Perubahan Iklim

Ilmuwan Memburu Kristal Langka di Gua Untuk Memahami Proses Perubahan Iklim

Kristal-kristal ini terbentuk 30 ribu tahun lalu, ketika lapisan permafrost mencair di Zaman Es terakhir. Kristal tersebut menyimpan data penting soal karakter perubahan iklim Planet Bumi.
9.12.19

Setelah merangkak masuk ke dalam Gua Shatter, pengunjung akan disuguhkan pemandangan indah dinding berkilau dan bongkahan batu mineral yang tergantung di atasnya. Isi dalam gua tampak sudah sangat tua.

Medan Gua Shatter yang sempit adalah hal sepele buat Gina Moseley. Ahli Paleoklimatologi di Universitas Innsbruck Austria ini sudah menjelajahi gua sejak 12 tahun.

Dia mempelajari usia gua lewat inti es, inti sedimen atau lingkar pohon karena dapat memberikan pandangan akan perubahan iklim di masa lalu. Iklim gua mencapai rekor tertua 600.000 tahun lalu.

Kunjungannya ke Gua Shatter di barat daya Inggris yaitu untuk mencari kristal-kristal kecil dari pelelehan permafrost selama Zaman Es terakhir.

Iklan

24 persen wilayah Belahan Bumi Utara diselimuti permafrost. Ilmuwan memperkirakan permafrost mengandung dua kali lipat jumlah karbon di atmosfer. Cepatnya pencairan lapisan es akibat perubahan iklim melepaskan karbon yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Pencairan menyebabkan pemanasan yang pada akhirnya membuat permafrost semakin meleleh.

Ilmuwan belum tahu pasti kapan ini akan terjadi. Itulah mengapa sebagian besar penelitian iklim dilakukan untuk memahami dan memprediksi seberapa cepat perubahannya di masa lalu dan masa depan.

Gina menggunakan penanggalan radiometrik untuk menentukan usia kristal-kristal di Gua Shatter. Dari sini, dia bisa mempelajari bagaimana permafrost merespons perubahan iklim ribuan tahun lalu. Kristal-kristal ini juga memberikan petunjuk akan perubahan iklim di masa depan.

Dari kristal yang diamati, Gina memperkirakan bebatuan kristal di Gua Shatter berusia 30.000 tahun.

Tonton video dokumenter kami soal upaya tim ilmuwan Austria tersebut di tautan awal artikel ini.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News