Kuliner

Fotografer Majalah NG Membuatku Tiga Tahun Memburu Gerobak Sate di Sabang

Percayalah, pengalamanku ini engga terlalu aneh kok.
17 Juni 2017, 6:32am
Foto oleh penulis.

Pengguna Internet di Indonesia selalu punya keriaan sosial media berlebih. Apalagi ketika selebriti mancanegara, media internasional, atau sebuah akun sosial media populer mengunggah sesuatu terkait Indonesia. Kita pasti ramai-ramai ribut. Ya kan? Contohnya saat Leonardo DiCaprio dalam pidatonya memuji kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, pengguna internet di sini langsung heboh.

Ingat ketika 9gag mengunggah sebuah video tentang seorang bule pertama kalinya makan Indomie? Ramai-ramai orang Indonesia membanjiri sesi comment di Instagram 9gag, hingga video tersebut mendapat lebih dari 7 juta views. Atau sewaktu meme Om Telolet Om ramai dibahas DJ-DJ kenamaan dunia? Segera gegap gempita lah semesta maya Indonesia.

Berperilaku norak begitu hak semua orang. Tidak terkecuali saya, yang juga norak. Kadang sih.

Contoh perilaku norak itu muncul ketika fotografer favorit saya, Michael Yamashita, memotret sebuah gerobak sate di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, Oktober 2014 lalu. Saat itu saya masih tinggal di Bandung. Saya segera terobsesi mencari gerobak sate dalam postingan instagram fotografer National Geographic yang legendaris ini. Saya mendedikasikan diri mencari Bapak penjual sate berbaju merah yang tertangkap kamera Yamashita, untuk saya ajak ngobrol. Saya selalu ingin mencoba sate tersebut, yang dalam bayangan saya dinikmati pula oleh Yamashita. Njirr Kamseupay. Biarin lah namanya juga anak muda.

Masalahnya satu. Di Jalan Sabang setidaknya ada 10 penjual sate, dan bentuk gerobaknya mirip-mirip. Jadi mana sih yang dipotret Yamashita?

Jalan Sabang terletak persis di belakang Pusat Perbelanjaan Sarinah. Pada era Orde Lama, Sarinah adalah pusat perbelanjaan pertama di Indonesia. Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, menyatakan Sarinah didirikan atas keyakinan bahwa sebuah pusat perbelanjaan harus dibangun untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dengan mengharuskan Sarinah menjual produk-produk Indonesia kualitas wahid. Di sinilah masyarakat Jakarta pada era 60- merasakan pertama kalinya berbelanja di ruangan ber-AC dan menaiki eskalator. Sarinah, pendek kata menjadi tempat paling hip di Jakarta. Popularitas Sarinah pun memberi dampak positif ke kawasan sekitar, termasuk Jalan Sabang, Jalan Wahid Hasyim, dan Jalan Sunda. Jalan Sabang, misalnya, menjadi pusat kuliner jalanan yang kebanyakan disatroni pengunjung muda. Itu dulu. Sepuluh tahun terakhir, mana ada anak muda sengaja nongkrong di Sabang biar kelihatan gaul.

Lalu Yamashita, tiba-tiba datang ke Jalan Sabang dan mengambil gambar. Wuih. Sabang jadi gaul lagi di mata saya.

Pada 2014, di tanggal yang sama persis dengan dilantiknya Joko Widodo sebagai presiden, saya melakukan pencarian pertama terhadap tempat sate ini. Saat itu saya masih tinggal di Bandung. Nihil, semuga gerobak sate terlihat sama saja. Setahun berikutnya saya pindah kerja ke Ibu Kota dari Bandung, lalu melakukan pencarian sate yang sama. Hasilnya masih mengecewakan. Ada beberapa gerobak yang ciri-cirinya mirip, tapi penjualnya tak sama persis dengan foto Yamashita (saya juga lupa tidak menunjukkan foto tersebut pada para penjual). Lalu selama setahun gerobak sate 'Natgeo', begitu julukan saya, terlupakan sejenak karena kesibukan akibat pekerjaan.

