Ngobrol Bersama Kolektor Foto Halte Bus Uni Soviet Terbanyak Sedunia
Foto oleh Chris Herwig.
Fotografi

Ngobrol Bersama Kolektor Foto Halte Bus Uni Soviet Terbanyak Sedunia

Chris Herwig terobsesi dengan bentuk halte bus unik dari negara pecahan Soviet. Dia ingin lebih banyak orang melihat dan mengapresiasi keindahan halte-halte tersebut.
29 November 2017, 6:29am

Chris Herwig adalah fotografer yang terobsesi dengan bentuk halte pemberhentian bus dari negara-negara pecahan Uni Soviet. Saking terobsesinya, dia sekarang mengembangkan koleksi foto pemberhentian bus era Soviet terbesar di dunia. Dia sempat meluncurkan sebuah kampanye di Kickstarter untuk menyatukan foto-foto tadi menjadi sebuah buku.

VICE ngobrol bersama Herwig untuk memahami obsesinya pada halte.

VICE: Gimana ceritanya kamu mulai terobsesi sama halte bus dari era Soviet?
Chris Herwig: Bentuknya tuh keren banget. Aku awalnya mengira halte ya ada bentuk standarnya, enggak bisa diubah-ubah. Eh, arsitek pemerintahan Soviet ternyata keren banget. Mereka seakan bilang, "oke, kamu butuh halte bus? Nih kami bikinkan yang enggak "standar."

Ada kawanku dari Latvia yang menceritakan anekdot populer semasa federasi komunis masih berdiri. Katakanlah kamu pergi dari satu wilayah di ujung Uni Soviet ke ujung lainnya. Kamu akan mengunjungi sebuah kantin, lalu memesan ayam goreng ala Kiev. Ayam Kiev itu rasanya akan sama dengan yang kamu dapatkan di Riga, bahkan di Vladivostock. Itu seperti mereka hanya punya satu jenis ayam kiev, ngerti enggak sih? Semua kayak...

Mcdonalds gitu, rasanya standar?
Iya. Jadi kalau rasanya kayak sampah, makanan itu otomatis jadi sampah buat semua orang. Tapi karena satu dan lain hal, ternyata kasusnya di Soviet tidak sama dengan halte bus. Halte ternyata kesempatan bagi para seniman Soviet pada masa itu untuk mencari nafkah, salah satu dari sedikit pilihan menyalurkan kreasi buat mereka. Para seniman Soviet akan mengambil materi dan ide seliar dan seekstrem mungkin, lalu mewujudkannya dalam bentuk pemberhentian bus buatan mereka.

Ironisnya, halte-halte itu terletak di lokasi yang sepi. Orang-orang bahkan tidak menggunakannya. Beberapa dari halte tadi bentuknya aneh, terlalu gelap, atau memang tidak menarik sama sekali. Sebagian bentuknya seperti halte bus normal lainnya, ada juga yang mencoba terlihat keren walaupun enggak segitunya. Halte-halte unik dari Soviet ini berhubungan dengan keinginan si seniman atau komunitas lokal untuk berkreasi terhadap pemberhentian bus di wilayah mereka. Halte-halte era Soviet lebih berguna atas kehadirannya sebagai seni publik, untuk menghibur penduduk kota.

Di beberapa jalan tol negara-negara pecahan Soviet, ada pemberhentian bus berukuran besar tiap 500 meter, tanpa ada rumah atau perkampungan atau apapun di sekitarnya. Ada juga beberapa jalan tol yang lokasinya membelah ladang jagung, kemudian di tengah antah berantah itu akan berdiri halte bis. Gila enggak. Halte tanpa ada akses ke perumahan atau perkampungan. Susah rasanya memahami mengapa di era Soviet yang terkenal sebagai rezim tidak ingin terlihat lebay, dan mementingkan fungsionalitas, para perencana transportasinya malah fokus mendukung pembangunan halte-halte tadi.

Dalam buku ini, aku berusaha menunjukan desain halte Soviet terbaik dari yang terbaik. Kalau yang bentuknya menyedihkan…nantilah, koleksi foto halte bus menyedihkan bisa buat buku lain.

Halte di Rokiskis, Lithuania

Kamu tahu sejak kapan halte unik dan nyeni dibuat oleh Uni Soviet? Apa alasan negara komunis itu mendanai proyek tersebut?
Menurutku halte-halter tersebut memang dirancang sebagai seni instalasi yang bisa ditampilkan di muka umum. Kreativitas seniman cukup terbatas untuk mengakali fungsi pemberhentian bus. Beberapa dari mereka akhirnya mempromosikan budaya lokal, seperti di Kyrgyzstan. Ada beberapa halte yang bentuknya seperti topi Kirghiz.

Tapi, kebanyakan itu kayak, mereka tuh ngapain sih anjrit? Kenapa mereka pengen pemberhentian bus yang mewah? Aku betulan enggak paham, kalau boleh jujur. Ada beberapa lokasi yang, orang waras juga mikir ngapain dikasih halte keren di tempat kayak gitu. Kamu biasanya mikir, halte semewah ini ya biasanya ditaruh di kawasan permukiman elit. Di Soviet justru sebaliknya.

Itu halte-haltenya beneran dipakai atau enggak sih? Bus kota beneran menurunkan atau menerima penumpang dari sana?
Ya tentu saja dulu bus di rute tersebut akan mampir. Kalau halte desa, sepertinya yang dicari adalah orang-orang yang berkerja di lahan pertanian atau semacamanya. Aku pernah mengambil foto orang-orang berdiri dekat halte-halte unik Soviet. Mereka tidak berteduh atau menunggu di halte itu, tapi justru berdiri tepat di sebelahnya.

