Transportasi Online

Marak Booking Fiktif Bukan Cuma Ulah Anak Iseng, Ini Persoalan Laten Bisnis Transportasi Online

Kasus 185 pesanan fiktif dilakukan bocah asal Sukoharjo memang ngeselin. Tapi jangan salah, banyak kasus booking fiktif di Asia Tenggara, seringkali tujuannya lebih bengis.
GOJEK GRAB memprotes tarif aplikasi rendah di depan DPR
Pengemudi ojek online dari GO-JEK dan GRAB memprotes tarif yang rendah di depan DPR. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters

Seorang bocah remaja di Kabupaten Sukoharjo, kota kecil 10 kilometer sebelah selatan Kota Solo, memperdayai ratusan pengemudi transportasi online yang melayani jasa pengiriman makanan di kota. dalam salah prank delivery makanan paling menyebalkan tahun ini. Remaja 14 tahun ini membuat 185 pesanan fiktif makanan melalui aplikasi Grab Food selama tiga pekan. Semua pesanan tadi ditujukan ke berbagai alamat tetangganya secara acak.

Iklan

Aksi remaja itu mulai terkuak, akibat datangnya puluhan kotak ayam goreng dari sebuah restoran cepat saji ke Maryanto, salah satu tetangganya. Maryanto tidak pernah merasa memesan makanan tersebut, tapi kemudian merasa kasihan pada pengemudi. Akhirnya ia memutuskan membayarnya dan membagikan 20 kotak ayam goreng yang tidak ia pesan tersebut ke anak yatim.

Tidak jera, remaja ini pun kembali memesan delapan dus serabi, lagi-lagi dikirim ke alamat Maryanto. Kesal karena merasa dikerjai, Maryanto tetap membayar serabi tersebut.

"Atas complain Maryanto, akhirnya driver Grab ini memanggil teman-teman driver lain dan menceritakan Maryanto telah ditipu seseorang yang mengatasnamakan alamat rumahnya,” ujar Kapolsek Grogol, Sukoharjo, Didik Noertjahjo kepada Kompas.com.

Salah satu mitra pengemudi transportasi online melakukan pelacakan pakai aplikasi. Didapatilah jika berbagai pesanan fiktif itu dari satu alamat yang sama.

Akhirnya, pengemudi Grab tersebut memanggil kawan-kawannya sesama pengemudi ojek aplikasi lainnya. Mereka mendatangi rumah si bocah, menuntut permintaan maaf, lalu menyebar rekaman permintaan maaf tadi ke media sosial.

Orang tua bocah itu meminta kasus ini diselesaikan tanpa melalui proses hukum. Polisi setempat mengiyakan dan hanya menyita ponsel si bocah. "Dia mengakui semua yang ditudingkan," kata ayah pelaku kepada awak media. Kenapa bocah yang masih bersekolah di madrasah tsanawiyah itu tega menipu pengemudi ojek online?

Iklan

"Niatnya mau bersedekah, Pak, kepada yatim-piatu," ujar pelaku.

Pesanan fiktif dalam jasa transportasi online di Indonesia bukan hal baru—walaupun yang sampai tipu-tipu ratusan order seperti yang dilakukan si bocah baru sekarang terjadi. Malah ada akun khusus di Instagram, macam @dramaojol.id yang sering jadi pengawas praktik orderan fiktif. Akun tersebut punya lebih dari 900 ribu followers.

Lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) pernah meneliti fenomena pesanan fiktif di pasar transportasi online Indonesia pada 2018. Praktik macam ini ternyata marak. "Pengemudi ojek online yang mendapat order fiktif bisa mencapai dua hingga tiga kali per minggu," kata Bhima Yudhistira Adhinegara selaku peneliti Indef. Modusnya macam-macam. Bahkan ada yang memakai GPS palsu untuk mengakali posisi mitra pengemudi. Kajian lain menyatakan sepertiga pesanan di GO-JEK dan lima persen order Grab di Indonesia fiktif.

