Pakar Hipnosis Menjelaskan Kebohongan Besar di Balik Kasus-Kasus Gendam
Ilustración por Bambang Noer Ramadhan
Kejahatan

Pakar Hipnosis Menjelaskan Kebohongan Besar di Balik Kasus-Kasus Gendam

Banyak berita menjelaskan modus operandi gendam, alias hipnotis, yang bikin orang sukarela menguras tabungannya cuma dengan ditepuk pundak. Romy Rafael bilang tak ada gendam sesakti itu. Nah lho? Apa yang sebenarnya terjadi?
Alice .
oleh Alice .
21.8.17

Romy Rafael memiliki tatapan mata misterius. Dia menatap saya lekat-lekat, saat kami pertama bertemu. Rambutnya hitam dikepang ekor kuda, jatuh hingga punggung. Kumis dan cambangnya tercukur rapi. Sosok Romy, di dunia maya terutama, selalu dijaga agar rapi jali. Penampilannya yang menawan membuat jantung saya berdetak kencang.

Saya duduk menghadap Romy, seorang hipnoterapis yang berhasil menjadi seleb. Dia mencampurkan hipnosis dan trik sulap di televisi. Di hadadapan Romy, yang belajar hipnosis secara serius hingga Amerika Serikat, saya berniat bertanya-tanya seputar topik kisah kejahatan Indonesia paling ajaib: perampokan menggunakan metode hipnosis. Pastinya kalian semua sudah tidak asing dengan cerita perampok mistik yang dapat menghipnotis korban lewat sentuhan. Beberapa kanal media massa di Indonesia sampai memiliki arsip khusus didekasikan untuk kejahatan hipnotis, atau yang populer dijuluki di negara kita sebagai gendam.

Iklan

Modus operandinya selalu sama. Korban yang lagi bengong di keramaian, atau mungkin juga naif, ditepuk bahunya atau diajak berjabat tangan sama si pelaku yang memang menawan. Kemudian korban langsung berjalan ke bank, atau ATM, atau brankas. Mereka tanpa berpikir dua kali segera mengosongkan akun tabungan, menyerahkan ponsel, atau bahkan memberikan kotak perhiasan tanpa perlawanan—seakan kesadaran korban sepenuhnya dalam kendali para pengguna hipnotis.

Saking seringnya kejahatan macam ini terjadi, kepolisian Indonesia kerap mewanti-wanti masyarakat agar berhati-hati terhadap gerombolan perampok berilmu pengontrol pikiran tersebut. Polda Metro Jaya sampai pernah melakukan operasi khusus, lalu sukses mencokok tiga perampok yang diduga menghipnotis korban untuk mengosongkan akun tabungan via ATM. Polisi gerah setelah bermacam kasuys memenuhi halaman depan media lokal. Bahkan negara tetangga Malaysia sampai membuat iklan layanan masyarakat memperingatkan bahaya kasus perampokan hipnosis. Di Negeri Jiran, gendam juga merajalela.

Romy Rafael. Semua foto oleh Tsering Gurung

Jadi, berbagai modus kejahatan hipnotis ini beneran enggak sih? Tingginya kasus gendam kayak gini apa karena banyak pengaruh kekuatan mistis di Asia Tenggara? Pemerintah Indonesia mencoba membuat aturan hukum dalam KUHP mengatur ilmu gaib. VICE Indonesia udah pernah ikut berburu hantu dan mendalami perburuan penyihir di Kamboja. Lantas, apakah hipnosis dan ilmu kontrol pikiran beneran ada?

Saya menanyakan hal ini ke Romy, selagi dia mengaduk secangkir kopi hitam tanpa gula. Dia mengaku sangsi membaca semua pemberitaan mengenai kejahatan hipnosis. "Biasanya yang dibayangkan orang sebagai hipnosis kriminal itu enggak bener," kata Romy. "Karena orang pada percaya ya jadinya dianggap benar. Tapi kepercayaan dan fakta adalah dua hal yang berbeda. Orang membayangkan seseorang bisa mendekati di jalanan, mencolek bahumu. Terus udah, kamu terhipnotis deh. Padahal gak gitu."

Iklan

"Coba saya tantangin kalau ada yang bisa tepuk orang terus korban langsung kehipnotis, saya akan bayar dia jutaan rupiah. Di show, saya sering kok tantangin orang yang katanya bisa hipnosis lewat tepuk langsung gitu, tapi gak ada yang bisa ngebuktiin."

Yang kerap terlupakan dari cerita-cerita sensasional kejahatan gendam, adalah peran yang dimainkan korban dalam kasus perampokan.

"Orang suka malu mengakui mereka ditipu atau kena bujuk rayu orang asing," kata Romy. "Jadi mereka melebih-lebihkan mitos seputar hipnosis yang otomatis terjadi hanya lewat sentuhan fisik. Masalahnya, hipnosis itu adalah art of soft persuasion. Tanpa persetujuan atau kemauan dari korban untuk berpartisipasi, gak akan bisa kamu kehipnotis."

Lantas, hipnosis itu apa sih sebenarnya?

"Hipnosis adalah kondisi dimana si hipnoterapis memandu klien memasuki state yang sangat relax di bawah sadarnya sehingga mereka terbuka terhadap sugesti apapun," urai Romy. "Tapi pre-kondisinya ya itu tadi, persetujuan dari subyek hipnotis. Ini penting sekali. Kalau subyek hipnotis menolak hipnosis, tidak akan terjadi apa-apa."

