Film

7 Film Ini Akan Membuatmu Merasakan Perjalanan Lintas Dimensi Waktu

Dalam film-film yang kami kurasi berikut, masa depan, kini, dan masa lalu berbenturan, berkelindan, sehingga penonton merasa dibawa ke alam mimpi.
26.11.17

Artikel ini pertama kali tayang di Amuse.

Seiring waktu, kita menyerap dan menyimpan wajah-wajah dan lokasi dari film tua dan baru. Ada yang kita suka, ada juga yang mengerikan. Setiap film menawarkan sebuah jendela untuk kabur sementara menembus waktu—realita kita untuk sementara diubah lewat adegan yang terekam dari era berbeda. Narasi keluar dari konteks aslinya, membentuk cerita baru. Karakter dari film-film yang sulit dilupakan mendobrak ruang waktu. Tahu gak sih film mungkin sudah mencuri beberapa ratus jam hidup kita?

Iklan

Sepanjang bulan November dan Desember, sebuah galeri di Inggris bernama Barbican mengkurasi program yang menawarkan harta karun sinema yang telah berhasil mendobrak konsep waktu. Program ini akan menampilkan film-film dengan tema perjalanan waktu, atau halusinasi, tipe-tipe film yang sangat aneh secara narasi hingga kamu kehilangan konsep waktu. Ketujuh film ini jadinya sulit dilupakan. Berikut 7 film yang mungkin akan mempengaruhi persepsimu akan waktu, memori dan mimpi.

Things To Come

Sutradara: William Cameron Menzies (1936)

Terinspirasi oleh pergerakan Bauhaus dan didaulat sebagai film dengan desain klasik, desain masa depan mewah yang terinspirasi oleh novel H.G. Wells menunjukkan kita kadang betapa ekstrem visi futuristik manusia. Dibuat dalam era ketika semuanya masih hitam putih, sangat aneh rasanya menonton film sains-fiksi dalam layar hitam-putih.

“Apa yang ratusan tahun ke depan akan bawa ke dalam peradaban manusia?” tulis poster film dari 1930an tersebut. Ini adalah modernitas technicolor yang diprediksi dalam layar hitam putih.

A Matter of Life and Death

Sutradara: Michael Powell dan Emeric Pressburger (1946)

Kalau kamu belum pernah menonton film ini, berarti kamu belum benar-benar hidup. Direkam menggunakan teknik Technocolor, film ini akan mengagetkanmu dan membuatmu sadar bagaimana film ini bisa terlihat lebih bagus dibanding banyak film HD tahun 2017. Di luar itu, kisah tentang kekasih yang tidak bisa bersama (seorang pilot tentara yang ingin bersama dengan kekasih barunya namun dipanggil oleh utusan Tuhan untuk menghadap) adalah plot klasik yang tidak kenal waktu.

Film ini masuk ke ruang langit dan menunjukkan bagaimana waktu kita di bumi dan akhirat sulit dibedakan. Tema yang ringan sekaligus mendalam.

Eden and After

Sutradara: Alain Robbe-Grillet (1969)

Dengan mengambil lokasi syuting di gurun Tunisia, film fantasi eksperimental ini terinspirasi oleh karya visual dari Klee hingga Duchamp, dan sutradara film menghidupkan foto-foto lewat cerita tentang mimpi aneh yang disebabkan oleh penggunaan substansi.

Sekumpulan makhluk cantik menduduki tanah kosong semuanya mulai keluar kendali—semua disempurnakan oleh spektrum Eastmancolor (versi murah Technicolor). Film ini berhasil menangkap dengan sempurna memori kabur yang bercampur dengan mimpi yang kadang muncul tiba-tiba dalam pikiran manusia.

Drawing Restraint 9

Sutradara: Matthew Barney (2005)

Banyak orang mungkin terobsesi dengan karya sutradara besar Rusia, Tarkovsky, dan nama-nama besar filsuf sinema dari dekade lampau saat membicarakan karya sinema bertema lintas waktu. Padahal era 2000-an justru menawarkan beberapa film yang paling eksperimental dan tidak kenal waktu lewat karya Matthew Barney ini. Pada 2005, dia bekerja sama dengan istrinya saat itu, Björk, untuk menciptakan lagi-lagi kisah perjalanan abstrak.

Secara tematik, Barney menggunakan ide “keterbatasan sukarela” dan upacara keagamaan dalam cerita tentang dua warga negara Barat yang berlayar ke Antartika menggunakan kapal penangkap ikan paus milik Jepang. Sang sutradara secara sabar menunjukkan ritual upacara dan sejarah tradisional, sementara deretan imej akan tertancap dalam ingatanmu.

Nostalgia For the Light

Sutradara: Patricio Guzmán (2010)

Suatu ketika di antah berantah (padahal baru tujuh tahun yang lalu), seorang sutradara dokumenter berhasil menceritakan penjajaran antara prediksi akurat astronomi tentang kemanusiaan dan pergumulan warga Cili yang hobi menatap bintang paska era diktator. Sembilan puluh menit tentang pararelisme digambarkan secara apik dan magis. Menyesakkan nafas bagaimana kontras antara kelimpahan waktu di gurun Atacama dan kekejaman diktator disajikan bersamaan.

Film ini membahas berapa banyak waktu yang dibutuhkan sinar untuk kembali menyinari hal-hal yang terjadi dengan sangat cepat, dan yang juga terjadi sangat lama. Setelah menonton ini, pandanganmu akan konstelasi bintang tidak pernah akan sama lagi.

Victoria

Sutradara: Sebastian Schipper (2015)

Victoria adalah film yang menangkap esensi sebuah malam panjang di Berlin. Direkam dalam real time dalam sekali jalan, film thriller yang scoringnya dibikin oleh Nils Frahm ini menceritakan seseorang yang menghabiskan malam di Berlin dalam klub-klub tekno moody dan afterparty. Apa yang terasa seperti neraka abadi sebetulnya hanya berdurasi dua jam, mengingatkan kita bagaimana sinema bisa mengubah persepsi kita tentang waktu.

Menonton film ini akan memberikan kita kesan yang samar tentang kehidupan malam Berlin—atau lamunan bagi yang belum pernah merasakan. Nuansa film yang tidak nyaman terasa lebay namun juga anehnya familiar.

By The Time It Gets Dark

Sutradara: Anocha Suwichakornpong (2016)

Sutradara Thailand Suwichakornpong menciptakan film seni yang rumit namun juga aksesibel. Siapapun yang menikmati gaya penceritaan yang berani dan aneh perihal ambisi, ketenaran, dan pribadi penuh pesona akan terhibur dari awal hingga akhir film. Apalagi bagian yang membicarakan tentang momentum ingatan dan psikokinesis.

Menonton visi sutradara ini adalah cara yang memuaskan untuk menghabiskan satu setengah jam menyaksikan masa hidup seorang pahlawan.