Garda Pangan Berjihad Agar Tak Ada Lagi Makanan di Indonesia Terbuang Sia-Sia

Kontributor VICE Asad Asnawi berkesempatan ngobrol bareng komunitas Garda Pangan di Surabaya. Mereka punya misi mengelola sisa makanan, lalu dibagikan kepada masyarakat prasejahtera.
8.4.19
Ngobrol Bareng Komunitas Garda Pangan, Inisiator Food Rescue asal Surabaya
Contoh sisa makanan yang diselamatkan Garda Pangan. Foto oleh W. Andriana

Seberapa sering kalian menyaksikan makanan terbuang sia-sia? Nasi yang sebetulnya masih layak makan tapi teronggok di tempat sampah. Daging yang belum disentuh sama sekali berakhir di tempat yang sama. Begitu juga roti dari paket snack yang mungkin belum tersentuh, tapi atas aturan yang dibuat sendiri oleh manusia, tak dinikmati oleh mereka yang membutuhkan.

Sebagai pengusaha catering, sisa makanan menjadi masalah rutin Dedhy Trunoyudho. Lelaki 27 tahun ini kerap kesulitan mencari cara memperlakukan sisa-sisa makanan yang jamak didapati, setelah acara yang menyewa jasanya berakhir.

Laiknya kebanyakan pelaku bisnis katering lainnya, semula Dedhy memilih cara instan: membuang semua makanan tadi. Dia tidak perlu lagi keluar biaya dan tenaga lagi untuk mengolahnya. Tidak pula membuang-buang waktu. Dulu dia tak merasa bersalah.

"Dari sisi bisnis, kami tidak perlu keluar uang lagi untuk mengolah sisa-sisa makanan itu. Karena margin keuntungan sudah didapat dari pembayaran klien sebelumnya," kata Dedhy saat ditemui VICE di basecamp Garda Pangan, Jalan Pucang Anom Timur Nomor 5, Surabaya, Jawa Timur.

Persepsi Dedhy soal sisa makanan mulai berubah sejak sang istri, Indah Odivtia, ikut mengelola bisnis katering bersamanya. Melihat sisa makanan dibuang dalam jumlah besar, Indah—sapaan istri Dedhy—merasa tidak nyaman.

Saat ngobrol sepulang dari kegiatan katering tiga tahun lalu, Dedhy dan istrinya akhirnya sepakat mendonasikan sisa makanan yang belum tersentuh. Pertama kali, orang-orang yang dijumpainya di pinggir jalan menjadi sasaran penerima makanan sisa mereka.

Semula, usaha untuk mendonasikan makanan sisa itu asal saja. Tanpa konsep. Setelah bertemu kenalan bernama Eva Bachtiar, yang kebetulan memiliki cara pandang yang sama soal makanan, Dedhy sepakat membuat inisiatif lebih serius. Hasilnya adalah Garda Pangan, yang mulai aktif Juli 2017. Intinya, mereka mendirikan bank makanan yang dirancang sebagai pusat koordinasi makanan surplus dan berpotensi terbuang dari seantero Surabaya. Dia mengumumkan rencananya meminta bantuan sukarelawan lewat medsos dan situs resmi. Tak dinyana, orang yang berminat membantu banyak sekali.

Lambat laun terbentuklah komunitas. Makanan-makanan sisa yang terkumpul, bersama para sukarelawan dia salurkan kepada masyarakat prasejahtera.

Bagaimana teknis mencari makanan sisa yang masih layak konsumsi?

Dedhy biasanya menghubungi banyak pengelola acara (EO) kenalannya, lalu bertanya adakah sisa makanan layak dari acara yang mereka kelola. Tengah malam, Dedhy bersama sukarelawan mendatangi lokasi pernikahan, hingga wisuda. VICE sempat mencoba mengikuti ketika tim Garda Pangan melakukan rescue makanan dari salah satu gerai bakeri di tengah Kota Surabaya. Dengan didampingi koordinator Garda Pangan, relawan menghitung jumlah dan jenis kue yang didapat dari toko roti kelas premium ini.

"Semua proses itu kami lakukan dengan standar higienitas. Semua relawan pakai sarung tangan," kata Dedhy. Jika dinilai layak, makanan itu akan segera didistribusikan ke simpul-simpul masyarakat yang datanya sudah dikantongi timnya.


Tonton dokumenter VICE soal sejarah akulturasi masakan Tionghoa dengan budaya maritim di Indonesia:


Masyarakat yang tinggal di kolong Jalan Tol Dupak-Perak, Surabaya, menjadi salah satu kelompok penerima rutin donasi makanan dari Garda Pangan. Penghuni kolong tol itu jarang sekali memperoleh makanan layak sehari-hari. Komunitas selanjutnya yang disasar adalah pengungsi Syiah, yang terusir dari Sampang. Mereka saat ini tinggal di Rusunawa Sidoarjo dalam kondisi alakadarnya. Total penerima makanan mereka sudah lebih dari 40 ribu orang.

