari dua album pertama mereka yang sukses. Hasilnya? Rolling Stone Indonesia menyebut apabila Pandai Besi adalah sebuah band baru, maka Daur Baur bisa jadi album debut grup musik Indonesia terbaik sejak album pertama ERK dirilis.

Situasi Pandai Besi berubah ketika Cholil dan keluarga memutuskan menimba ilmu di Amerika Serikat. Lantas, apa langkah berikutnya untuk Pandai Besi?

Jumat, 3 Maret 2017—kurang lebih empat tahun selepas rilisan perdana mereka—Pandai Besi merilis single baru berjudul Rintik. Single itu merupakan nomor pertama karya Pandai Besi seutuhnya.

Yudhistira Agato dari VICE Indonesia ngobrol bersama Poppie Airil, bassis, vokalis, sekaligus penulis lagu 'Rintik'. Poppy sejak Agustus 2016 resmi menjadi anggota keempat ERK. Kami membahas arah musik Pandai Besi di masa mendatang, serta mengulik alasan Pandai Besi merasa perlu menemukan identitasnya sendiri, lepas dari bayang-bayang ERK.

VICE: Pandai Besi dikenal awalnya sekadar mengaransemen ulang lagu-lagu ERK, apakah ini jadi tekanan sendiri buat kalian?
Poppie: Awalnya iya sih. Tapi gini, menjaring penggemar engga semudah itu. Karena yang suka album pertama dan kedua ERK belum tentu suka dengan Pandai Besi. Tapi yang suka dengan Pandai Besi suka dengan Sinestesia, jadi sebetulnya meratalah. Ketika Sinestesia keluar, ketauan siapa yang suka Pandai Besi siapa yangg enggak. Band ini sebetulnya  terinspirasi oleh pengerjaan album Sinestesia.

Elemen spesifik apa dari album Sinestesia yang menjadi inspirasi Pandai Besi?
Ya secara musikal dan progresinya ya. Kalo ERK memang lebih apa ya, lebih to the point, lebih langsung. Alurnya tuh masih enak. Kalo Pandai Besi bisa ada _twist_-nya, dan liriknya lebih sedikit, instrumennya yang lebih. Lebih padat dan lebih beragam juga sebenarnya.

Setelah single terbaru Pandai Besi Rintik dirilis, apakah kalian lega atau malah was-was dengan respon pendengar?
Kalo lega sih iya, karena udah lama engga ada rilisan. Jadi pas keluar rasanya 'Gila, akhirnya ada rilisan juga gitu dengan formasi yang baru! [tertawa]'. Kalo nervous, mungkin ada, mungkin juga engga. Karena engga sempat kepikiran gimana nanti komentar orang-orang. Tapi memang pengen ngerilis yang baru setelah Daur Baur. Itu udah tiga atau empat tahun lalu.

Siapa saja yang terlibat dalam penulisan Rintik?
Jadi untuk proses kreatif sebetulnya, Cholil sudah gak ikut. Yang buat ya kita yang tersisa di Pandai Besi. Sebetulnya Rintik ini awalnya lagu Bing [proyek solo Poppie] dan gue gak tau sebetulnya masuk ato engga. Ketika di-share dengan Pandai Besi, mereka tertarik, karena kebetulan udah ada liriknya juga, kemudian diaransemen ala Pandai Besi. Jadi ini lagu Pandai Besi.

Apakah ini akan jadi model penulisan lagu Pandai Besi di masa depan? Semua orang bisa menulis dan diaransemen ulang rame-rame?
Untuk Pandai Besi memang bebas. Semua orang bebas untuk mengutarakan ide-idenya. Untuk Rintik kebetulan saat itu kita sedang rasainnya begitu. Jadi belum tentu juga bisa seperti itu di masa depan. Directionnya juga kita belum tahu ke depannya. Kita gak bisa bilang [lagu-lagu lainnya] akan mirip Rintik juga nantinya.

