Kecerdasan buatan

Musisi Betulan Kami Minta Mengevaluasi Musik Hasil Kecerdasan Buatan

Ternyata sudah ada algoritma yang jago banget bikin lagu folk Irlandia.
6.5.20
Kecerdasan Buatan Sudah Sanggup Bikin Musik
Sumber gambar ilustrasi: Shutterstock

Kercedasan buatan (artificial intelligence) terbukti mampu melakukan pekerjaan sehari-hari manusia. Tapi bagaimana dengan kerja-kerja kreatif, apa AI bisa dengan baik melakukannya? Sekelompok peneliti dari Kingston University dan Queen Mary University of London mulai menjajal konsep AI yang bisa menulis komposisi musik.

folk-rnn, algoritma mesin yang diciptakan oleh para peneliti tersebut, dilatih dengan menggunakan ribuan sample untuk menghasilkan komposisi folk Irlandia. Menurut Dr. Oded Ben-Tal, peneliti utama dalam proyek ini dan pengejar senior mata kuliah music technology at Kingston University, komposisi yang dihasilkan AI mencengangkan dan bisa membuka babak baru dalam hikayah musik, di mana manusia bisa bahu membahu sebuah komposisi musik.

Ada beberapa alasan praktis kenapa para peneliti memutuskan mulai melatih algoritma buatan mereka dengan musik folk Irlandia. "Supaya kami bisa menggunakan metode pembelajaran mesin untuk membuat sebuah model yang benar-benar bisa dipakai, kami perlu banyak sekali data,"ujar Ben-tal dalam sebuah emailpada Motherboard, yang ditulis bersama rekan sepenilitiannya, DDr. Bob Sturm, dosen digital media di Queen Mary University.

Untuk kepentingan penelitian, tim yang dipimpin Ben-Tal menggunakan reportoire besar hasil crow-source berisi 23.000 tranksipsi komposisi folk yang ditulis dalam notasi ABC, sistem transkrip musik yang menggunakan aksara A-G dan beberapa simbol.

Dari sisi teknis, musik Celtic lebih mudah untuk jadi sebuah model dengan menggunakan komputer, jelas Strum. "Koleksi lagu yang kami miliki punya konsistensi struktur dalam berbagai tangga nada, yang sangat bermanfaat dalam penggunaan metode model statistik."ujarnya.

Iklan

Versi awal folk-rnn, keluar tahun 2015, memiliki fungsi mirip dengan model pemrosesan bahasa alami, mengurasi notasi ABC seperti sebuah teks dan mencari poa yang kemudian digunakan untuk menyusun melodi. Sejak saat itu folk-rnn sudah mengalami penyusunan ulang supaya bisa bekerja dengan efisien.

"Aku kaget menemukan ada beberapa komposisi lagu yang kental banget nuansa Celticnya."

Ben-Tal dan Sturm telah mempublikasikan 3.000 transkrip yang dibuat oleh generasi kedua folk-rnn dengan judul "The folk-rnn Session Book Volume 1 of 10." Sementara versi transkripsi dari seri folk-rnn dimainkan synthesizer bisa diakses bisa diakses di "The Endless folk-rnn Traditional Music Session."

Sampai saat ini, kualitas musik Celtic buatan AI ini baru bisa dinilai oleh musisi—setidaknya sampai saa ini. "Di Inggris, kami punya banyak praktisi musik Celtic." tuli Ben-Tal dan Sturm dalam surel mereka. "Makanya, kami bisa melibatkan mereka dalam penelitian kami untuk mengevaluasi tindak-tanduk AI yang kami latih, dan penggunaanya dalam praktek pembuatan musik sesungguhnya."

Motherboard lantas menghubungi musisi dan komposer Daren Banarsë, yang berkesempatan menilai volume pertama komposisi folk gubahan folk-rnn. "Aku kaget menemukan ada beberapa lagi yang kental banget nuansa Celticnya." ungkap Banarsë dalam sebuah email kepada Motherboard. "Banyak komposisi yang dihasilkan kentara banget perlu mendapatkan sentuhan manusia, ada juga yang butuh digubah ulang. Tapi ada juga sudah siap ditampilkan atau cuma diganti-ganti sedikit pilihan nadanya."

Banarsë lekas menggarisbawahi meski menghasilkan beberapa komposisi siap tampil, sythesizer komputer belum tentu bisa memainkannya dengan menyakin. "Tapi perlu diingat bahwa dalam komposisi musik Irlandia, transkripsi hanyalah kerangkanya belaka, yang sudah dilepaskan dari ornamentasi dan sentuhan pribadi musisi yang memainkannya," ujarnya "kami para musisi memainkan musik ini dengan menambhakan gaya, alunan, energi dan ornamentasi sendiri. Kalau lagu-lagu ini dimainkan oleh syhthesizer komputer tanpa sentuhan tangan manusia, hasilnya akan kasar, tak bernyawa atau bahkan tak kedengaran Irlandia sama sekali."

Salah satu hal yang menarik dari musik gubahan komputer, jelas Banarsë, adalah "kesalahan" yang dibuat algoritma justru bisa melahirkan sebuah ide yang benar-benari. "Ada satu nomor yang benar-benar bikin saya tertarik. Melodi dalam lagu itu terus berpindah-pindah dari minor ke mayor, dan ini terjadi secara acak. Kalau bicara dari sudut pandang gaya bermusik, komposisi ini sudah salah besar. Tapi justru itulah yang bikin komposisi ini terdengar ganjil, sebuah ide yang kemungkinan besar saya bisa keluarkan." ujarnya/

Iklan

Beberapa tahun ini, beberapa perushaan dan laboratorium penelitian mulai menyingguh domain pembuatan dan penyuguhan musik. Salah satunya dalah Magenta Project Google, yang berusaha memanfaatkan mesin untuk "menggubah seni dan musik yang memikat." dan seperti pada bidang dalam kehidupan manusia yant mulai disentuh AI, ada ketakutan bahwa AI akan menggusur dan membuat manusia nganggur.

"Hasil kerja kami tak akan berusaha menyingkirkan manusia," tulis mereka. "Kami tertarik mengembangkan sebuah sistem buatan yang bisa menegaskan kreatifitas manusai dalam musik dengan cara yang sangat membantu. Kami berusaha menciptakan kolaborator AI yang bakal memberikan saran-saran cerdas dan membuka kanal baru dalam penulisan musik."

"Sebagai seorang komposer, aku enggak khawatir pekerjaan saya bakal dicomot mesin di masa depan,"ujar Banarsë. "Tapi, seiring berkembangnya teknologi, siapa yang bisa menjamin hal itu tak terjadi? Kalau itu terjadi, aku harap ada fase di mana komputer bisa membantu saya bekerja. Aku selalu kewalahan saat mulai membuat komposisi dengan skala besar. Mungkin aku bisa memberikan beberapa parameter komputer: jumlah musisi, mood, atau bahkan nama beberapa komposer favoritku. Lalu mesin akan memberiku semacam struktur dasarnya. Aku enggak berharap kalau komposisi dasar ini bakal sangat out-of-the-box. Cukup komposisi standar yang dijadikan landasan awal aku membuat lagu."

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard