Evolusi

Psikopat Lebih Unggul Dalam Urusan Evolusi Dibanding Manusia Lain

Sifat-sifat psikopat dan antisosial berpeluang lebih besar menurun gen ke anak cucu. Kesimpulan penelitian terbaru ini bikin merinding sih.
23.5.18
Sumber foto ilustrasi CSA-Archive/Getty Images

Salah satu ciri khas kepribadian antisosial adalah kurangnya perhatian dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Secara intuitif, kamu mungkin menduga seseorang dengan kepribadian antisosial—yang lebih dikenal sebagai sosiopat psikopatik—akan menghadapi kerugian saat harus bereproduksi dan meneruskan gen mereka. Karena, ya, siapa juga yang mau tidur sama psikopat?

Ternyata, pemikiran kayak gitu sepenuhnya salah: Orang dengan kepribadian antisosial ternyata memiliki keuntungan reproduktif dibandingkan semua manusia dengan kepribadian yang lebih lazim. Itulah kesimpulah penelitian dari tim peneliti di Amsterdam.

Gabungan ilmuwan bidang psikologi dan biologi evolusioner itu mencapai kesimpulan tersebut setelah melakukan analisis genetik kompleks terhadap lebih dari 31.000 individu. Secara khusus, mereka menilai apa yang disebut korelasi genetika antara ciri-ciri antisosial dan hasil reproduksi (yaitu, usia saat kelahiran pertama dan jumlah anak yang dilahirkan). Dengan kata lain, apa yang dilakukan para peneliti adalah melihat seberapa banyak tumpang tindih yang ada di antara gen yang terkait dengan kepribadian antisosial, dibandingkan gen yang terkait dengan bereproduksi secara dini dan sering.

Iklan

Hasilnya menunjukkan tumpang tindih genetik signifikan. Artinya gen diasosiasikan dengan sifat antisosial berkolerasi erat sama gen terkait reproduksi usia dini dan jumlah anak lebih banyak. Dengan kata lain, temuan ini menunjukkan gen apapun yang bertanggung jawab atas kurangnya empati juga sekaligus bertanggung jawab untuk menghasilkan peluang reproduksi lebih besar.

Jadi, apa yang terjadi di sini? Salah satu cara untuk memahami temuan ini adalah dengan mempertimbangkan hasilpenelitian sejenis sebelumnya, yang telah mengindikasikan pengidap psikopat cenderung mengambil risiko lebih besar dibandingkan manusia lain. Misalnya, mereka minum lebih banyak alkohol, menggunakan lebih banyak narkoba, dan memiliki lebih banyak pasangan seksual, dan lain sebagainya.

Hal ini diduga berasal dari fakta psikopat memiliki tingkat pengendalian diri yang lebih rendah, yang telah ditunjukkan, salah satunya, oleh kecenderungan mereka mengutamakan keuntungan jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Misalnya, ketika ditanya apakah mereka lebih suka mendapat Rp1 juta hari ini atau Rp100 juta dalam setahun, psikopat adalah jenis orang yang tidak bersedia menunggu. Mereka menginginkan uang mereka (dan banyak hal lainnya dalam hidup) sekarang juga.

Pola keseluruhan yang kita lihat di sini adalah bahwa orang-orang dengan ciri-ciri antisosial tampaknya menjalani kehidupan yang lebih cepat daripada orang lain—mereka hidup untuk hari ini, bukan besok. Pada akhirnya, pendekatan ini tampaknya memberikan keuntungan reproduktif: risiko besar yang diambil seorang psikopat menggiring mereka untuk mulai bereproduksi lebih awal dan dalam jumlah yang lebih besar.

Temuan-temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa sifat yang tidak diinginkan secara sosial, seperti psikopati, belum mati dalam populasi manusia. Sebaliknya, mengapa sifat ini terus ada—dan bagaimana jumlah orang dengan sifat-sifat ini terus meningkat seiring waktu.

Evolusi adalah konsep yang lucu dan ironis. Dalam arti bahwa sifat-sifat yang diturunkan tidak selalu merupakan sesuatu yang kita anggap bagus atau bermoral.

Iklan

Meskipun bayangan anak cucu kelak punya lebih banyak sifat psikopat membuat kita tidak nyaman, nyatanya itulah sifat-sifat yang membantu manusia terus bereproduksi sampai sekarang. Sifat kayak gitu jangan dikaitkan dengan nilai sosial zaman sekarang. Ini sekadar sifat yang cenderung diturunkan ke generasi selanjutnya untuk mempertahankan keberadaan manusia, tidak kurang tidak lebih.

Begitulah. Ketika generasi penerus kelak punya sifat "psikopatik" dibanding kita sekarang, enggak perlu pusing atau kaget. Kan kita sudah bilang, evolusi memang konsep yang lucu sekaligus ironis.


Justin Lehmiller adalah seorang peneliti di The Kinsey Institute dan penulis blog Sex and Psychology . Buku terbarunya berjudul Tell Me What You Want: The Science of Sexual Desire and How It Can Help You Improve Your Sex Life . Follow dia di Twitter via akun @JustinLehmiller .

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic .