Vandalisme Graffiti Jakarta Menyerbu Bali

Foto-foto seni jalanan yang menyimpan wacana kritis dan keindahan tersendiri ditampilkan dalam pameran 'Chaos of Capital'.
24.3.17

Sejumlah anggota kru graffiti anonim dari sekitaran Jakarta, yang aktif 'merusak' properti publik saat beraksi, memutuskan berbagi arsip fotografi jalanan dari hasil kerja mereka. Foto-foto mereka yang telah dikurasi dipamerkan kepada publik selama 20 hari pameran bernama Chaos of Capital di Tantrà Creative Space, Denpasar, Bali.

Pameran ini memotret adegan-adegan pada malam hari ketika mereka melintasi jalan-jalan ibukota demi menemukan lokasi tepat untuk melakukan aksi vandal, dengan tujuan menunjukkan dokumentasi mentah dari kehidupan jalanan aktual versi mereka yang kontras dari gambaran kehidupan urban prestisius di Jakarta.

Dua fotografer dalam proyek tersebut Gnoberio dan Peter Chev, menyatakan ide memamerkan seri graffiti vandal ini awalnya muncul dari pencarian mereka terhadap lokasi vandal favorit para bomber malam hari. Temuan awal kemudian menuntun keduanya ke sudut-sudut kota yang sebelumnya tidak mereka sadari. Keduanya juga aktif sebagai 'writer' dalam komunitas graffiti. Oleh sebab itu, karya-karya seni jalanan yang mereka abadikan berfokus pada aksi vandalisme, suatu faktor reaktif dari arsitektur urban yang menginspirasi mereka.

Foto oleh Gnoberio dan Peter Chev.

Hasil kerja para seniman graffiti fundementalis ini lazimnya tidak berakhir di galeri seni. Sebab kanvas bukan medium yang tepat untuk mempromosikan kesenian mereka, kata salah satu anggota kolektif ini. Bagi para seniman anonim itu, nilai utama vandalisme bukan terletak pada kualitas ilustrasinya, melainkan lebih pada kesempatan keluar rumah, mengeksplorasi kota, mengambil risiko untuk menghancurkan properti pribadi, dan mempromosikan pandangan hidup yang lebih sinis terhadap kota yang mereka tinggali.

Dari ribuan gambar yang dikurasi dari katalog yang kebanyakan berisi fotografi, hanya sedikit yang akan ditunjukkan kepada publik. Mengenai pertanyaan mengapa memilih memperlihatkan budaya vandal Jakarta, Bali menjadi tujuan yang dipilih dari keinginan untuk menyebarkan sikap buruk di ibu kota di Pulau dewata.

"Di Jakarta orang udah pada sibuk sama urusan masing-masing kali ya?" kata Gnoberio. "Udah enggak ada yang nyari kayak gini ginian lagi."

*'Pameran 'Chaos of Capital' dibuka di Tantrà Creative Space pada 8 April 2017 selama 20 hari.