Indonesia 2038

Mungkinkah di Tahun 2038 Warga Jakarta Tak Lagi Bisa Berjalan Kaki?

Lewat cerpen 'Heels of Apocalyptic End', penulis Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie meramalkan kelak di Jakarta semua orang tak lagi bisa dan mau berjalan kaki. Kami bertanya pada ahli apakah mungkin itu terjadi?
5.1.18
Ilustrasi. Kecelakaan mobil di Jepang oleh Shuets Udono via Wikimedia Commons

Artikel ini dibikin untuk jadi penyanding dari cerita pendek karangan Ziggy Z. yang ia tulis untuk Pekan Fiksi VICE: Indonesia 2038. Cerpen berjudul 'Heels of Apocalyptic End' itu mengambil Jakarta sebagai latar. Di Jakarta kelak, menurut Ziggy, semua orang ke mana-mana naik mobil, tak ada yang mau ataupun bisa berjalan kaki. Lewat artikel ini, kami berusaha menjawab seberapa besar imajinasi Ziggy tentang kehidupan di Jakarta pada 2038 terealisasi? Simak apa kata pengamat dan ahli soal itu.


Kerusakan ekologis, buruknya kualitas udara, infrastruktur masyarakat yang kacau, dan ledakan populasi yang tak bisa dibendung. Jakarta adalah latar kota yang mengerikan. Di masa depan para penghuni Jakarta kelak tak lagi bebas melakukan yang hal yang sebelumnya bisa dilakukan. Menghirup udara bersih tidak gratis lagi. Sinar matahari berubah jadi bahaya tinggi. Dengan infrastruktur yang makin mundur, jalanan bukan tempat bagi manusia lagi. Mobil dan kemacetan mendominasi. Tidak ada lagi penduduk Jakarta yang berjalan kaki.

Tenang… itu cuma skenario apokaliptik Jakarta, di mana kelak keluar rumah dengan berjalan kaki adalah hal berbahaya. Namun, skenario itu bukan hal yang tidak mungkin mengingat menurut penelitian Stanford University, Jakarta dihuni oleh orang paling malas jalan kaki di seluruh dunia.

Iklan

Dengan infrastruktur yang buruk dan diskriminatif bagi pejalan kaki, dan adanya teknologi yang memungkinkan manusia tidak perlu jalan kaki. Akankah penduduk Jakarta benar-benar berhenti berjalan kaki?

“Kayaknya enggak mungkin orang enggak akan jalan kaki lagi,” ujar Pakar Human Factors dari Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kadek Heri Sanjaya.

Menurutnya, semakin modern suatu peradaban orang akan makin memahami pentingnya aktivitas manusia berdasarkan evolusi. Seperti yang terjadi di negara maju, kebiasaan jalan kaki muncul karena alasan kesehatan bahwa itu penting bagi kesehatan. Hal tersebut yang kemudian terjadi di berbagai negara maju di dunia. Lahirnya sistem transportasi massal bagi negara maju berpenduduk banyak adalah keniscayaan. Menurutnya Indonesia malah sedang bergerak ke arah sana. Hanya saja pergerakannya selalu terlambat jauh.

Selain pemahaman pentingnya jalan kaki yang kurang, lahirnya otomatisasi yang memungkinkan orang tidak berjalan kaki kerap disalahkan. “Otomatisasi itu sebetulnya membuat orang lebih produktif. Cuma yang jadi masalah di Indonesia adalah yang akan tersingkir itu adalah tenaga kerja informal. Isu di negara berkembang selalu negara itu,” jelasnya.

“Jadi intinya jalan kaki tetap akan dilakukan karena alasan kesehatan,” ujar Kadek Heri ketika dihubungi VICE Indonesia. “Itulah kenapa sistem transportasi masa depan akan selalu memberi ruang buat pejalan kaki,”

Iklan

Intinya, Kadek semakin optimistis dengan kemajuan Jakarta. Sebaliknya, dari faktor infrastruktur, pola pikir dan lingkungan yang Jakarta punya kini, Pengamat Tata Kota, Nirwono Yoga cenderung pesimistis. Ia meyakini Jakarta sedang diambang bunuh diri ekologi. Dengan kualitas udara dan infrastruktur yang buruk. Apa ini artinya tidak ada tempat lagi bagi pejalan kaki di Jakarta?

“Sejak 2000-an awal, saya sudah membayangkan Jakarta itu menuju kota bunuh diri ekologi, ecological suicide,” kata pengamat tata kota, Nirwono Yoga. “[Kerusakan] Jakarta itu sudah bukan lampu kuning lagi, tapi lampu oranye. Sudah menuju ke lampu merah,”

Terminologi “bunuh diri ekologis” tersebut digunakan untuk mendeskripsikan perilaku penduduk suatu kota yang secara konsisten melakukan eksploitasi dan destruksi terhadap lingkungannya. Fenomena ini disebut ‘bunuh diri’ karena justru pihak-pihak yang dipercaya untuk mengelola dan memelihara kota, malah bertindak destruktif. Nah lo!

Nirwono menyebutkan ada beberapa hal destruktif yang secara konstan dipraktikan di Jakarta, terkait infrastruktur. Di antaranya adalah berkurangnya luas Ruang Terbuka Hijau secara konsisten dan drastis dan pembangunan kota yang menjauh dari pusat kegiatan sehingga makin banyak orang mengabaikan kendaraan transportasi massal.

Pada tahun 1985 RTH Jakarta sebesar 25,85 persen dari luas kota. Pada tahun 2000 angkanya terus merosot 9 persen. Pada 2017, luas RTH Jakarta bisa naik ke angka 9,98 persen. Angka tersebut memang naik, tapi sangat menyedihkan jika ternyata untuk menaikkan luas RTH kurang dari 1 persen saja, butuh waktu lebih dari 17 tahun. Jika RTH makin berkurang, kualitas udara pun menurun drastis.

Sementara itu, soal pembangunan kota, kini Jakarta semakin diperluas ke pinggiran, menjauh dari pusat kota. Para keluarga muda mencari rumah murah di pinggiran Jakarta. Di lain pihak, tanpa alat transportasi massa yang memadai, kondisi menjauhnya rumah dari pusat kota tempat penduduknya bekerja menimbulkan masalah kemacetan luar biasa.

“[Solusi yang ada] bukannya membantu menyelesaikan masalah. Tetapi sebaliknya, malah berpikir bagaimana agar seseorang tetap bisa mengerjakan urusannya sendiri tanpa terganggu. Macet, ya dia beli motor. Yang terjadi adalah semua orang beli motor,” jelas Nirwono.

Kini, cukup dengan iming-iming “akses 5 menit dari pintu tol”, maka propertinya ludes dibeli. Maka jangan heran tanpa sistem transportasi massal yang baik, pengembangan kota yang baik, dan pola pikir manusia yang berorientasi pada kemaslahatan bersama, Jakarta akan semakin membuat masa depan Jakarta ditafsirkan secara pesimistik.

“Infrastrukturnya saja tidak memadai. Dengan fakta-fakta itu tidak heran suatu saat nanti orang justru tidak jalan kaki lebih karena faktor keamanan dan kesehatan,” kata Nirwono.