Andai Nusantara Tak Pernah Dijajah, Berikut Skenario yang Bisa Dialami Indonesia
Ilustrasi andai wilayah nusantara tidak pernah mengalami kolonialisme. Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng.
Kemerdekaan Indonesia

Andai Nusantara Tak Pernah Dijajah, Berikut Skenario yang Bisa Dialami Bangsa Kita

Telaah sejarah kontrafaktual ini melibatkan asumsi Portugis dan Belanda hanya berdagang; Jepang tak jadi agresor. VICE ngobrol bersama sejarawan membayangkan dampaknya. Apakah Indonesia modern tetap ada?
17.8.18

Andai Surat Penanaman Modal Asing 1967 tak pernah ditandatangani; Seandainya Surat Perintah Sebelas Maret tak pernah ada; Seandainya Soekarno tak pernah menyatakan diri sebagai Presiden Seumur Hidup; Seandainya Indonesia tidak pernah menyatakan proklamasi kemerdekaannya; sampai seandainya nusantara tidak pernah dijajah… mungkin saat ini kita akan berada di tempat yang sepenuhnya berbeda, dengan karakter manusia yang juga jauh berbeda.

Apa sih yang sebenarnya terjadi kalau Indonesia tidak pernah dijajah sama sekali? Berbagai forum di internet, seperti Quora misalnya, ternyata pernah memperoleh pertanyaan macam itu. Ada yang menerka, katakanlah, kapal Portugis tidak pernah sampai ke Malaka pada 1511, atau seandainya pula Belanda tidak pernah datang menyusul dan membuat wilayah Nusantara menjadi koloninya, mungkin Indonesia tak akan pernah ada.

Wilayah Nusantara akan menjadi negara masing-masing sesuai wilayah kedaerahannya, dan satu sama lain akan saling berperang atau sering berkonflik layaknya negara-negara kontinental yang sama-sama hidup di satu daratan. Ada juga yang bilang mungkin Nusantara tetap akan bersatu dalam sebuah sistem kesultanan. Masing-masing akan menggunakan bahasa daerahnya dan ragam aksaranya.

Iklan

Berandai-andai atau yang dalam kajian ilmu sejarah disebut metode kontrafaktual itu sedikit eskapis. Sebagian enggan menyebutnya “sejarah” dan menyebutnya sebatas “spekulasi”. Ada juga yang bilang counterfactual history itu basi, cuma buang-buang waktu bahkan “menyesatkan”. Hanya saja, siapapun sulit mengelak bahwa analisis kontrafaktual memang menyenangkan. Dengan catatan, tentu saja analisis ini bisa didebat dan jelas bisa memunculkan sejarah lainnya.

Makanya, mencari berbagai kemungkinan mengetahui sejarah alternatif, contohnya apa yang terjadi kalau Indonesia tidak pernah dijajah, menarik perhatianku. Aku ngobrol bersama sejarawan Andi Achdian yang memahami metode kontrafaktual, untuk mengetahui apa saja sejarah alternatif perjalanan sejarah yang mungkin terjadi jika wilayah yang kini bernama Indonesia tidak pernah dijajah.

Andi menyatakan, kondisi yang paling mungkin terjadi jika Nusantara tidak pernah dijajah adalah industrialisasi yang lebih maju dari sekarang. Kota-kota pesisir kawasan Nusantara hampir semuanya maju pesat akibat perdagangannya. Dampak nyata kolonialisme (terutama Belanda) adalah terhadap industri dan perdagangan di Nusantara. Andi mengemukakan dominasi perekonomian oleh VOC dan kemudian disusul Belanda membuat kemajuan ekonomi masyarakat yang pada saat itu terhambat. Padahal, intensitas perdagangan kerajaan-kerajaan Nusantara sekitar Abad 17 tak kalah saing dengan Eropa.

Iklan

“Aspek negatif [kolonialisme] menghambat kemajuan ekonomi berbagai kelompok masyarakat. Kalau kita bandingkan misalnya Surabaya sebagai satu wilayah perkotaan, itu sudah menunjukkan beberapa pola bahwa mereka berkembang dari kekuatan praindustri,” kata Andi. “Mereka sudah punya sistem sosial yang kompleks seperti Eropa awal abad 17.”

