Kesehatan Mental

Begini Cara Membedakan 'Burnout' dengan Depresi

Gejala depresi dan ‘burnout’ kurang lebih mirip, tapi penyebab dan penanganannya berbeda lho.
Hannah Smothers
Brooklyn, US
15.6.21
foto ilustrasi perempuan stres saat bekerja di rumah
elenaleonova via Getty

Pada Mei 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperluas definisi kelelahan kerja atau “burnout” di Klasifikasi Penyakit Internasional mereka. Versi yang telah direvisi menggambarkan kondisi ini sebagai fenomena pekerjaan yang ditandai dengan “kehabisan energi”, “bertambah besarnya jarak mental seseorang dengan pekerjaannya,” dan “berkurangnya kemampuan profesional”. Dengan kata lain, kalian merasa sangat lelah dan apatis terhadap pekerjaan sampai-sampai kalian sulit menyelesaikan tugas yang diberikan.

Gejala burnout sekilas mirip seperti depresi. Orang mungkin menderita depresi apabila mereka tidak punya minat untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya mereka nikmati, lebih gampang capek, sulit berpikir jernih dan merasa tidak berharga. Menurut psikolog Melissa Russiano, gejala fisik burnout dan depresi pun hampir tidak ada bedanya, setidaknya di awal-awal.

Kedua kondisi ini memang serupa, tapi tak sama. Penyebab burnout berbeda dari depresi, begitu pula cara mengatasinya. “Rasanya relatif sama, tapi penyebabnya beda,” ujar Russiano. Depresi merupakan masalah kesehatan mental pribadi, sedangkan burnout adalah efek dari faktor sistemis, seperti jadwal yang menuntut, kurangnya waktu cuti, dan minimnya jaminan kesehatan dan keluarga. Russiano menjelaskan, burnout terkadang cukup diatasi dengan hal sederhana seperti mengusir penyebab stres, sementara depresi jauh lebih kompleks daripada itu.

Iklan

Lalu, bagaimana caranya menentukan apakah kita hanya lelah bekerja, atau mengalami kondisi mental yang lebih mengkhawatirkan? Apa yang harus kita lakukan supaya bisa merasa lebih baik? Simak penjelasan Russiano berikut ini. Dia sudah berpengalaman menangani pasien burnout dan depresi.

Burnout cenderung disebabkan oleh faktor eksternal.

Russiano menyampaikan, perbedaan utamanya adalah burnout hampir selalu berkaitan dengan pemicu stres atau peristiwa tertentu. Bisa jadi itu hal yang sifatnya sementara, seperti tenggat waktu yang semakin dekat, atau masalah yang lebih besar dan sistemis seperti kurangnya pengasuhan anak, gaji kecil, atau punya bos yang rese’.

Pikirkan apa yang paling membuat kalian takut untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Jika kalian merasa gelisah di akhir pekan karena besok sudah kerja lagi, itu pertanda kalian mengalami kelelahan terkait pekerjaan. Namun, apabila kalian merasa lelah, tak bersemangat dan tak termotivasi saat dan di luar waktu kerja tanpa alasan yang jelas, bisa jadi kalian depresi.

Russiano mengungkapkan, “penyebab” depresi lebih sulit untuk ditentukan. Kadang-kadang orang bisa mengaitkannya dengan peristiwa yang baru terjadi, seperti kehilangan orang tersayang atau perubahan dalam hidup, tapi penyebab depresi sering kali lebih sistemis. “Sangat sulit menentukan penyebab awalnya dengan tepat karena ada banyak hal yang terjadi,” lanjutnya.

Kalian bisa menghentikan burnout (untuk sementara waktu)

Misalkan kalian lelah karena pekerjaan terus berdatangan. Ketika burnout, kebanyakan mengatasinya dengan pergi berlibur. Ini satu-satunya cara yang mereka ketahui. Russiano mengatakan, caranya efektif untuk sesaat. Begitu kalian kembali kerja dan mengalami situasi serupa, perasaan capek dan muak bisa muncul kembali.

Depresi lebih sulit dihindari karena masalahnya berakar pada banyak hal, terkadang karena faktor genetik yang tak terhindarkan, menurut Russiano. Kalian mungkin mengira mengubah suasana atau pergi ke tempat baru dapat “menyembuhkan” depresi, tapi sayangnya tak seperti itu cara kerja kesehatan mental. “Biasanya orang berpikir, saya lelah, saya capek, saya burnout, saya butuh suasana atau pekerjaan baru,” tuturnya. “Begitu pemicu stres diubah, ternyata gejalanya masih ada. Saat itulah orang cenderung menyadari kalau sebenarnya mereka depresi.”

Depresi berakar pada masalah personal; burnout lebih sistemis.

Russiano mengutarakan, perbedaan mencolok dari keduanya mungkin depresi diyakini terjadi karena kombinasi kecenderungan genetik (tak semua orang seperti ini) dan penyebab awal seperti pengalaman traumatis. Depresi bisa muncul dengan dan tanpa pemicu sama sekali. Gangguan psikologis ini sangat rumit.

Seperti yang dikatakan Russiano, kelelahan bekerja yang dibiarkan berlarut-larut terlalu lama dapat memicu fase depresi, atau menjadi salah satu faktor seseorang mengidap depresi. “Burnout bukan sebatas kelelahan biasa,” dia menegaskan. “Hal ini tumpang tindih dengan depresi dan dapat menyebabkan depresi. Jika dibiarkan begitu saja, [kondisi tersebut] dapat memengaruhi hubungan, keuangan dan kesehatan kalian.”

Karena itulah Russiano menyarankan agar kita berkonsultasi langsung dengan ahlinya. Mereka bisa mendiagnosis dengan tepat, dan membantu kita mengatasinya. Baik burnout maupun depresi mungkin tidak dapat dicegah sepenuhnya, tapi kedua kondisi ini dapat ditangani — tentunya dengan bantuan profesional.

ˆFollow Hannah Smothers di Twitter.