Mullah, Skatepark, dan Baju Desainer KW: Mengintip Iran Modern
Travel

Mullah, Skatepark, dan Baju Desainer KW: Mengintip Iran Modern

Ada jutaan hal menarik yang bisa kita temukan di Iran. Iran adalah sebuah negeri tempat berbagai pandangan kontradiktif bisa hidup berdampingan.
1.12.16

Kedua orangtuaku berasal dari Iran. Meski begitu, keluargaku tak pernah tinggal di Negeri Para Mullah ini. Kami cuma kembali ke Iran kalau ada perlu, mengunjungi beberapa kerabat misalnya. Kunjungan keluarga masih sering kami lakukan ketika aku kecil. Seiring bertambahnya usia, kunjunganku ke kampung halaman orang tua semakin jarang terjadi.

Tak ayal, darah Iran yang mengalir di tubuhku bukanlah identitas yang aku banggakan. Darah Iran ini cuma bagian sejarah keluarga saja.

Iklan

Awal tahun ini, aku baru sadar, ternyata sudah 15 tahun berselang sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di Iran.

Masjid Shah di Alun-Alun Naqsh-e-jahan, Isfahan

Aku memutuskan kembali ke negeri nenek moyangku.

Sah-sah saja jika kalian menyebut lawatanku kali ini sebagai usaha "menelusuri kembali asal-usulku." Klise memang. Sejatinya, Aku hanya ingin memahami Iran. Aku ingin membuktikan apakah informasi yang kuterima tentang Iran benar adanya. Nyatanya, ada informasi yang terbukti benar. Sementara sisanya, desas-desus yang tidak tepat.

Iran adalah sebuah negara yang penuh kontradiksi. Iran punya beragam wajah yang muncul bergantian. Pada akhirnya, Iran adalah sebuah negeri tempat berbagai pandangan bisa hidup berdampingan.

Teheran

Coba perhatikan 'aturan' baju perempuan yang pantas. Di Iran, tubuh perempuan adalah sebuah gelanggang politik. Selama 100 tahun ke belakang, jilbab atau penutup kepala pernah dilarang. Sedangkan di rezim yang lain diwajibkan. Semuanya tergantung siapa yang berkuasa. Di Teheran, ibu kota Iran, jangan kagat kalau kamu melihat perempuan mengenakan baju ala Barat—yang berbau Iran cuma roosari yang ia pakai—sedang menunggu di peron kereta. Di sebelahnya, seorang perempuan lainnya memakai cadar yang menutup seluruh tubuhnya.

Barangkali ada penjelasan yang lebih ilmiah mengapa Teheran penuh beragam kontradiksi, tapi aku belum beruntung menemukannya. Aku menduga keragaman ini bisa menyeruak karena Teheran adalah kota yang padat. Ada 12.500 penduduk di setiap satu km persegi di Teheran. Ini setara tiga kali tingkat kepadatan penduduk di seluruh Inggris.

Iklan

Ada hal yang menarik ketika pertama kali sampai di Teheran. Salah satu nasehat yang pertama kali sampai ke kupingku adalah, "jangan naik mobil antara pukul 4 sore dan 9 malam." Belakangan aku sadar, saran semacam ini penting, mengingat lalu lintas di Iran parah sekali. Data menunjukkan 25 orang tewas di jalanan Iran tiap harinya. Mau tahu penyebab kematian mereka? Polusi udara.

Di jalanan yang melintasi pegunungan Alborz

Banyak orang bermigrasi ke Teheran selama kurun 30 tahun ke belakang. Mereka berasal dari pedesaan Iran. Mereka pindah ke kota menghindari kesulitan ekonomi. Untuk mencegah masalah sosial akibat kelebihan penduduk, pemerintah Teheran berusaha merelokasi lima juta orang. Sebagai iming-iming, mereka menawarkan insentif finansial yang menggiurkan dan beberapa kompensasi lainnya. Di sepanjang jalan menuju daerah di luar Teheran, kompleks pemukiman gersang berserakan di sisi bukit. Sepintas, kompleks pemukiman itu tampak seperti kota hantu.

Restoran di pegunungan Alborz. Letaknya tepat di sisi jalan antara Teheran dan Sari. Layanan, kualitas makanan dan perkakas makan yang digunakan bisa dibilang semenjana. Namun, semuanya bisa dimaafkan karena, setidaknya, bangunannya dibuat seluruhnya dari marmer.

Vakil Bazaar di Shiraz

Shiraz adalah salah satu kota tertua di Iran. Bazaar-e Vakil adalah pasar tertua di Iran, konon didirikan pada abad ke 11—penelitian terbaru menyimpulkan pasar ini "baru" muncul pada tahun 1760an. Sebagai seorang berdarah Iran yang lahir dan besar di Selandia—dengan seorang ayah yang punya celana lari yang lebih tua dari bangunan mana pun di Selandia Baru—, aku membayangkan nenek moyangku pernah keluyuran mondar-mandir lorong-lorong pasar ini beberapa abad lalu. Yang tak bisa aku lupakan dari pasar itu: cara pedagang menata rempah-rempah yang didagangkan di sana.

Produk ZARA asli, bukan KW, di Shiraz

Konsumerisme di Iran pernah dikecam sebagai budaya barat yang buruk. Meski demkian, konsumerisme menjamur di Iran. Barangkali Iran sudah belajar dari orangtua yang anaknya sudah beranjak dewasa: sesungguhnya tak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah anak muda menghabiskan uangnya.

Di daerah antara Shiraz dan Isfahan

Sebenarnya, aku tak merencanakan perjalananku lewat jalan darat. Tepatnya, ini adalah imbas dari perencaaanku yang acak-acakan. Bus yang kutumpangi jalannya lelet. Untung pelayanannya kelas satu. Petugas bus membagikan cemilan yang kualitasnya dapat nilai 7 (nilai maksimal 10 tentunya). Sementara, kuantitasnya dapat nilai sempurna: 10.

Isfahan

Isfahan pernah jadi kota metropolitan di jalur sutra dan kerap dijuluki "setengah dunia." Aku menyaksikan dua orang siswa SMA beraksi dengan sepeda gunung di sebuah lapangan, yang dibangun di masa kejayaan imperium Romawi. Mereka mengolok-olok aksen Farsiku yang ganjil. Setidaknya mereka cukup berbaik hati mengundangku nongkrong di lapangan, sepulang sekolah. Ali (kiri) bermimpi jadi astronot, Hussein (kanan) ingin jadi pro dirt bike rider.

Isfahan, Rumah Bersejarah Bekhradi

Perumahan pribadi dari abad 17 dibangun pada masa Safavid. Kini, rumah ini diubah jadi butik seksi. Dalam fantasi orientalisku, aku membanyangkan jadi mandor yang hidup di rumah itu. Sebelum akhirnya sadar, kalaupun aku hidup di jaman itu, nasibku paling banter jadi pembantu di rumah ini.

Masjid Sheikh Lotfollah Mosque di lapangan Naqsh-e-jahan Isfahan.

Di abad 18, ibu kota Iran dipindahkan dari Isfahan ke Teheran. Alhasil, kegemilangan Esfahan meredap. Namun, ada berkah yang tersembunyi dari meredupnya Esfahan: monumen-monumen kuno di kota itu masih perawan. Monumen kuno kini tengah dipugar oleh arsitek dan seniman Iran masa kini guna mengembalikan pamor kota Eshafan di mata publik internasional.

Ada yang menarik dari kubah masjid ini. Di tengah sebuah kota yang terobsesi segala sesuatu yang simetris—barangkali Wes Anderson pernah jadi konsultan tata kota Isfahan—terdapat masjid dengan kubah yang letaknya tidak persis di tengah. Aku menantikan surel dari orang yang bisa menceritakan sejarah kubah ini.

Ab-o Atash Skatepark, Teheran

Rollerblade masih populer di Ab-o Atash, satu-satunya gelanggang skateboarding di Teheran. Skatepark ini juga jadi rumah untuk sebuah budaya skate dan BMX yang sedang tumbuh di Iran. ketika aku menyinggahinya, ada beberapa eksekutif muda nongkrong di pinggir lapangan, memberi tepuk tangan melihat seorang skater bisa melakukan trik yang hebat.

