fesyen dan agama

Pameran yang Satu Ini Menunjukkan Keragaman dalam Fesyen Hijab

Peserta pameran de Young Museum, San Francisco ini beragam, mulai dari hijabista pemula hingga perancang sekelas Oscar de la Renta.
27.9.18

Contemporary Muslim Fashions adalah sebuah pameran baru yang digelar di de Young Museum, San Francisco sekaligus pameran pertama yang mencoba menjabarkan kekayaaan fesyen muslim global. Menurut rilis pers resminya, tujuan pameran ini adalah “menyelidiki bagaimana perempuan muslim—yang mengenakan hijab atau tidak—telah menjadi penentu tren mode di dalam serta di luar komunitas muslim. Berkat merekalah, muncul ketertarikan variasi dan nuansa dalam kehidupan sehari-hari perempuan muslim.”

Iklan

Contemporary Muslim Fashions menampilkan busana hasil rancangan desainer baru hingga rumah-rumah fesyen terkemuka.

Foto milik museum de Young

Selama ini, perempuan muslim dan “hijabista” berjuang memeroleh perhatian yang setara dan representasi yang adil dalam dunia fesyen. Hijabista, kependekan dari hijab fashionista, seperti The Hijab Stylist memutuskan untuk mengisi sendiri kekosongan representasi perempuan muslim di kancah muslim global dengan meluncurkan label clothingnya sendiri. Dolce & Gabbana tak mau ketinggalan. Baru-baru ini, rumah mode terkenal itu meluncurkan 16 koleksi hijab dan abayanya. Lalu, tahun lalu, Nike memperkenalkan Nike Pro Hijab, hijab khusus yang diperuntukan untuk aktivitas olahraga sementara Max Mara, brand fesyen asal Italia, menyewa model muslim Halima Aden untuk memeragakan busana buatan mereka di atas catwalk sembari menggunakan hijab—keputusan yang memancing perhatian banyak pemerhati mode dunia.

Bulan Februari lalu, Max Mara kembali mengulangi langkahnya. Bahkan kali ini, Aden tampil bersama pendatang baru Amina Adan. Sayang, langkah ini tak beroleh respon berarti. Ironisnya lagi, langkah-langkah untuk memasukan hijab ke arus utama fesyen dunia kerap masih kerap dinilai kontroversial.

Photo courtesy of the de Young Museum.

Lebih jauh lagi, pameran ini juga menyoroti produk garmen dari komunitas diaspora di Amerika Serikat. Desainer asal Brooklyn Céline Semaan Vernon dari Slow Factory serta Saiqa Majeed daari Saiqa London, adalah dua contoh yang menunjukkan bagaimana migrasi dan perpindahan tempat tinggal bisa membentuk praktek sosial dan beragam, serta bentuk busana. Slow Factory baru-baru ini bahkan berkolaborasi dengan American Civil Liberties Union (ACLU) untuk menggarap sejumlah busana guna merespon kebijakan travel ban Donald Trump.

“Di saat perempuan muslim dijadikan target gara-gara memilih fesyen yang mempertegas identitas dan independensi mereka, kami berharap pameran ini bisa memberikan penilaian positif kepada komunitas yang sering diperbincangkan namun tak pernah diberi kesempatan untuk bicara dan mempresentasikan dirinya,” jelas Gisue Hariri, salah satu dari dua bersaudari asal Iran yang merancang galeri yang digunakan dalam pameran ini, kepada Associated Press.

Mau tahu lebih jauh soal pameran itu? klik di sini.