Sisa-sisa bahan mentah yang oleh sebagian orang tidak dipakai, juga ia sasar. Termasuk buka buah atau sayur-sayuran hasil panen, yang tidak bisa masuk toko dan dibuang begitu saja oleh petani. "Padahal, sekalipun tampilannya jelek, ketika dikupas toh isinya sama saja. Rasanya atau nutrisinya juga sama baiknya dengan yang masuk ke toko-toko tadi," ujarnya.

Kadang, Garda Pangan juga melakukan "evakuasi" makanan sisa. Untuk aktivitas macam itu, dia butuh informasi dari calon penyumbang yang tahu ada sisa makanan yang perlu diselamatkan. Aktivitas ini pernah dia lakukan, misalnya, saat menjemput makanan tak tersentuh di suatu acara di Kota Jombang, dua jam perjalanan dari Surabaya.

"Tapi, waktu itu makanan tidak kami bawa ke Surabaya. Setelah kami sortir, makanan yang layak konsumsi langsung kami bagikan ke warga kurang mampu di Jombang juga. Jadi, darimana makanan itu berasal, warga setempat yang kami dahulukan," kata Dedhy.

1553586311342-20190117174748_IMG_2081-01jpeg

Foto oleh W. Andriana.

Kendati berbasis di Surabaya, menurut Dedhy, wilayah kerja Garda Pangan bukan hanya sebatas ibu kota provinsi Jawa Timur ini saja. Begitu juga dengan para relawan. Mereka datang dari berbagai daerah.

Kegiatan food rescue dan distribusi dilakukan dua hari sekali. Untuk mendukung kegiatan ini, pihaknya membuka pendaftaran relawan dua minggu sekali. Para relawan itu selanjutnya akan dibagi, sesuai dengan tanggal kegiatan yang akan mereka ikuti saat mendaftar sebelumnya. Untuk mengapresiasi tingginya animo masyarakat menjadi relawan, Garda Pangan mambatasi relawan hanya bisa ikut dua kegiatan saja, dmei memberi kesempatan kepada orang lain.

VICE sempat ngobrol bareng Nora, salah satu relawan asal Gresik di sela kegiatan distribusi makanan di kampong 1001 Malam, Surabaya. Karyawan perusahaan tekstil ini mengaku mengetahui kegiatan Garda Pangan dari instagram. "Pas lihat kok kayaknya menarik. Ya, saya akhirnya berangkat ke sini untuk coba ikut," kata Nora. Dibawah guyuran hujan, Nora tampak semangat menelusuri gang-gang sempit untuk membagi-bagikan makanan yang didapat dari salah satu toko roti itu.

Karena sekarang makin besar, Garda Pangan juga punya mitra penyuplai sisa makanan. Mitra mereka mencakup restoran, hotel, toko roti, kafe, serta sesama katering. Hingga saat ini, total ada 12 mitra tetap komunitas ini. Garda Pangan menyampaikan laporan pada mitra setiap bulan, berisi informasi jumlah makanan yang diterima dan ke mana saja distribusinya.

Istikamah, salah satu koordinator Garda Pangan mengatakan, calon mitra hanya perlu menyampaikan jenis dan jumlah makanan, serta lokasi pengambilan. Setelah itu, tim relawan akan datang. Sebenarnya tidak ada batasan jumlah minimal makanan yang bisa diambil. Tetapi, biasanya, Garda Pangan bakal berhitung, apakah makanan yang akan diambil sebanding dengan ongkos perjalanan ke lokasi.

"Kami ini kan swadaya ya. Semua biaya operasional dari kantong pribadi kami. Maksudnya berhitung, jangan sampai tim berangkat ternyata makanannya cuma dua nasi kotak," ungkap alumnus Universitas Negeri Surabaya ini.

Konsep Garda Pangan, menurut Dedhy, sangat mungkin diaplikasikan di banyak kota lain. Sebab, di Indonesia, pengelolaan sampah akan bisa lebih murah dikelola bila jumlah makanan terbuang bisa dikurangi. Mayoritas sampah di negara ini adalah sisa makanan, dalam satu tahun diperkirakan jumlah sampah yang masih layak konsumsi mencapai 13 juta ton. Seandainya diolah atau diberikan pada yang butuh, sisa makanan di Indonesia bisa mencukupi kebutuhan nutrisi 28 juta orang.

Perubahan, menurut Dedhy, bisa diperjuangkan asal kesadaran masyarakat sudah muncul. Dari survei yang dilakukan Garda Pangan pada ratusan responden, masih banyak orang belum mengetahui tindakan-tindakan praktis agar turut mengurangi sampah makanan.

"Bayangkan makanan yang masih layak ini harus dibuang, sementara jutaan orang lainnya masih hidup kelaparan."