Teheran, Tajrish Bazaar

Altar dadakan seperti menjamur di seluruh Iran di bulan Muharam—warnanya selalu hijau muda. Altar-altar ini didirikan guna menghormati mereka yang tewas selama perang Iran-Iraq tahun 1980-an. Selain menelan banyak korban, perang itu juga nyaris membikin bangkrut kedua negara. Dampaknya masih terasa dalam perkembangan ekonomi politik Iran 30 tahun kemudian.

Grand Bazaar Teheran.

Iran menjadi contoh paling kentara dari negara yang tak mengakui hukum hak cipta: muka George Clooney dalam sebuah bungkus pencukur jenggot listrik. Deretan toko di pasar menawarkan tumpukan kantong belanja bermerk H&M, Louis Vuitton, dan Adidas. Sebuah lorong dalam sebuah toko penuh berisi dengan tag pakaian bertulis Gucci, Versace, dan "Made in China." Aku mencoba membeli beberapa tag saja. Malang nasibku, mereka mau menjualnya hanya dalam format kiloan.

Kafe Gol-e Rezaieh Teheran

Selama 70 tahun, Gol-e Rezaieh kerap disamakan dengan kafe-kafe kenamaan di Paris macam Le Select atau Cafe de Flore—tempat nongkrong penulis, pemikir dan penulis di Iran. Salah satu pelanggan kafe ini adalah penulis kontroversial Sadegh Hedayat (kerap dianggap sebagai Kafka-nya Iran. Mahakaryanya The Blind Owl dilarang terbit karena kerap menerbitkan hasrat ingin bunuh diri). Setelah diamati lebih seksama, foto-foto yang digantung di temboknya tenyata foto Queen. Sementara itu, CD Greatest Hits Mariah Carey diputar tanpa henti lewat pengeras suara.

Darband, Teheran

Orang Iran terkenal gemar mendekor. Bahkan, daging cincang juga tak bisa selamat dari hasrat mendekor kami.

Filband, Provinsi Mazandaran

Dalam perjalananku menuju Filband, aku menemukan gunung-gunung yang sepertinya dicaplok langsung dari Swiss. Fillband kesohor dengan nama "desa di atas awan." Seperti desa-desa cantik di belahan bumi lainnya, Filband adalah mimpi basah dari para pengelola vila liburan sekaligus mimpi buruk pada arsitek.

Filband, Provinsi Mazandaran.

Warga Iran gemar piknik. Di sebuah negara yang terus didera sengatan matahari, kerusuhan dan beragam bencana lainnya selama ribuan tahun, piknik adalah kunci. Kalau sudah urusan piknik, orang Iran rela bertualang berkilo-kilo meter jauhnya dan naik gunung setinggi.

Merogoh kocek untuk membeli kebab dan bensin? Tak pernah jadi masalah.

Foto perempuan di taman Teheran dekade 70an.

Ini foto yang kebetulan aku temukan ketika berkunjung ke Iran. Yang kanan itu ibuku, ketika masih berusia kira 18 atau 19. Di sebelahnya, saudarinya sekaligus teman curhat terbaiknya. Keduanya terkenal karena kecantikan dan kecerdasan mereka. Belakangan, fakta baru terungkap. Ibuku pernah punya CV "nyentrik" dalam hidupnya. Ketika berumur 7 tahun, Ibu punya peliharan sebuah ayam jantan. Entah beroleh ilham dari nama, Ibu menamainya "Colonel Jesus."

Dahsyat!

Iklan

Follow Roya Azadi di Instagram.

Shiraz

Bangunan kosong tapi ramai di Shiraz

Masjid Vakil di Shiraz

Chehel Sotoun di Isfahan

Stasiun kereta Teheran

Teheran

Pusat belanja di Isfahan

Vakil Bazaar di Isfahan

Penulis dengan salah satu teman barunya di at Vakil Bazaar