Masa Kecil Kita Rusak

Maaf Masa Kecilmu Rusak, T.Rex Kabarnya Tak Bisa Lari Cepat Kayak di Film

Dua riset independen terhadap fosil Tyrannosaurus Rex menunjukkan bintang 'Jurassic Park' ini berjalan lebih lambat dari bayangan orang.
19.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

"Kami mencatat T.Rex bisa berlari 51 kilometer per jam," kata John Hammond, karakter pemilik Jurassic Park yang diperankan Sir Richard Attenborough. Kata-kata itu diucapkan Hammond bagi pengunjung taman dinosaurusnya yang belum buka. Tyrannosaurus Rex, dinosaurus predator dalam film yang disutradarai Steven Spielberg ini, menjadi bintang utama yang akan memikat anak-anak di seluruh dunia sampai dua dekade kemudian. Salah satu adegan yang dikenang banyak orang adalah kengerian saat T.Rex—julukan sang karnivor—berlari mengejar jeep berisi tokoh utama film Jurassic Park. Adegan itu menjadi salah satu momen kejar-kejaran paling ikonik dalam sejarah sinema dunia.

Adegan T.Rex bisa berlari cepat itu kemudian selalu terpatri dalam benak kita, termasuk ketika sosoknya yang jago lari kembali diulang di Jurassic World. Film Hollywood membentuk persepsi kita mengenai cara hidup hewan karnivora yang sudah punah jutaan tahun lalu.

Sayang seribu sayang. Kemungkinan kita harus mengubur persepsi yang terbangun sejak kecil tentang T.Rex. Berdasarkan dua penelitian independen yang baru saja dilansir di Jurnal Nature Ecology & Evolution dan PeerJ, disimpulkan bila T.Rex mustahil bisa berlari di atas 50 kilometer per jam, seperti cerita Jurassic Park. Berlawanan dengan semua gambaran Hollywood, T.Rex dari struktur tulangnya hanya bisa berjalan pelan sekali, paling banter cuma 20-29 kilometer per jam. Benaran, itu kecepatan yang lamban. Usain Bolt, si atlet lari pemenang Olimpiade, saja bisa lari 45 kilometer per jam, sementara cheetah jauh lebih kencang lagi mencapai 96 kilometer per jam. Hancur sudah ingatan kita soal T.Rex sang pelari era Jurassic. Di film kesannya doi bisa ngejar Jeep. Padahal Jeep Wrangler kayak di filmnya Spielberg itu kecepatan maksimalnya 144 kilometer per jam. Waduh.

Iklan

Kepala Penelitian T.Rex yang dimuat Jurnal PeerJ, William Sellers, menjelaskan metode perhitungan kecepatan lari sang dinosaurus memakai simulasi multi-body dynamics. Profesor di University of Manchester's School of Earth and Environmental Sciences, ini meminjam pula perhitungan algoritma dari metode machine learning dan mengukur tekanan yang bisa diterima oleh fosil T.Rex. "Dengan begitu kami bisa menghasilkan rekonstruksi anatomi paling lengkap dari T.Rex", tulisnya dalam pengantar penelitian tersebut.

Rekonstruksi T.Rex berjalan. Sumber gambar: 2017 Sellers et al.

Berdasarkan simulasi kaya data itu, Sellers dan kawan-kawannya, menemukan hasil perhitungan yang menunjukkan pangkal tumit T.Rex mustahil bisa menahan beban tubuhnya apabila berlari kencang. Tulang kakinya bisa patah. Karnivora ini bobotnya mencapai 9 ton, sementara tulang lututnya hanya dapat menahan beban untuk berjalan rata-rata 15 kilometer per jam seharian. Berdasarkan hitungan Sellers, mustahil T.Rex bisa berlari melebihi angka 20-an kilometer per jam. Pemahaman baru ini mengubah pandangan ilmuwan terhadap evolusi dan kebiasaan Tyrannosaurus sesama hidupnya.

"Penelitian kami menyimpulkan mustahil bagi T.Rex untuk mengejar mangsanya," kata Sellers saat saya hubungi via email. Dia bilang T.Rex adalah pemburu dinosaurus herbivora yang sama-sama lamban, misalnya Hadrosaurus. Kalaupun sasarannya bisa bergerak cepat, T.Rex berarti melakukan perburuan dengan cara menyergap sasaran dari titik yang tak disangka-sangka, tanpa mengandalkan kecepatan kaki. Asumsi lain yang diperoleh Sellers dan kawan-kawannya dari penelitian ini adalah kemungkinan T.Rex memanfaatkan bobot tubuhnya untuk melawan karnivor pengincar daging lainnya di era Jurassic, bukannya berlari dengan kecepatan tinggi.

Iklan

Kesimpulan serupa soal T.Rex diperoleh oleh Myriam Hirt, Zoolog di German Centre for Integrative Biodiversity Research dari Kota Leipzig. Peneitiannya dipublikasikan dalam Jurnal Nature Ecology & Evolution awal pekan ini.

Hirt dan timnya memperoleh data meyakinkan, bahwa hewan dengan ukuran raksasa tidak akan memiliki kecepatan gerak di alam liar. Secara umum, kecepatan justru adalah kompensasi atas ukuran tubuh sedang atau kecil, seperti yang dimiliki cheetah dan elang. Pola di alam ini, menurut kesimpulan Hirt, sebetulnya juga sudah terjadi di era dinosaurus. Penelitian Hirt memperkirakan Velociraptor kemungkinan besar jauh lebih cepat dari T.Rex, dengan kecepatan lari mencapai 27 kilometer per jam.

Dua kesimpulan penelitian itu bukan sesuatu yang baru. Makalah di Jurnal Nature pada 2002 oleh John Hutchinson sudah memperkirakan bahwa buntut T.Rex yang berotot akan membuatnya lebih efektif sebagai hewan pejalan lamban, dibanding pelari. Sesudah penelitian satu dekade lalu itu, berbagai telaah lain digagas oleh para ilmuwan. Kesimpulannya semakin jelas belaka: T.Rex sebetulnya dinosaurus yang jalannya sehari-hari memang nyantai abis.

Walau salah satu ingatan masa kecil sudah dirusak para ilmuwan, Sellers berusaha menghibur kita semua. Dia bilang, T.Rex tetaplah karnivor berbahaya, yang gigitannya dapat membunuh dinosaurus lain tanpa perlu kejar-kejaran dulu.

"T.Rex kami perkirakan punya masa tumbuh 20 tahun lebih. T.Rex remaja jauh lebih tinggi dari ukuran manusia dewasa, dan justru di periode itu kemungkinan dia paling cepat berlari. Jadi tetap saja, menjadi mahluk yang hidup di era Cretaceous ketika T.Rex menguasai bumi tidaklah aman," kata Sellers.

Untunglah, dengan semua penelitian ini, citra T.Rex di seluruh dunia sebagai karnivor sangar era dinosaurus belum pudar. Ya rusak sedikit, tapi masih akan dikenang selama-lamanya dalam budaya pop. Kecuali, kalau nanti ada film yang nekat memakai hasil penelitian terbaru menggambarkan T.Rex punya bulu. Duh, dinosaurus ada bulunya benar-benar mimpi buruk.