Cara-cara curang itu dipraktikan oleh pengemudi yang berusaha mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya, akibat sistem yang cenderung tidak konsekuen menjalin hubungan kemitraan dengan pengemudi. Aplikasi transportasi online bahkan mulai dituding mitra cenderung eksploitatif. Bagi sebagian pihak, sistem poin untuk bonus harian secara tidak langsung mendorong mitra bersikap curang.

Tapi tak semua kecurangan berasal dari pengemudi ataupun ulah iseng. Bahkan, keisengan anak usia belasan di Indonesia itu, jika dibandingkan kasus pesanan fiktif sejenis di kawasan, dari sisi skala tak ada apa-apanya. Kelakuan terduga perusahaan besar yang berniat mengerjai saingan bisa lebih bengis. Di Singapura, misalnya, booking fiktif diduga berasal dari pemain aplikasi sejenis.

Iklan

Pertengahan 2018 lalu, diketahui ada ratusan akun bodong yang sengaja dibuat memfasilitasi order fiktif. Akun-akun palsu tersebut tersebut membanjiri start-up asal Singapura, Ryde Technologies. Selama enam minggu, sekitar 300-an akun bodong membuat 2.000 pesanan fiktif. Hal tersebut diketahui manajemen Ryde saat mitra pengemudinya melaporkan kerugian total hingga mencapai 50.000 Dollar Singapura.

Dalam akun Facebook resminya, Ryde mempublikasikan jejak digital menunjukkan alamat IP yang menjadi asal dibuatnya akun-akun palsu tersebut. Kebanyakan berasal dari area Midview City dan The Herencia. Bahkan salah satu alamat IP yang ditemukan diduga milik salah satu rival Ryde.

Seiring bisnis transportasi online pertumbuhannya naik pesat di Indonesia dan Asia Tenggara, satu per satu cara mitra pengemudi mengelabui algoritma makin sering ditemukan. Hal ini bukan cuma dilakukan oleh anak baru akil balig iseng.

"Manipulasi semacam itu merugikan para pengendara. Selain menimbulkan kerugian materil bagi para pengendara berupa uang untuk bahan bakar, manipulasi tersebut membatasi kemampuan para pengendara untuk mengambil lebih banyak order, karena manipulasi tersebut membuat mereka menghabiskan waktu berkeliling mencari pelanggan yang semestinya bisa mereka gunakan menjemput pelanggan sungguhan," kata tim manajemen Ryde lewat akun Facebook resminya. Merespons kasus tersebut, Grab mengaku terus melakukan investigasi terpisah.

Iklan

Tidak beda jauh dengan Ryde, saingan GrabTaxi di Filipina, Micab, mengalami hal serupa dalam waktu yang berdekatan, pada pertengahan 2018. CEO Micab, Eddie Ybanez menyebutkan sepanjang Juni, Micab menerima sekitar 15 ribu order fiktif dari nomor telepon berurutan. Hal tersebut yang menyebabkan banyak pengemudi Micab enggan mengambil order karena khawatir mengalami kerugian.

Dalam esai yang ditulis Ybanez, apa yang dialami perusahaannya di Filipina hampir serupa dengan pengalaman Ryde di Singapura. Ybanez menuding kompetitor utamanya di Filipina, agar melakukan praktik lebih jujur.

Pendek kata, tindakan anak remaja 14 tahun di Sukoharjo memang merugikan para pengemudi. Tak perlu dibela. Orang tuanya lalai mengawasi perilaku sang anak saat menggunakan ponsel pintar.

Bedanya, bocah yang memesan 185 makanan ini paling banter melakukannya untuk iseng. Sementara, ada pula motif melakukan pesanan fiktif demi keuntungan dalam bisnis ini, baik oleh terduga perusahaan pesaing ataupun mitra. Masalah ini tampaknya masih terus menghantui industri transportasi online selama masih ada insentif ekonomi bagi pihak-pihak yang berusaha mengakali algoritma.