Tibalah di tahun ketiga. Saya memantabkan diri melakukan analisis foto lebih intensif. Katakanlah gerobak ini semi permanen dan pindah-pindah, paling tidak ada landmark dalam potret yang bisa kita pakai jadi bekal pencarian. Aha, saya menemukan tanda tersebut, ada warna biru menyala di sisi kiri atas. Tanda kantor cabang BCA Sabang. Betul, setelah saya tunjukkan, si penjaga warung membenarkan itu sate mereka. Namanya Sate Pak Heri (walaupun yang bernama Pak Heri sudah meninggal). Sayangnya saya gagal bertemu si bapak berbaju merah dalam foto Yamashita. Namanya Pak Bahri, berusia 50 tahunan, dia ternyata sudah pensiun berjualan dan mengurusi pasokan ayam saja dari rumah. Sebagai gantinya, saya mewawancara Yudi, mitra Bahri sekaligus penanggungjawab gerobak "Sate Heri/Natgeo".

Sudah lama pak jualan sate bareng Pak Bahri?
Saya hampir 19 tahun

Sate ini sudah jualan di Sabang dari tahun berapa?
Dari tahun 60-an sudah ada. Dari zaman mikul sebelum pakai gerobak, sudah ada sate Jalan Sabang. Makanya Jalan Sabang itu dulu dikenalnya sate Jalan Sabang. Penjual di Jalan Sabang dulu mayoritasnya tukang sate, tepatnya penjual asal Madura. Tahun 70-an itu kita masih di pinggir, pakai gerobak. Kita sampai pernah ikut kuliner festival di Belanda. Saya sendiri yang ikut selama 13 tahun (berturut-turut) selama satu bulan, setiap Mei. Per tahun dia buka model PRJ festival di Den Haag, namanya Festival Tong Tong. Kalau dulu kan namanya Pasar Malam. Tong Tong Fair. Terakhir kami berangkat 2013, setelah rutin ikut dari 1999.

Lalu ada di tempat jualan yang sekarang sejak kapan?
Dulu kan di pinggir jalan banget. Mulai begini dari 2010 lah, kita pakai lahan parkir. Kalau dulu di trotoar kita engga pakai tenda begini. Kita koordinasi sama dinas parkir, diperbolehkan pakai lahan parkir mobil. Yasudah.

Kalau nama Pak Heri untuk gerobak ini siapa ya?
Itu paman. Pak heri sudah almarhum. Kalau saya ikut kerja di sini sejak lulus SMA. Ini kan punya paman, saya bisa dibilang orang kepercayaannya. Terus paman meninggal.

Tahu kalau gerobak ini dipotret fotografer legendaris pak?
Ya saya kaget. Bagus lah. Cuma tanggapan orang melihat itu bagaimana? Negatif apa positif?

Engga cuma saya lho pak yang dulu bilang ini gerobak Sate Natgeo.
Ya mudah-mudahan. Yang penting kita kan yang baik-baik saja.

Pak Bahri sudah tidak mengurus sate lagi Pak?
Masih, cuma dia ada di rumah, mengurus keperluan sate di rumah. Dia yang motong daging. Masih terlibat juga, cuma engga keluar ke sini. Sekarang yang muda-muda aja lah. Kasihan. Karena kan kita sudah mulai dari pagi, jadi Pak Bahri itu pagi-pagi biar dia ngurusin ayam. Kita jam 9 bangun, bagian nusuk.

Jalan Sabang menurut bapak masih jadi tongkrongan anak muda Jakarta ga sih?
Dulu Jalan Sabang memang tempat tongkrongan anak muda. Kalau sekarang kan nongkrongnya di mall-mall. Sekarang udah engga banyak [anak muda]. Nyari duit itu juga gampangan dulu.

Apalagi sekarang ada sate Taichan ya?
Banyak family saya yang jualan sate Taicahn di Senayan, cuma kalau di sini orang kurang minat. Kalau sate Madura itu memang sudah tradisi sate tradisional. Kalau Taichan itu kan baru-baru saja. Saya kembangin di sini untuk lihat bertahannya sampai berapa tahun. Namanya kuliner itu kan kadang orang lapar mata saja. Lagi ngetren aja. Kalau sate begini (Madura) kan dari zaman saya belum lahir, dari zaman kakek-kakek saya, sudah ada. Makanya dibilangnya sate tradisional, sate Madura. Kalau sate taichan engga bisa dibilangin sate khas mana. Engga ada.