Matahari Tak Pernah Terbit di Tambora
Travel

Matahari Tak Pernah Terbit di Tambora

Tambora adalah wilayah Jakarta yang dikenal, tapi barangkali tak banyak dari kita benar-benar pernah mengunjunginya.
31.10.16

Seorang perempuan menjemur pakaian sudut langka Gang Venus, yang sedikit tersentuh sinar matahari. Semua foto dalam artikel oleh penulis.

Tambora adalah wilayah Jakarta yang dikenal, tapi barangkali tak banyak dari kita benar-benar pernah mengunjunginya. Kawasan Tambora dipisahkan sebuah tembok dari kompleks apartemen dan mal di dekatnya, Season City—mall mentereng setinggi lima 5 lantai yang dikangkangi apartemen kelas menengah. Jika Season City adalah bangunan khas perencanaan urban ala Jakarta —bangunan vertikal, lingkungan mandiri yang dibangun untuk tujuan komersil—maka Tambora adalah antitesisnya.

Tambora tak pernah masuk perencanaan Dinas Tata Kota Jakarta Barat. Tambora muncul begitu saja—perlahan menjamur di sudut jakarta yang kepemilikannya seringkali penuh sengketa. Di saat yang sama, bermunculan arus penduduk yang tak bisa dibendung—migran tak terampil dari berbagai daerah miskin di luar Jakarta—semuanya membutuhkan tempat tinggal.

Iklan

Tambora adalah titik terpadat Jakarta. Pemerintah DKI menaksir sedikitnya 250.000 kepala menjejali kawasan seluas 5,48 km persegi. Gampangnya, ada 4 orang dalam setiap 1 meter persegi di Tambora. Beberapa lorong di kawasan kumuh Tambora kini terlalu sempit, sampai-sampai warga setempat mengeluh kesusahan melihat matahari. Di sisi lain, penduduk lainnya menganggap lorong-lorong yang gelap ini sebagai karunia. Setidaknya, dalam gelap, satu keluarga bisa bergantian tidur, sebab berbagi petak rumah dengan semua anggota keluarga dalam satu waktu adalah kemustahilan. Wilayah dengan kepadatan mendekati Tambora hanya Tanah Tinggi, dekat Senen.

"Di Tambora dan Tanah Tinggi itu satu rumah bisa dihuni 3-5 keluarga," ujar Nirwono Yoga, pakar tata kota yang bertahun-tahun mempelajari kawasan Tambora. "Yang terjadi adalah mereka membuat shift untuk beristirahat. Ada juga yang mencoba beradaptasi dengan mengatur shift kerja mereka."

"Mereka mencoba beradaptasi dan ini terkait dengan pekerjaannya. Mereka mengatur waktu begitu dengan kepadatan tadi dia mau tidak mau menyesuaikan diri."

Pejabat pemerintah DKI menganggap kawasan padat di Tambora rentan mengalami kebakaran yang dipicu arus pendek. Pasalnya, bertebaran kabel yang acak-acakan, diperparah jeleknya konstruksi bangunan.

"Selama sembilan bulan menjabat sebagai Camat Tambora, sudah terjadi 9 kali kebakaran sedang dan kecil di Tambora," ujar Djaharuddin, Camat Tambora.

Iklan

"Banyak hunian ini yang semi permanen, sehingga rawan kebakaran. Hampir 80 persen itu terjadinya kebakaran karena arus pendek listrik," imbuhnya.

Saya masuk kawasan Tambora lewat sebuah lorong sempit selebar satu setengah meter. Semakin jauh masuk kawasan tamboran, lorong ini semakin sempit dan bercabang-cabang ke segala arah. Di kedua sisi lorong, berhimpitan bangunan-bangunan rumah—berlantai 2 atau 3, dibuat dari papan tripleks dan seng.

Tak lama berselang, saya bertemu rombongan anak kecil. Mereka senang hati menunjukkan pada saya arah gang paling terkenal di Tambora, Gang Venus—gang yang melegenda lantaran tak tertembus sinar matahari. Bocah-bocah itu menuntun saya melewati jalanan sempit di Tambora yang berkelok-kelok, menuju Gang venus sambil terus bersorak dan tertawa-tawa. Semakin dekat dengan gang legendaris itu, jalan yang kami lalui makin gelap. Seorang wanita, baru saja menuntaskan hajatnya di sebuah WC umum, melihat kamera yang saya bawa. Dia pun langsung meledek saya.

"Banyak orang datang ke sini, ngambil foto doang. Nguntungin dia doang," kata wanita itu. Sinis pada kehadiran saya.

Seorang perempuan lain tak menyia-nyiakan kesempatan nimbrung. Selagi menaiki tangga ke lantai dua rumahnya untuk menjemur cucian, dia menimpali apa yang dikatakan tetangganya.

"Kami baik-baik saja kok di sini," tambahnya. "Tanya aja anak-anak deh. Engga ada yang penyakitan. Di sini, engga sekacau yang kamu pikir."

Saya bisa memaklumi reaksi mereka. Lingkungan seperti Tambora kerap jadi pusat perhatian dengan alasan-alasan yang tidak mengenakan. Media massa di Jakarta berulang kali menggambarkan Tambora sebagai kawasan kumuh, penuh penyakit, dan seakan-seakan dipenuhi keputusasaan. Tambora oleh pejabat provinsi juga beberapa kali dituding sebagai biang kerok banjir di ibu kota saban musim hujan datang.

Pemerintah DKI pernah melakukan serangkaian penggusuran, memindahkan ribuan keluarga dari Tambora. Selain itu, petugas pemprov mengklaim akan membangun 20.000 unit rusun untuk menampung mereka yang kini mendiami Tambora.

Iklan

Masalahnya, unit rusun pengganti ini hanya bisa didiami mereka yang memiliki KTP Jakarta. Mayoritas penduduk Tambora tak memiliki KTP. Alhasil, hak mereka pindah ke unit rusun mendekati nihil. Tentu, mereka bisa menyewa bangunan di salah satu rusun. Namun, mereka harus membayar uang sewa ke pemerintah DKI. Belum lagi, unit-unit rusun yang disediakan pemerintah DKI dibangun di pinggiran Jakarta, jauh dari tempat mereka bekerja dan komunitas yang mereka bangun. Pilihan bertahan mengontrak rumah di Tambora lebih masuk akal bagi para penduduk.

"Di Kecamatan Tambora, 30-40 persen penduduknya adalah pendatang," ujar Djaharuddin. "Jadi bisa dibayangkan tantangan kami yang menjadi masalah sosial ini kebanyakan para pendatang tadi."

Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memerintahkan setidaknya 10 kali penggusuran sejak dia resmi menduduki posisi DKI-1. Semua upaya penggusuran oleh pemrov diwarnai bentrokan antara warga dan pihak berwenang. Saya bertanya pada seorang warga—perempuan ini menolak disebut namanya—jika dia khawatir digusur dalam waktu dekat.

"Nanti kita ke mana lagi?" ujarnya sembari melontarkan pertanyaan retoris. "Lihat [penggusuran] di TV, kita jadi takut juga. Kita kan bukan setahun dua tahun. Kita sudah berpuluh-puluh tahun di sini, saya saja udah 33 tahun."

Sebagaimana penghuni Tambora lainnya, dia mengaku pernah hidup bersama orangtuanya—tidur bergantian dalam di lantai dua rumah yang sempit.

"Saya punya tiga anak, mau nambah jadi empat," imbuhnya. Mengontrak rumah, karenanya, lebih masuk akal untuk mengurangi beban perekonomiannya.

Iklan

Anak-anak kembali menarik tangan saya. Mereka kebelet membawa saya ke Gang Playboy—sebuah gang lokasi favorit anak-anak pembuat onar di Tambora nongkrong.

"Mereka biasanya yang tawuran," Kata Doni, anak berumur 11 tahun selagi kami menyusuri gang. Pemuda-pemuda senior mereka itu, disebut bocah-bocah tadi, sebagai biang kerok.

"Nyopet, jambret, maling motor, begal, tawuran, tapi yang dari gang saya nggak ada sih. Palingan sih kadang-kadang kita nge-BM," kata Hendrik, bocah lain, menjelaskan istilah mereka menumpang bak belakang truk yang melewati ruas jalan Tambora.

Anak-anak di Tambora selalu dibiarkan orang tua masing-masing berkeliaran jam berapapun. Menariknya, ini bukan karena bapak dan ibunya ogah mengurus. Sebaliknya, maraknya bocah keluyuran menjadi solusi bagi penghuni setiap rumah.

Kebutuhan lahan di Tambora sangat tinggi. Pekerja perantau tinggal di Tambora selama beberapa bulan sebelum kembali ke kampung halaman, atau pindah ke kota lain. Sangat wajar bila keluarga di Tambora terpaksa tidur bergantian, sehingga keluarnya satu anak berkeliaran akan memberi ruang bagi anggota keluarga lain. Persoalannya, bocah-bocah tadi rentan terlibat berbagai tindakan kriminal.

"Monitor terhadap perkembangan anak dan pertumbuhan anak itu kurang. Karena pengaruh lingkungan, maka banyaklah kasus-kasus sosial itu timbul seperti narkoba, tawuran tanpa kendali orangtua itu terjadi karena tidurnya bergantian," urai Djaharuddin.

Saya menyetop bajaj biru, meninggalkan kawasan Tambora. Dari jendela bajaj, saya mendapati pemandangan khas urban—penjual pisang di pinggir jalan, kemacetan, dan tumpukan sampah.

Meski tidak seluas dan sebesar India, kawasan kumuh Jakarta tersebar di berbagai penjuru. Keberadaannya kerap tersembunyi di celah-celah yang ditinggalkan gegasnya proses pembangunan ruang-ruang komersial—terutama memepet gedung yang sedang dibangun, di sepanjang pinggiran sungai dan dibalik apartemen-apartemen merah. Namun, kawasan kumuh bagaimanapun adalah wilayah sementara—kantong-kantong kemiskinan di sebuah kota yang terengah-engah berusaha memoles dirinya.

Ambil contoh di Mega Kuningan, kawasan elit Jakarta Selatan yang dihiasi hotel bintang lima dan bar kelas atas. Belum sampai empat tahun lalu, di balik Mega Kuningan tersembunyi kawasan kumuh selama bertahun-tahun, berlokasi di balik tembok semen yang mulai rapuh. Jalan menuju kawasan itu begitu sempit. Tapi, pengendara motor kerap memanfaatkannya sebagai jalan tikus, melewati sekelompok kambing yang merumput dan rumah-rumah yang mungil.

Sampai kemudian kawasan ini lenyap begitu saja. Gantinya: sebuah papan iklan mempromosikan gedung kantor baru. Hari-hari ini, penggusuran dan penghancuran terus terjadi di Jakarta.

Tambora masih selamat, setidaknya saat ini. Namun, entah kapan, dia sangat mungkin bernasib sama seperti wilayah kumuh lainnya: hilang, tak pernah dilihat, dan terlupakan.