Industrialisasi lebih cepat dan pesat dari yang terjadi sekarang. Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng

Menurut Andi, sejak jalur utama perdagangan Malaka dikuasai Portugis dan Belanda, praktis pedagang pribumi tidak lagi bisa menjalankan inisiatif perdagangannya sendiri. Ketika Belanda memulai ekspansi masif perdagangan rempah-rempah ke Asia Tenggara di awal Abad 16, persaingan perebutan rempah-rempah membuat harganya naik di Nusantara.

Sebaliknya saking banyaknya pasokan rempah-rempah di Eropa, praktis harganya turun di pasaran. Hal itu menyebabkan Belanda tak punya untung besar. Maka, dibentuklah Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Asia. Dominasi itu, seperti dicatat sejarah, nantinya akan terjadi melalui penaklukkan berdarah melibatkan senapan dan kapal perang.

Situasi tersebut mengakibatkan industri modern tak bisa dilakukan golongan pribumi di Nusantara. “Mereka dipaksa untuk memperkecil ruang gerak dagangnya. Harus di bawah kontrol VOC dan kemudian mati,” kata Andi.

Hal ini berbeda dengan negara-negara jajahan Inggris. Imperium Inggris ingin menjadikan daerah koloninya sebagai pasar. Otomatis, mereka punya misi menumbuhkan kelas menengahnya agar memiliki daya beli, salah satunya dengan meningkatkan sumber daya manusianya. Sementara orang-orang Belanda adalah pedagang, mereka tak punya industri ternama. Maka, memonopoli komoditas perdagangan di Nusantara dan menjualnya di Eropa adalah satu-satunya kebijakan Kerajaan Belanda saat itu.

Selain itu, ada juga kemungkinan lain yang disampaikan Andi. Bila nusantara tak pernah dijajah, sangat mungkin kita tidak akan punya mental inferior terhadap bangsa asing, terutama mereka yang berkulit putih. Sekarang penduduk Indonesia cenderung menganggap segala produk buatan luar negeri otomatis punya mutu lebih baik. Bahkan ada kebanggan tersendiri ketika seseorang dapat menggandeng kekasih berkulit putih, menganggap mereka lebih cerdas, pasti lebih logis, atau yang paling absurd, lebih kaya.

Bangsa di nusantara tanpa inferioritas, barangkali, andai kolonialisme tak pernah terjadi. Ilustrasi oleh Farraz Tandjoeng.

Dalam konteks kehidupan masyarakat, dampak penjajahan Jepang yang singkat tak bisa diabaikan. Sistem kemasyarakatan yang kita kenal sekarang, macam Siskamling, adanya RT/RW, dan sistem militer kita hingga tingkat koramil, adalah peninggalan Kekaisaran Jepang. Jangan lupa Jepang pun mewariskan kebiasaan-kebiasaan yang seringkali aku pertanyakan seperti upacara bendera dan hormat pada bendera.

“Jepang [mewariskan] kepatuhan terhadap negara. Jadi terhadap penguasa betul-betul dibuat tunduk, negara itu absolut enggak ada kritik,” kata Andi. “Di bawah kolonialisme Belanda masih ada ruang kritik, konsep publik dan demokrasi masih ada. Di bawah Jepang tidak ada. Jadi kita mewarisi dimensi di mana kita patuh terhadap negara [dari Jepang].”

Iklan

Banyak sejarawan mengaitkan tumbuhnya gaya birokrasi militeristik Orde Baru, lantaran Suharto adalah jenderal militer didikan Jepang—bukan Belanda.

Di luar semua spekulasi tadi, kolonialisme "berjasa" memunculkan generasi intelektual Nusantara yang kelak memimpin pergerakan kemerdekaan di masing-masing daerah.

Pemikir dan peneliti Indonesia, Ben Anderson menuliskannya dalam Nasionalisme Indonesia Kini dan di Masa Depan. Sebagian besar wilayah Indonesia yang ada kini merupakan bekas kekuasaan belanda di Hindia Timur saat mereka merampungkan penaklukan terakhir mereka di Aceh, Bali Selatan, dan Papua. Artinya, Indonesia secara geografis hanyalah kelanjutan dari kekuatan kolonial yang sebelumnya berkuasa.

