Terorisme

Abu Sayyaf Dikabarkan Bakal Kembali Rajin Culik Pelaut Indonesia dan Malaysia

Menyandera pelaut adalah lahan bisnis bagi kelompok teroris Filipina itu, WNI berulang kali jadi korban. Akibat info intelijen ini, pemerintah RI dan Malaysia semakin waspada mengawasi perairan Sabah.
5.9.19
Abu Sayyaf Dikabarkan Bakal Kembali Rajin Culik Pelaut Indonesia dan Malaysia di Laut Sulu Teroris
Anggota kelompok teroris Abu Sayyaf di salah satu pulau tersembunyi kawasan Sulu, Filipina. Foto dari Palang Merah Filipina via Reuters

Pemerintah Indonesia dan Malaysia tengah waspada terhadap pergerakan kelompok teroris Abu Sayyaf di sekitar perairan utara Pulau Kalimantan. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sabah, Malaysia kemarin mengeluarkan peringatan adanya pergerakan kelompok bersenjata dari Filipina Selatan di sekitar perairan Malaysia.

Informasi dari KJRI di Sabah, kelompok Abu Sayyaf memasuki perairan Malaysia pada 30 Agustus. Dalam laporan tersebut, Abu Sayyaf diduga menyasar kapal pengangkut batu bara, nelayan, dan tanker. Namun saat ini belum dilaporkan adanya penculikan. Menanggapi peringatan itu, otoritas keamanan Indonesia saat ini terus bersiaga.

Komandan Pangkalan Utama TNI AL di Tarakan, Kalimantan Utara Laksamana Pertama Judijanto mengatakan pihaknya tetap melakukan patroli laut seperti biasa di jalur perdagangan strategis. Dia juga mengimbau pelaut untuk menghindari jalur rawan.

"Itu sebatas warning saja bahwa ada pergerakan seperti itu. Bukan akan terjadi sesuatu," kata Judijanto dilansir media lokal. "Targetnya biasa kapal pengangkut batu bara, kapal ikan dan kapal lain yang jalannya lambat."

Iklan

Sementara otoritas keamanan Malaysia Komando Keamanan Sabah Timur Malaysia (ESSCom) saat ini sedang memperketat pengamanan di bagian pantai timur Sabah yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Komandan ESSCom, Hazani Ghazali, dilansir Malay Mail mengatakan informasi tersebut kurang akurat. Namun, dia tetap menginstruksikan peningkatan pengamanan meski belum ada laporan pergerakan maupun ancaman.

"Kami akan selalu waspada dan siap terhadap ancaman kriminal apapun, terutama yang berkaitan dengan Abu Sayyaf di perairan negara. Tetapi hingga kini belum ada pergerakan," ujar Ghazali.

Abu Sayyaf, kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Timur Tengah, berbasis di Jolo dan Basilan serta telah aktif sejak 1991 dengan misi mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Untuk mendanai operasinya, anggota Abu Sayyaf kerap menculik wisatawan asing dan nelayan demi mengincar uang tebusan. Pada 2000, diduga kelompok Abu Sayyaf mendapat total uang tebusan antara US$10-US$25 juta, menjadikannya kelompok teroris paling kaya di kawasan Asia Pasifik.

Awalnya, nelayan Indonesia dan Malaysia yang berbasis di sekitaran Kalimantan bagian utara tak pernah menjadi target penculikan karena dianggap memiliki kesamaan kultur, ras dan agama. Namun itu semua berubah di awal 2016, ketika 14 anak buah kapal asal Indonesia diculik antara Maret-April.

Deka Anwar, peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflicts (IPAC), mengatakan awal mula penculikan WNI adalah sebuah ketidaksengajaan. Anak buah kapal yang diculik itu tengah berada di kapal berbendera Malaysia yang dipercaya milik pengusaha keturunan Cina. Namun sikap pemerintah Indonesia yang gampang membayar tebusan terbukti membuat kelompok Abu Sayyaf ketagihan menculik WNI. Bagi mereka, pemerintah Indonesia tidak ribet dalam negosiasi, berbeda dengan pemerintah negara Barat.

Iklan

"Kelompok Abu Sayyaf menganggap orang Indonesia sebagai sesama Muslim," tulis Deka dalam laporannya. "Mereka dianggap miskin. Apapun alasannya, respons pemerintah Indonesia atas penculikan itu justru memicu serangkaian penculikan lain ke depannya."

Saat itu pemerintah Indonesia menyangkal adanya pembayaran tebusan untuk membebaskan nelayan. Namun, ada dua kelompok yang bergerak sendiri untuk membebaskan sandera. Satu tim dari Yayasan Sukma milik Surya Paloh dan satu lagi tim bentukan perusahaan logistik atas desakan Jenderal Gatot Nurmantyo di bawah kepemimpinan Kivlan Zein. Pada Mei, semua sandera telah dibebaskan.

Tak berapa lama, tepatnya pada akhir Juni tahun yang sama, 13 ABK lain dari sebuah kapal tongkang yang tengah menuju Samarinda, Kalimantan Timur diculik lagi oleh militan Abu Sayyaf. Demikian seterusnya, hingga terakhir tiga orang sandera berhasil kabur saat terjadi penyergapan militer Filipina pada April 2019, setelah diculik pada September dan Desember 2018. Sayangnya, satu orang sandera bernama Hariadin asal Wakatobi, Sulawesi Tenggara, tewas tenggelam saat berupaya kabur dari penyergapan.

Sejak 2016, perairan Sulu menjadi kawasan paling berbahaya buat perdagangan menurut Biro Maritim Internasional (IMB). Predikat itu awalnya dipegang oleh perairan timur Afrika, namun sejak 2011 kasus perompakan dan penculikan turun signifikan.

Sejak penculikan marak di awal 2016, pihak keamanan Indonesia, Filipina dan Malaysia mengadakan patroli gabungan di bawah komando Trilateral Maritime Patrol (TMP). Namun IPAC berpendapat patroli gabungan tersebut tak cukup untuk menghentikan aksi militan Abu Sayyaf, yang kerap beroperasi dengan kapal motor cepat dengan bersenjata lengkap.

"Kerjasama militer tiga negara tidak memiliki efek jera yang signifikan," kata Deka. "Jika dilihat lagi, diperlukan langkah non-militer. Perlu dipahami pula bahwa Abu Sayyaf disatukan oleh klan dan budaya. Jadi ketika panglima mereka tewas; anak, saudara, atau siapapun bakal angkat senjata, dengan motivasi balas dendam dan profit."