Saya menghabiskan malam pergantian tahun di Pulau Derawan, Kalimantan Timur. Niat awalnya sih untuk menjauhkan diri dari keramaian kota. Saya ingin menghabiskan malam tahun baru dari hiruk pikuk, mengakrabi kesendirian. Dalam bayangan awal, saya mungkin akan menghadiri pesta bersama nelayan setempat, menikmati ikan segar yang baru didapat dari laut, serta menemani ibu-ibu setempat mempersiapkan sarapan keesokan harinya. Wajar saja bila saya berpikir demikian. Perairan sekitar Derawan memiliki 800 spesies ikan, tapi total penduduk hanya 1.259 orang. Artinya, walau jadi tujuan wisata yang populer, ini pulau yang sepi kan?
Asumsi saya keliru besar. Memang tidak ada DJ pada malam tahun baru di Derawan. Tak banyak turis juga di pinggir pantai. Namun perlahan, semakin mendekati pukul 00.00, sekelompok orang memutar lagu-lagu yang bisa mengajak kita bergoyang melalui sound system raksasa. "Hello" dari Adele serta "Rude"-nya Magic! diputar berselang-seling dengan dangdut dan irama funkot yang agresif. Ratusan nelayan dan anak muda setempat segera tumpah ruah di pinggir pantai Derawan. Dalam waktu singkat, beberapa nelayan menggotong peti kotak es, berisi puluhan kaleng bir. Sebagian lagi menembakkan kembang api ke langit malam, sembari menghitung mundur momen pergantian tahun.
Perayaan ini memang tak berlangsung semalam suntuk (sesuai aturan pemerintah setempat). Tapi harus diakui, warga Derawan jagonya pesta gila-gilaan.