Ada influence khusus gak untuk Pandai Besi dalam menulis lagu-lagu orisinal?
Pas pengerjaan Daur Baur, kita dengerin Dirty Projectors gitu. Sekarang malah sendiri-sendiri. Kalau Monik yang buat [lagu], lagunya terdengar [khas] dia banget. Nah itu PRnya kita sekarang, nyari karakter dan aransemen yang pas. Pandai Besi itu cair jadi selalu ada ruang. Bisa switch kemana-mana. Jadi kita sekarang belum tahu, kita lagi menjalankan aja. Karena soundnya baru dengan beberapa tambahan orang-orang baru. Pandai Besi kayak band baru semenjak proses kreatifnya gak ada Cholil dan Hans. Dulu _trigger_-nya mereka, dan kita ngisi. Dulu pas bikin lagu, Hans yang mulai terus dibikin lebih dalam. Nah sekarang belum ada tuh proses kayak gitu. Jadi pengennya nanti semua berperan.

Pandai Besi sedang menggarap album baru?
Iya sekarang lagi workshop, udah ada sekitar 4-5 lagu yang lagi dibikin. Engga akan dirilis dalam waktu dekat sih, masih belum tau kapan.

Elo sekarang main di Pandai Besi dan ERK. Gimana elo ngatur mindset yang berbeda untuk dua proyek ini?
Secara kreatif sebetulnya ada sih perbedaannya. Dapurnya ERK beda dengan dapur Pandai Besi. Sekarang sebetulnya ERK udah mulai nabung-nabung untuk album keempat dan gue juga mulai nulis lagu untuk mereka. Pandai Besi juga lagi bikin-bikin, lagi workshop di studio lah ya. Kerasa tuh bedanya, karena memang mereka dua band yang berbeda. Pas lagi maen sama ERK, secara gak langsung gue menempatkannya untuk ERK, lagu-lagunya jadi beda. Di Pandai Besi juga jadi berbeda [tertawa]. Rintik aja sebenarnya lagunya sederhana demonya. Lebih bernyanyi gitu ya, tapi hasilnya ya lebih mengejutkan juga diaransemen seperti itu oleh Pandai Besi. Kalau dibawain ERK pasti hasilnya beda juga.

Secara lirik, pendekatan ERK dengan Pandai Besi beda juga?
Beda banget. Karena lagu ERK itu ya arahnya udah ketauan ya, mereka kan perlawanan. Jadi memang keras dan ada muatan politis, sosial. Kalau beberapa lagu Pandai Besi yang baru sebetulnya lebih ke arah puitis, jadi seperti lagu Hujan Jangan Marah tapi lebih ringan. Sejauh ini sih untuk kemampuan menulis liriknya karena memang belum sekaliber Cholil, tapi memang arahnya sama juga. Tapi ya Pandai Besi lebih tenang, engga semarah-marah ERK [tertawa].

Setelah Pandai Besi ngeluarin lagu sendiri, apakah ada perubahan dalam hal hubungan band ini dengan ERK?
Sebenarnya tetep keluarga. Orang-orang Pandai Besi juga terlibat dengan proyek-proyek solo anggota ERK. Simbiosis mutualisme gitu lah. Pandai Besi pas awal-awal juga manggungnya disisipin di set ERK, selang seling gitu. Jadi kayak ikan hiu sama ikan remora istilahnya. Tapi pengennya nanti lepas dan jalan sendiri.

Kenapa ingin lepas dari ERK?
Jadi perlahan sebetulnya Pandai Besi ingin melepaskan diri dari ERK, apalagi pas Cholil kuliah di luar sama anak istrinya. Awalnya memang kita pake nama Pandai Besi pun untuk menghindari kalau misalnya manggung dikira ERK. Walaupun kita belum ada materi sendiri, tapi pengen ngebedain aja, jadi nantinya Pandai Besi bisa berjalan sendiri gitu. Pandai Besi dibuat sebebas-bebasnya aja, gak harus ada Cholil juga. Jadi biarpun Cholil sekarang gak terlibat proses kreatifnya bisa aja nantinya dia ikut lagi. Secair itu sih.