Hanya saja, ambruknya kolonialisasi Belanda di Indonesia dan Eropa di dunia secara umum, tak serta merta memunculkan Indonesia modern seperti kita kenal sekarang. Masih menurut Ben Anderson, salah satu penyebab Indonesia lahir, karena adanya gelombang nasionalisme di Asia, yang saat itu muncul akibat para penduduknya sudah merasa memiliki tujuan dan masa depan bersama.

“… para pemuda pada masa itu menggunakan identitas kedaerahan mereka bukan atas nama nasionalisme lokal yang separatis, namun sebagai penanda akan komitmen kedaerahan mereka terhadap kebersamaan sesama koloni dan proyek bersama untuk pembebasan. Mereka tak terlalu lagi mempedulikan bahwa dulu raja Aceh pernah “menjajah” wilayah pesisir Minangkabau, bahwa raja orang Bugis pernah memperbudak orang-orang di perbukitan Toraja, bahwa bangsawan-bangsawan Jawa pernah mencoba untuk menaklukan dataran tinggi Sunda, atau maharaja Bali yang pernah dengan sukses menundukan Pulau Sasak.” (Nasionalisme Indonesia Kini dan di Masa Depan, halaman enam).

Karenanya, jika tidak ada Belanda yang menguasai wilayah-wilayah tadi, mustahil masing-masing daerah mau bergabung. Sangat mungkin yang terjadi adalah tiap kerajaan mendirikan negara berdaulat masing-masing.

Kesultanan Aceh misalnya, sebelum kemerdekaan mereka sudah memiliki hubungan diplomatik dengan beberapa negara di Asia dan Eropa. Intinya, di bawah kontrol penguasaan Belanda saat itu nasionalisme yang menjadi dasar logika Indonesia modern dalam format negara kesatuan tercipta.

Iklan

Namun, terlepas dari dijajah atau tidaknya Nusantara kala itu, keruntuhan kolonialisme Eropa adalah keniscayaan. Konsep tersebut kemudian digantikan dengan hal yang paling ditakutkan Soekarno, neokolonialisme dan neoimperialisme.

Sejarawan dari IAIN Palangkaraya, Muhammad Iqbal, memaparkan fakta menarik tentang keruntuhan kekuatan Eropa. Perang memang menghabiskan banyak dana, dan negara-negara Eropa kala itu kebanyakan nyaris bangkrut. Masuklah Amerika Serikat mengusung Marshall Plan (1947-1951) untuk menyuntik dana bagi bangsa di Eropa yang butuh modal membangun kembali negaranya masing-masing.

“Marshall Plan itu menunjukkan bahwa kolonialisme ala Eropa Barat ditinggalkan, ujar Iqbal kepada VICE. “[Amerika datang] dengan ekonomi, dengan mengikat sistem suatu negara dengan utang. Amerika melihat potensi itu. Amerika meyakini dirinya sebagai negara demokrasi terbaik, sehingga pasar bebas yang kemudian berperan besar.”

Pada akhirnya, ada atau tidaknya Indonesia dalam perjalanan sejarah, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan lain: Amerika Serikat muncul menjadi kekuatan dominan Abad 21, menggantikan negara-negara Eropa yang menjajah Asia. Namun, tanpa penjajahan Indonesia yang kita kenal sekarang pasti akan sangat berbeda. Bagaimanapun, kolonialisme Belanda sempat melahirkan generasi intelektual dari kalangan anak bangsawan lokal di Sumatra, Jawa, ataupun Bali.

Tanpa ada generasi intelektual yang kala itu diterpa gelombang nasionalisme, seperti tesis Ben Anderson, mustahil Indonesia bisa lahir. Intinya, tanpa ada kolonialisme itu sendiri, Indonesia hanyalah sebuah konsep… atau bahkan mitos.

“Tanpa kolonialisme Belanda awal Abad 16, masing-masing bagian Indonesia akan menjadi satu sistem politik Indonesia yang terpisah,” kata Andi. “Tanpa kolonialisme Belanda mungkin mereka akan tetap berdiri sebagai satu entitas politik yang merdeka.”