Elppin dari Bali perhiasan untuk payudara
Semua foto dari arsip Elppin
perhiasan

Desainer Perhiasan Sukses Mendefinisikan Ulang Tradisi Telanjang Dada di Bali

Inspirasi seri bra berupa perhiasan rancangan Carina Hardy adalah kebiasaan perempuan Bali bertelanjang dada di masa lalu.
02 Maret 2019, 8:30am

Barisan lahan padi yang menguning dan pedesaan yang dipenuhi pohon anggur menjalar pernah jadi lahan bermain Carina Hardy. Itulah Bali yang selalu dia kenang.

Seniman sekaligus desainer perhiasan berdarah campuran Kanada-Amerika itu menghabiskan masa kecilnya di Pulau Dewara. Masih kuat dalam ingatannya kenangan bermain dengan anak-anak Bali di sejumlah desa dekat Desa Ubud—yang terkenal atas karya seni dan kerajinannya.

"Selama berabad-abad, perempuan Bali bekerja dan hidup bertelanjang dada."

"Dulu perempuan dewasa berjalan bertelanjang dada di Bali adalah pemandangan biasa," ujar Carina, 22 tahun, yang membagi waktu dalam setahun untuk tinggal di New York dan Desa Sayan, Bali. "Saya kadang sering melihat mereka jalan berduyun-duyun menuju sungai dengan kayu bakar dan cucian di kepala mereka. Dulu, saya begitu terkesan dengan keanggunan dan postur mereka."

1550145763542-Elppin-Jewellery-Composite

Para model mengenakan perhiasaan Elppin. Foto dari arsip Elppin

Selama beberapa abad, perempuan Bali bekerja, membersihkan rumah, dan hidup bertelanjang dada. Kemurnian di balik laku hidup ini—yang konon berhenti dipraktikan akibat aturan yang ditetapkan kolonial Belanda, disusul kedatangaan pasukan Jepang pada Perang Dunia II, serta akhirnya pengaruh budaya global abad 21—menginspirasi Carina menciptakan perhiasaan yang semata-mata fungsinya menghiasi payudara perempuan.

Elppin—alias Nipple (puting dalam Bahasa Inggris) yang dieja terbalik—adalah bra sekaligus perhiasaan perak disebut di Celuk, pusat pembuatan perhiasan emas di Bali. Perhiasan ini hasil kolaborasi perajin perak setempat bersama Carina.

Bali Era 90'an Adalah Surga Yang Kita Rindukan

Idenya bermula dari bros puting perempuan—yang ditempelkan dengan magnet dan didesain dikenakan tepat di atas puting seakan menjadi baju zirah bagi puting. Kini, koleksi Elppin sudah jauh berkembang, mencakup banyak produk seperti liontin puting, kancing, anting berbentuk tamang, kalung dan gelang.

Semua produk ini dibuat berdasakran motif puting yang abstrak, harganya berkisar Rp1 juta - Rp5,2 juta. Sebagian hasil penjulan produk Ellpin didonasikan kepada sebuah klinik bersalin gratis di Bali, tempat Carina menjadi sukarelawan saat masih remaja.

1550144809907-Elppin-Bali-breast-jewellery-4

Perajin Elppin sedang bekerja di kawasan Celuk. Foto dari arsip Elppin

"Saya merancang semua koleksi Ellpin untuk mengajukan satu pertanyaan 'kenapa kita menyensor puting perempuan?'" kata Carina. Jawabannya: karena masyarakat barat terlanjur menjadikan payudara obyek seksual. Bagi masyarakat Bali, payudara lebih dipandang sebagai obyek vital bagi penyedia nutrisi bayi dan anak-anak. Lebih jauh, bertelanjang dada terasa sangat nyaman, ungkap jurnalis asal Bali Maya Kerthyasa.

"Perempuan Bali selalu bekerja keras, dan kadang mereka harus bekerja atau membuat sesajen sambil menyusui anak mereka. Bayimu bakal lebih mudah menemukan puting jika kamu bertelanjang dada," kata Maya. "Sejak kecil, saya terbiasa melihat nenek bertelanjang dada di halaman rumah di depan teman, kerabat dan orang asing. Ini mengajarkan satu hal: payudara adalah simbol kehidupan bukan nafsu seksual."

Carina lahir di keluarga besar perajin perhiasan. Jadi, tak aneh bila setelah mengelarkan pendidikannya di Columbia University, New York dan Goldsmiths University, London, Carina membuka bengkel perhiasan guna mewujudkan visinya sendiri.

Kedua orang tua Carina, John dan Cynthia Hardy, meluncurkan merek perhiasaan John Hardy pada 1975. Sampai kini, John Hardy tetap menjadi salah satu merek perhiasan paling diperhitungkan. Baru-baru ini, John Hardy berkolaborasi dengan model Inggris, Adwoa Aboah.

Keduanya juga tercatat sebagai pemilik Bambu Indah hotel yang terletak di antara bangunan dari bambu dan rumah kayu jati berarsitektur Jawa, terletak di Ubud

1550144846056-Elppin-Bali-breast-jewellery-3

Perajin tengah bekerja di bengkel Elppin. Foto dari arsip Elppin

Terlepas dari latar belakang Carina, produk Ellpin punya daya magis tersendiri lantaran diciptakan di pulau yang sangat menjunjung ritual keagamaan dan menghormati makhluk halus. "Orang Bali percaya bahwa kecantikan yang tercipta dari tangan manusia adalah inkarnasi Tuhan," kata Carina saat menjelaskan bagaimana Ketut dan dirinya mencapai satu kata tentang pesan-pesan yang terpendam dalam produk Ellpin.

"Ketut sangat terinspirasi oleh payudara perempuan dan bilang hasil tempaan palunya bervariasi karena perbedaan arwah kreatif yang merasuk saat menggarap tiap produk yang berebda," kata Carina. "Kami juga sering bercanda bahwa dirinya bisa bekerja bertelanjang dada di bengkel sementara saya tidak."

1550144895973-Elppin-Bali-breast-jewellery-5

Tiap keping Elppin diklaim Carina unik 'sebagaimana payudara itu beda-beda bentuknya." Foto dari arsip Elppin

Carina tak menggunakan cetakan yang seragam. Jadi, tiap produk memiliki bentuk yang unik. "Seperti payudara perempuan lah," katanya. "Saat produksi berjalan, istri dan putra Ketut ikut memotong kuningan sesuai dengan bentuk puting produk Ellpin. Keduanya juga ikut mengamplas, menempa dan mematri."

Laman Instagram Ellpin yang mempromosikan keanggunan, keberanian dan imej positif kini mulai menarik perhatian perempuan dari seluruh penjuru dunia.

"Saya terus berinteraksi dengan semua orang—dari seorang remaja hinga ibu-ibu yang membeli produk Ellpin untuk nenek dan teman mereka," katanya. "Saya harap saya bisa menciptakan sesuatu yang membebaskan payudara yang bebas dari imej melulu seksual dan menghubungkan kita semua dengan daya magisnya."


Lisa Scott adalah jurnalis lepas yang membagi waktunya untuk tingal di tiga kota: London, Barcelona dan Margate. Lisa bisa dihubungi lewat Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di Amuse