Berita

Manusia Terus Menyebabkan Kerusakan Lingkungan 7.000 Tahun Terakhir

Masyarakat kuno di Sungai Yordan ternyata dulu juga mencemari lingkungan ketika menambang perunggu. Intinya, setelah tujuh milenium, umat manusia masih sama kelakuannya.
6.12.16
https://www.vice.com/id_id/article/epgyd7/deddy-corbuzier-sebar-teori-konspirasi-soal-virus-corona
Sumber foto: Sue Haylock/Barqa Landscape Project

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Manusia selalu memiliki kecenderungan menganggap perairan sebagai tong sampah raksasa. Kita bisa saja membuang ingus dan sampah ke perairan dan, secara ajaib, mereka akan menghilang atau setidaknya mengapung lalu terbawa arus ke tempat lain. Masalahnya, air kotor membawa penyakit bagi manusia dan hewan. Sebagaimana dicontohkan oleh insiden banjir sampah jarum suntik—pada 1980 limbah medis dan sampah memenuhi beberapa pantai di sepanjang kota New York—kita harusnya sudah paham: segala kejorokan kita, pada akhirnya kembali ke kita.

Iklan

Kanal air tercemar adalah sebuah fenomena yang hampir identik dengan era industrial modern. Tetapi, nampaknya mencemari air sudah menjadi kebiasaan manusia untuk waktu yang sangat lama.

Sekelompok antropolog manca negara telah menemukan bukti atas sungai tercemar yang paling tua dalam sejarah manusia. Ternyata, manusia telah mencemari sungai yang berlokasi di Jordan Selatan itu, dengan tembaga sekitar 7,000 tahun silam. Temuan ini menunjukkan bahwa kita telah mengotori lingkungan kita sejak zaman baheula. Di sisi lain, temuan ini menyibak sebuah titik revolusioner dalam sejarah manusia: saat manusia berhenti membuat perkakas dari batu, dan mulai membuatnya dari logam. Temuan itu diterbitkan dalam Science of the Total Environment.

Bagaimana manusia kuno mulai merakit perkakas dan senjata dari logam, rinciannya masih kabur. Sehingga, para antropolog mencari petunjuk dari sebelum Zaman Perunggu yang mengisyaratkan eksperimen dengan api dan bijih besi. Demi menemukan petunjuk itu, mereka rela membersihkan seluruh wilayah Wadi Faynan di Jordan Selatan.

Di tepian sungai yang kini telah kering, para antropolog menemukan sedimen yang tercemar oleh tembaga kira-kira 7,000 tahun silam. Temuan ini mengindikasikan bahwa peradaban saat itu meleburkan tembaga di sekitar aliran sungai.

Para ahli metalurgi di masa itu boleh jadi membuat tembaga dengan menyampurkan batu bara dengan tembaga hijau-kebiruan (umumnya ditemukan di wilayah tersebut) lalu membakar campuran tersebut di dalam cawan dari tanah liat. Proses ini sangat intens, jadi kebanyakan manusia kuno lebih memilih membuat manik-manik atau perangkat upacara daripada perkakas.

"Populasi itu sedang bereksperimen dengan api, dengan tanah liat, dengan bijih tembaga, dan ketiga komponen ini adalah bagian penting dari produksi awal besi tembaga dari bijihnya," ujar antropolog Russell Adams, dari Universitas Waterloo di Kanada. "Wilayah ini adalah rumah bagi revolusi industri pertama di dunia," ia menambahkan. Tentunya, revolusi itu bukan tanpa ganjaran.

Limbah dari peleburan tembaga, dikenal dengan istilah ampas bijih, mencemari air di sungai yang, pada akhirnya, diserap oleh tanah. Kelamaan, orang-orang di Faynan membangun tambang tembaga dan tungku di Zaman Perunggu, dan membuang ampas bijih dalam jumlah banyak ke kanal air. Unsur-unsur sintetis seperti arsenik, merkuri, dan talium dalam ampas bijih tersebut kemudian diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang akhirnya dikonsumsi oleh manusia dan hewan ternak.

Menurut Adams, dampak negatif dari keracunan logam di populasi itu kemungkinan besar meluas. Infertilitas, malformasi, dan kematian dini yang dipicu oleh keracunan logam, melanda para manusia kuno.

7,000 tahun kemudian di Amerika Serikat, bahkan dengan peraturan yang dirancang untuk melindungi kita dari polusi, pencemaran logam masih menjadi masalah utama bagi kesehatan manusia. Misalnya, kandungan timbal yang tinggi dalam air minum penduduk di Flint, Michigan. Kalau sudah begitu, perlu diakui bahwa setelah 7,000 tahun, kita masih begini-begini saja.