"Tidak ada hipnoterapis yang sakti banget sampai bisa memaksa seseorang melakukan sesuatu melawan kehendak mereka sendiri. Sentuhan fisik seperti menepuk pundak atau jabat tangan seseorang dilakukan untuk memasuki zona fisik si korban, tapi ini bukan satu-satunya metode proses hipnosis." Tentu saja, laporan media mengatakan hal yang berulang-ulang, karena kasus gendam sudah kayak tradisi. Jurnalis kriminal biasanya terlalu menyorot jumlah uang yang dicuri atau kerugian yang disebabkan sang pencuri, lantas menyederhanakan metode hipnosisnya. Padahal yang sebenarnya penting dalam kisah-kisah gendam adalah memahami metode yang digunakan para kriminal tersebut. Di kebanyakan kasus gendam, para maling membuat kisah latar belakang untuk menipu orang-orang. Terkadang mereka berpura-pura menjadi tukang jual obat ajaib yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit akut. Di lain waktu, mereka adalah pemimpin religius yang mengelola jasa Umrah dengan potongan harga besar. Seorang korban menyampaikan pada surat kabar Jakarta Post betapa seorang laki-laki pernah meyakinkannya menebar daun ke sungai untuk buang sial. Tapi ketika perempuan itu menoleh dia baru sadar telah memberikan tasnya dan pin kartu ATM-nya pada laki-laki itu.

"Saat itu saya baru ngeh kalau telah dihipnotis," katanya sembari mengingat-ingat kronologi kejadian. Lalu, apa dong yang membuat deretan maling dan tukang hipnotis ini berbeda dari tukang tipu jadul? "Nah, itu dia," ujar Romy. "Enggak ada bedanya." "Tapi orang-orang ini kekeuh mereka dihipnotis," balas saya. "Kenapa?" "Ya… karena hipnosis ini, korban-korbannya pada akhirnya percaya tipuan ini secara mendalam, pada tingkatan bawah sadar, seakan mereka dibutakan, dan pada akhirnya mereka kehilangan begitu banyak," kata Romy.

Iklan

"Mereka sangat percaya sehingga langsung pergi ke ATM untuk menarik uang di situ. Inilah yang membuat hipnotisme kriminal lebih berbahaya daripada operasi tukang tipu… Tapi saya bisa bilang banyak tukang tipu menggunakan sejenis kombinasi hipnotisme, sekaligus keterampilan membujuk yang mempesona. Sulit memang untuk dibedakan."

Romy mempraktikkan beberapa teknik hipnosis ke saya.

Lantas bagaimana dampaknya pada proses penegakan hukum? Saya sadar banyak orang cenderung percaya telah dihipnotis, sesudah mereka terlanjur tertipu. Gimana sih caranya kasus "penjabretan hipnosis" dibuktikan di pengadilan? "Saya telah menjadi praktisi hukum selama 9 tahun dan saya belum pernah menangani kasus yang secara eksplisit disebut sebagai tindak kriminal hipnosis," kata Slamet Yuwono, pengacara spesialis kasus pidana di firma FAST Attorneys at Law pada VICE Indonesia. "Orang Indonesia percaya santet, sihir, hipnotis, dan lain-lain, tapi hal-hal seperti ini tidak bisa dibuktikan secara objektif di pengadilan." Ahli atau pakar macam apa yang akan dipanggil untuk menjadi saksi? Hipnoterapis? Bagaimana ahli ini akan menjabarkan apakah sang korban benar-benar dihipnotis? Lantas bagaimana para maling dan tukang tipu akhirnya dipenjara? Tindak kriminal apa yang didakwakan pada mereka kalau "hipnosis" tidak masuk pilihan? "Mustahil memperlihatkan bukti nyata untuk hipnosis," ujar Slamet pada VICE. "Hipnosis hanya modus operandinya, tindak kriminal ini pada dasarnya penipuan. Kami melihat kesaksian korban, kesaksian saksi mata, motifasi tertuduh, dan apa yang dilakukannya. "Pada seluruh kasus ini, para korban memberikan barang-barangnya dengan harapan mendapatkan imbalan lain, eh tapi si pelaku malah kabur. Dengan bukti materil seperti itu, cukup untuk sistem hukum untuk mendakwa seseorang atas penipuan. Begitu aja." Kalau semuanya adalah penipuan dan jerihpayah tukang tipu, lalu harusnya korban tidak gampang ketipu dong? Memang benar. Tidak sulit sama sekali, kata Romy. Sebab yang kamu harus lakukan hanyalah menolak melakukan perintah orang asing tak dikenal itu.

Kebanyakan orang dengan pendirian keras kepala lebih kebal sama hipnosis. "Betul adanya bahwa sebagian orang lebih rentan terkena hipnosis, namun itu semua di dalam pikiran mereka," kata Romy. "Kalau kamu bilang ke diri sendiri bahwa kamu kuat dan sadar, kamu bisa menghindari hipnosis dengan cukup mudah. Korban-korbannya biasanya sedang emosional, secara finansial atau masalah lainnya jadi pertahanan mereka lemah. Itu sebabnya, mereka mau percaya bahwa sesuatu yang baik dapat secara magis mengobati permasalahan mereka, dan para kriminal memanfaatkan situasi ini."

Apakah dia punya saran tertentu untuk orang-orang yang takut dengan tukang tipu dan tukang hipnotis? "Banyak berdoa paling, berdasarkan agama masing-masing dan jangan percaya dengan orang enggak dikenal," ujarnya. "Kedengarannya seperti saran klise untuk anak-anak, tapi orang dewasa sering lupa lho."