Kamu menghabiskan bertahun-tahun memotret halte-halte Soviet. Sebagian orang mungkin kamu woles banget, pergi ke berbagai negara cuma buat motret halte. Pernah dapat hambatan enggak selama menjalankan proyek dokumentasi halte ini?
Di Lithuania, saya melihat sebuah mini-bus berhenti dan supirnya keluar. Dia sebenernya engga neriakin aku, cuma dia tidak mau aku mengambil foto pemberhentian bus. Padahal haltenya tuh keren banget! Bentuknya kayak sekop. Keren lah pokoknya, bentuknya garis dari semen lengkung dan beberapa tiang. Di dalamnya terdapat banyak sampah, dan sekitarnya suram.

Di beberapa negara aku menyewa taksi, terutama yang agak tua. Niat pertama agar bisa ditemani warga lokal, karena aku berpikir mereka dapat membantuku mencari pemberhentian bus yang keren. Kupikir penduduk setempat tahu seluk beluk soal halte, namanya juga mereka orang yang sudah tinggal di wilayah itu 60 tahun terakhir, masak enggak ngerti di mana halte yang unik sih? Eh, ternyata mereka bener-bener gak tau apa-apa. Kami harus pergi ke kafe para sopir taksi. Selama berjam-jam mereka akan menguras otaknya mencari halte seperti yang aku mau, lalu kita akan pergi menyusuri jalan tol hingga melewati satu pemberhentian bis dan aku akan STOP STOP STOP dan mereka akan berkata, "oalah, kamu tuh mau motret halte yang ituuuu."

Ada juga pengalamanku berburu halte di Abkhazia, yang bukan sebuah negara walaupun punya batas wilayah sendiri dan mereka telah memerintah secara otonom selama 20 tahun. Abkhazia mencoba merdeka dari Georgia. Si sopir taksi yang mengangkutku sering ngomel soal pendapatannya yang kecil. Lalu, setelah tahu, aku memotret, dia minta dibayar lebih besar. Keberadaanku di negara itu bukan sebagai fotografer, jika dia melapor ke pihak yang berwenang, aku apasti ditangkap karena tak punya izin resmi. Dia meletakan jari tangan dekat kepalanya seperti pistol, untuk mengatakan kalau aku seharusnya memberi tambahan $20,000. Bayar lebih mahal atau berdiri di depan regu tembak. Tidak ada orang Abkhaz yang bisa melintasi perbatasan Georgia dan dia sedang mengantarku ke perbatasan, jadi mungkin dia berasumsi bahwa saya adalah seorang mata-mata Georgia. Gila ya. Akhirnya aku bayar saja dia.

Selama di Abkhazia, banyak orang enggak suka banget sama kegiatan fotografer atau jurnalis. Aku harus menggunakan dua kartu. Satu kartu palsu untuk mengelabui polisi, sedangkan kartu pers yang sebenarnya aku simpan di saku celana.

Halte di Saratak, Armenia

Perjalanan memotret halte era Soviet apakah mengubah pandanganmu soal ideologi komunis?
Aduh bung, pertanyaanmu itu buruk sekali. Tidak adil rasanya menyamakan komunisme dengan Uni Soviet. Tapi apakah pengalamanku ini mengubah pandanganku tentang Uni Soviet? Iya dong. Keberadaan halte-halte unik tersebut menghapus stereotipe orang Soviet. Selama rezim komunis berkuasa, nyatanya tetap ada orang-orang yang melakukan hal-hal gila menyenangkan. Saya yakin, desainer halte itu adalah orang-orang yang mudah nyambung kalau diajak ngobrol dan mudah kamu pahami. Mereka bukan Stalin atau Lenin, mereka hanya orang-orang biasa yang bersenang-senang dan berusaha dapat uang.

Mengapa kamu tidak mengambil foto orang-orang saja seperti yang dilakukan seorang fotografer normal?
Aku mengambil foto orang-orang sebelum aku mulai memotret halte. Aku tinggal di Kazakhstan dan menghabiskan banyak waktu dengan orang-orang disana. Mereka sangat ramah, tapi kadang teralu ramah. Mereka ngajak kamu minum vodka banyak banget sebelum jam 8 pagi. Mereka gila sih. Di suatu kampung di Kazakhstan utara, aku sedang shooting untuk profil sekolah di bawah naungan PBB. Sebelum sekolah mulai, si kepala sekolah yang berumur 80 tahunan dengan tongkat di tangannya berdiri diseberangku. Dia berkata, "KAMU MINUM! AMBIL MINUMANNYA!" Disuruh mabuk coy, hahahahahaha....

Mereka orang-orang yang sangat menyenangkan dan tulus. Kamu akan diundang ke perkemahan mereka di perbukitan, tidur di lantai, dan mereka punya tumpukan tikar di lantai. Ketika sudah waktunya tidur, kamu menggelar tikarnya. Itu asyik. Aku jelas kangen sama keramahan mereka.

@carlylearson

Karakol, KyrgyzstanChris Herwig

Taraz, KazakhstanChris Herwig

Saratak, ArmeniaChris Herwig

Saratak, ArmeniaChris Herwig

Rokiskis, LithuaniaChris Herwig

Pitsunda, AbkhaziaChris Herwig

Pitsunda, AbkhaziaChris Herwig

Niitsiku, EstoniaChris Herwig

Lelyukhivka, UkraineChris Herwig

Kootsi, EstoniaChris Herwig

Gagra, AbkhaziaChris Herwig

Falesti, MoldovaChris Herwig