Jadi Tua di Internet

Renungan Millenial Tua: Bocah Alay Pengguna Facebook Sekarang Dewasa dan Punya Anak Lho

Terima kasih lho Facebook. Aku jadi sadar betapa menyedihkannya hidupku...
Lauren O'Neill
London, GB
20 Agustus 2018, 10:57am
Foto ilustrasi via Pixabay ( kiri / kanan)

Di internet, banyak cara yang bisa menyadarkan kalau kita bukan remaja lagi. Timehop akan menunjukkan apa saja hal bodoh dan konyol yang pernah kita unggah dulu, sedangkan Twitter dan Instagram mengingatkan kita untuk bergerak cepat.

Bagaimana dengan Facebook? Yah, jejaring sosial ini menunjukkan kalau waktu semakin cepat berlalu saat kita sudah dewasa.

Pekan lalu, aku memeriksa akun Facebook dan melihat-lihat timeline yang menunjukkan kalau tiga temanku di Facebook baru saja menikah. Di saat mereka sudah menemukan tambatan hatinya, aku malah masih asyik minum-minum dan kepikiran pengin makan pizza (lagi).

Ini memang bukan pertama kalinya aku melihat teman sebaya yang sudah menikah (kalau kamu belum pernah mengalaminya, semoga kamu lebih siap menghadapinya nanti), tetapi menyaksikan mereka sudah punya kesibukannya sendiri membuatku sadar akan satu hal: Anak remaja yang besar di era Facebook sudah pada dewasa.

Banyak kaum millennial di Inggris yang memanfaatkan Facebook sebagai pengingat tanggal ulang tahun teman, acara-acara keren, dan wadah bagi pengguna untuk menceritakan kehidupannya (meskipun masih ada juga yang bergabung di halaman meme Simpsons dan berdebat soal politik di kolom komentar VICE).

Setiap platform punya fungsinya sendiri. Facebook cocok untuk berdebat; Twitter untuk bagi-bagi meme dan buat thread; Instagram berguna untuk bikin orang lain syirik dengan hidup kita yang ‘seru’ (padahal mah aslinya cuma ngendon di rumah sambil maraton nonton serial TV favorit); serta Snapchat dan Insta Stories (pilih salah satu) bagus untuk PDKT dengan gebetan lewat DM.

Semakin kita beranjak dewasa, maka tidak heran kalau postingannya berubah dari foto-foto pas wisuda menjadi hari jadi pernikahan. Dalam pengalamanku pribadi, masa remaja dan dewasa saling bersinggungan satu sama lain. Aku terpana melihat foto teman pas SD dulu yang sudah jadi ayah. Perasaan baru kemarin dia gigit-gigit ujung pulpen, eh sekarang sudah punya anak saja. Waktu kok cepat banget berlalu, ya?


Tonton video pendek VICE mengenai trik licik Facebook menyisipkan dan menargetkan iklan ke beranda kalian:


Generasi millennial mungkin jadi satu-satunya generasi yang bisa memahami isu tersebut. Pengguna Facebook memang banyak yang sudah jadi ibu-ibu, tapi platform ini belum ada ketika mereka sedang beranjak dewasa. Sebagai satu-satunya generasi yang bisa melakukannya, update di Facebook sudah menjadi kebiasaan kita. Meskipun begitu, kontennya sekarang sudah berubah. Kalau dulu kita menyukai laman Minions dan sering pakai emot ‘:3’, tapi kalau sekarang postingan kita jauh lebih profesional (red: cari info lowongan kerja) atau suka akun dakwah/inspiratif misalnya.

Tingkat kepopuleran Facebook yang luar biasa besar membuat kaum millennial menjadi proporsi pengguna terbesar di platform ini, sedangkan pengguna pada kelompok usia di bawah kita jauh lebih rendah: hanya 7 persen pengguna aktif Facebook yang masih 13-17 tahun. Meskipun cara Facebook mencerminkan kehidupan kita terhadap teman sebaya bisa saja ditiru platform lain yang sering digunakan oleh kelompok usia lebih muda di masa depan (bisa saja beberapa tahun ke depan ada orang yang menulis bagaimana orang pada zaman itu selalu mengunggah foto anak-anaknya ke Snapchat), fungsi spesifik Facebook ini membuat kita tertekan kalau belum punya pencapaian apa-apa.

Kita menggunakan Facebook untuk mengumumkan hal-hal penting dalam hidup kita, karena kemampuan melakukannya merupakan fungsi penting dan mengakar dalam websitenya, yang berbeda dari platform lainnya. Tidak ada pilihan untuk mengumumkan lewat Instagram bahwa kamu "Menikah" atau "Mulai Bekerja di—Pekerjaan Barumu"—kamu harus mengunggah foto untuk itu. Sebaliknya, Facebook memudahkan kita untuk melihat orang-orang yang kita kenal sejak SD mulai mengoleksi cincin batu akik seperti Thanos, dan kamu merasa sedikit tertinggal dalam hidup, dan ini bisa jadi sedikit menakutkan.

Salah satu kritik besar atas media sosial adalah ia menempatkan pengguna dalam keadaan FOMO terus menerus, dan kehadiran orang dewasa di Facebook dalam hidup kita justru mempercepat keadaan itu. Kalau aku tidak menikah (atau punya teman istimewa deh, setidaknya), seperti orang-orang di Newsfeedku, apakah aku menjadi orang yang tidak disayang? Kalau aku tidak pindah ke luar negeri, apa itu artinya aku membosankan?

Gimana bisa teman-teman Facebook sudah beli rumah betulan? Ya tentu, jawaban atas semua pertanyaanku adalah: "Udah lah, rezeki orang kan beda-beda, ada banyak jalan buat hidup." Tapi, tetap saja aku penasaran dan tertegun dengan hidup orang lain dan aku rasa kamu pun begitu. Misal kamu sudah menikah, mungkin kamu iri dengan teman-teman yang sering berkelana ke luar negeri. Atau mengunggah meme “forever alone” sementara menjalani PhD.

Apapun fase kita dalam hidup, pada suatu masa Facebook menjadi sebuah laman tanpa ujung berisi orang-orang yang tadinya berponi emo dan memuat status soal Skins, kemudian tumbuh dewasa dan mengumpulkan sumbangan untuk membawa anak-anaknya tamasya di akhir pekan. Jelas ini baik sekaligus buruk.

Kita bisa terus terhubung dengan orang-orang yang, tanpa Facebook, sudah kita lupakan. Secara bersamaan kita juga merasa kita selalu ketinggalan. Tapi, itu hanyalah kesimpulan logis dari sebuah platform media sosial yang telah menyaksikan dan merekam pertumbuhan kita sebagai individu selama lebih dari satu dekade.

Duh. Jadi berasa tua, ya?!


Follow penulis renungan ini di akun @hiyalauren

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.