Jangan Ragu Lagi Melibatkan Laki-Laki Dalam Gerakan Feminis Indonesia
Ilustrasi oleh Faradella Meilindasari.
FemFest

Jangan Ragu Lagi Melibatkan Laki-Laki Dalam Gerakan Feminis Indonesia

"Harus diakui, kadang laki-laki hanya mau mendengar sesamanya," kata Syaldi Sahude dan rekannya dari Aliansi Laki-Laki Baru, yang optimis bisa mendukung agenda pro-perempuan tercapai lebih cepat.
23.8.17

Bagi sebagian lelaki, istilah 'feminis' bagaikan monster rekayasa genetika dari kubangan lumpur limbah pabrik, buat mengacak-ngacak sistem kota dan 'kenyamanan' manusia yang memiliki penis. Mereka membayangkan feminis sebatas sekelompok perempuan 'sensi'; yang demennya marah-marah pada sesuatu yang tak terlihat dan tak bisa diraba berupa 'patriarki'. Sebagian orang secara salah kaprah malah mengasosiasikan feminis sebagai 'pembenci laki-laki'.

Iklan

Anggapan tersebut masih saja bertahan sampai sekarang, termasuk di kalangan lelaki kelas menengah yang memiliki privilise pendidikan dan akses informasi lebih. Sebaliknya, makin banyak juga lelaki mulai menyadari ada yang salah dalam sistem patriarki, merugikan bukan hanya perempuan tapi juga lelaki serta kalangan gender nonbiner dan orientasi seksual lainnya.

Sosok lelaki yang secara aktif mendukung agenda gerakan feminis di Indonesia itu salah satunya Syaldi Sahude. Dia merupakan pendiri dan pegiat organisasi Aliansi Laki-Laki Baru (ALB). Ia mengaku dulu sempat antipati melihat kiprah aktivis perempuan. "Saya bilang mendingan dikejar satu batalyon tentara daripada diomelin satu feminis."

Syaldi menuturkan 'candaan' tersebut muncul awal tahun 2000-an, dipicu kesulitan yang dia alami saat mencoba masuk ke lingkaran gerakan perempuan. Muncul kecurigaan beberapa aktivis feminis padanya, lantaran Syaldi sebagai laki-laki ingin turut bergabung dalam gerakan perempuan.

Syaldi dan kawan-kawannya mendirikan ALB pada 2009. Organisasi ini lahir untuk mendorong partisipasi laki-laki dalam gerakan keadilan gender, sekaligus upaya menghapus tren kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Gerakan laki-laki profeminis ini berfokus pada pentingnya membongkar konsep maskulinitas yang dianut sebagian besar masyarakat Tanah Air. Syaldi dan kawan-kawannya di ALB sadar betul perspektif feminisme membantu laki-laki menyadari bahwa patriarki akan selau melahirkan hierarki, yang turut menciptakan dominasi antara sesama laki-laki.

Iklan

Selain menjadi pegiat Aliansi Laki-Laki Baru, Syaldi bercita-cita menjadi bapak rumah tangga. Sampai cita-citanya terwujud, untuk sementara dia bekerja sebagai staf Human Rights Data Specialist di Datum Indonesia, lembaga yang berfokus pada pengumpulan data untuk riset dan pengembangan pembangunan manusia. Sejak lulus kuliah, Syaldi fokus pada isu HAM dan perlahan mempelajari isu keadilan gender dan feminisme. Ketertarikannya pada feminisme meningkat setelah dia melihat banyak hal yang menurutnya belum terjawab, jika hanya melihat persoalan sosial dari kacamata HAM. Khususnya terkait analisis persoalan yang dihadapi perempuan, anak, dan kelompok LGBTQ.

Simak cuplikan perbincangan VICE Indonesia bersama Syaldi Sahude berikut, bagian dari kolaborasi kami dengan Feminist Fest di Jakarta. Untuk memahami lebih lanjut tentang festival tersebut, simak keterangan di akhir artikel ini.

VICE: Dari kacamata Syaldi sebagai laki-laki profeminis, apa sih makna 'male allies' atau 'feminist allies'?
Syaldi Sahude: Istilah 'feminist allies' ini agak diperdebatkan, karena kalau kita pakai stance perkembangan feminisme sekarang kan, siapapun bisa menjadi feminis. Tidak perlu dia laki-laki, atau perempuan, atau transgender. Kalau kita pakai kata "allies" atau sekutu, seakan-akan mengesampingkan laki-laki. Tapi yang aku tangkap dari niat baiknya, mereka [yang disebut sekutu] adalah yang selama ini mendukung dan simpati, dan mendukung feminisme di dunia. Siapapun bisa jadi sekutu feminisme, baik itu pejabat publik, ustaz, atau dokter. Plus istilah ini berlaju juga buat orang-orang yang enggak mau terjebak label. Tidak mau dilabeli, 'pokoknya saya akan lakukan yang terbaik, yang sesuai dengan prinsip-prinsip [feminisme]' tapi tidak mau pusing, atau tidak mau dilabeli feminis misalnya.

Iklan

Dalam 'male allies' ini ada kesan seakan lelaki selama ini tidak diikutsertakan. Pernah ga sih dirimu merasa tak diterima dalam lingkaran pegiat feminis?
Kalau pengalaman dulu iya, kerasa banget. Karena asumsi dan pengetahuan gue masih sangat terbatas. Plus, perkembangan feminisme di Indonesia masih belum terlalu maju. Kalau sekarang laki-laki sudah bisa terlibat dalam upaya-upayanya. Kalau dulu masih ada paham feminis radikal yang menyatakan 'sleeping with the enemies', yakni kalau kamu menikah dengan laki-laki, berarti kamu tidur dengan musuh kamu. Karena patriarki kan memang sangat menguntungkan laki-laki, diciptakan dengan tafsir laki-laki. Sehingga aku paham banget kenapa bisa ada kesan 'kemarahan' yang ditujukan kepada laki-laki. Sehingga laki-laki mau masuk ke dalam lingkaran [feminis] saja sudah merasa terintimidasi.

Pernah memang merasa terintimidasi?
Dulu, sebelum punya pengetahuan yang cukup, aku sering bikin jokes. Awal 2000-an, pernah bercanda dengan kawan-kawan, "saya mendingan dikejar satu batalyon tentara daripada diomelin satu feminis". Jokes seperti itu muncul karena melihat kecurigaan dan sedikit kemarahan yang terlihat saat saya masuk dalam lingkaran [feminis] tersebut.

Kalau dari pengalaman Syaldi, apa respons kebanyakan feminis di Tanah Air saat tahu ada laki-laki ingin ikut terlibat?
Sekarang jauh lebih terbuka, teman-teman yang dulu saya anggap sangat 'galak', sekarang jauh lebih welcome. Bayangannya begini, semua laki-laki berpotensi menjadi pelaku, tapi ada laki-laki yang ingin belajar dan memperbaiki situasi. Sehingga secara strategis (laki-laki) perlu dilibatkan. Terlebih lagi, cukup banyak laki-laki yang sudah bekerja di isu kesetaraan gender, misalnya isu feminisme.


Baca juga liputan isu-isu feminisme dari VICE Indonesia lainnya:

Adakah perdebatan menyoal terminologi 'male feminist' dan 'male pro-feminist' dalam internal Aliansi Laki-Laki Baru?
Aku pribadi orang yang tidak suka label, tapi aku lebih melihat diriku sebagai laki-laki yang pro pada feminisme. Jadi kalau ada yang memberi label pada saya 'feminis laki-laki', saya sih "wis, sakarepmu." Feminisme itu berbasiskan teori-teori yang terus berkembang. Aku dan beberapa kawan masih menggunakan pendekatan feminis radikal, bahwa pengalaman tubuh perempuan itu (laki-laki) bisa memahami, tapi tidak bisa merasakan. Kita tidak bisa mengalami bagaimana sulitnya mengakses kesehatan reproduksi, misalnya untuk aborsi atau untuk Keluarga Berencana. Contohnya, laki-laki kan selama ini [kontrasepsi] cukup kondom. Sementara perempuan? IUD, spiral, pil, suntik, macam-macam deh. Padahal akan lebih mudah, murah, dan risikonya lebih sedikit jika pakai kondom aja. Seberapa penting peran 'laki-laki pro-feminis' untuk gerakan perempuan?
Kalau bicara soal seberapa pentingnya, semuanya penting. Termasuk pionir-pionir gerakan perempuan, karena kan dari mereka kita belajar. Namun ada realita semua lini di masyarakat mulai dari RT, eksekutif, legislatif, yudikatif, sampai presiden itu masih dikuasai oleh laki-laki. Itu fakta. Upaya membangun kuota 30 persen di DPR untuk perempuan sampai sekarang tidak tercapai. Kenapa kemudian strategis melibatkan laki-laki? Harus diakui bahwa kadang laki-laki hanya mau mendengar sesamanya.

Seberapa kuat pandangan men listen to other men di Indonesia?
Itu berasa banget. Dalam arti, kalau perempuan yang bicara tentang haknya perempuan, laki-laki akan merasa, 'ini kan kepentingan kamu, mana ada kepentingan kami di dalamnya'. Resistensinya jauh lebih besar bahkan ratusan kali lipat jika perempuan yang bicara. Ini sudah kami uji coba berkali-kali dalam training, seminar, workshop. Awalnya kami coba yang bicara perempuan, pesertanya mayoritas laki-laki. Ada kecenderungan dari peserta tidak mendengarkan karena ada asumsi 'ah ini siapa sih perempuan kok nguliahin laki-laki tentang kesetaraan, memang ada masalah pada kesetaraan?' Nah sekali, dua kali kami merasa seperti itu, kami berganti taktik. Orang yang membuka itu adalah laki-laki dan tandem dengan fasilitator atau narasumber yang perempuan. Mereka harus diberi bridging untuk menuju ke situ, begitu juga dengan advokasi.

Iklan

Strategi apa saja yang dilakukan untuk mengatasi lelaki yang cuma mau mendengar lelaki lagi?
Kami sudah mencobanya [saat memberi pelatihan] Satpol PP. Kita coba di pejabat publik. Mereka hanya mau mendengarkan laki-laki. Dengan model strategi tadi, laki-laki yang buka acara dan perempuan yang menyampaikan intinya. Mereka jadi belajar bahwa mereka juga harus mendengarkan perempuan. Salah satu yang paling susah dilakukan laki-laki sebenarnya mendengarkan orang lain, apalagi perempuan. Lelaki lebih susah dinasehati atau dikasih tahu oleh orang yang dianggap lebih 'rendah' dari dia, dalam artian 'lemah', lebih 'tidak berkuasa'. Makanya kami berusaha nyari, siapa nih target kami, dan siapa orang yang kira-kira bisa dengar. Kalau kita berhadapan dengan para ustaz, para pemuka agama yang kami minta bicara adalah pemuka agama laki-laki yang sudah fasih, yang pasti disegani peserta lelaki. Mereka akan ragu untuk coba memandang sebelah mata. Kami melihat bahwa perkembangan dengan cara ini cukup cepat. Ternyata banyak sekali laki-laki [di Indonesia] yang punya pemikiran sama, cuma tidak berani speak up, tidak berani stand up, karena mereka merasa kalau mereka berani speak-up atau stand-up, mereka dianggap 'perempuan', tidak 'laki banget'. Sebagai 'male pro-feminist', apakah kamu memanfaatkan privilese yang dimiliki laki-laki?
Selemah-lemahnya laki-laki, dia selalu mendapat privilese. Kami di Aliansi Laki-Laki Baru menggunakan strategi itu. Kami laki-laki itu punya privilese, kami gunakan untuk mendegradasi privilese kami sendiri. Caranya kami bisa bicara di depan publik, tidak akan ditanya macam-macam. Kami menggunakan itu mempromosikan tentang ketidakadilan, meskipun sebetulnya kami punya potensi kehilangan privilese itu yah. Tapi kami menyadari bahwa privilese itu tidak memberikan dampak positif. Betul enggak masalah bagi para lelaki jika privilese-nya berkurang?
Itu adalah salah satu pertanyaan yang paling sering kami refleksikan bersama. Karena, sesuatu yang nikmat itu kan kadang berat untuk ditinggalkan. Namun, dalam refleksi kami, for the greater good, kenapa enggak? Kalau kita bisa berbagi kuasa kenapa enggak. Kan enggak semua hal bisa dilakukan oleh laki-laki. Akan jauh lebih baik kalau kita bisa bekerjasama tanpa melihat kamu perempuan, kamu laki-laki, kamu trans atau kamu homoseksual. Kita melihat orang lain sebagai manusia.

Dalam pandangan laki-laki, separah apa sih dampak langgengnya partiarki?
Kasus Ruben Onsu itu contoh. Privilese laki-laki kan selama ini enggak usah pusing sama pengasuhan anak. Jadi yang ngurusin anak dan sebagainya dianggap secara 'kodrati' sebagai tanggung jawab perempuan. Padahal, laki-laki ingin juga dekat dengan anaknya, ingin juga mengasuh, menggendong, memandikan. Hanya karena bagi beberapa sistem kebudayaan kita kalau laki-laki masuk dalam wilayah itu, maka dia akan berkurang 'kelaki-lakiannya'. Itu kan merugikan sebenarnya. Belum lagi perkembangan anak yang kehilangan figur ayah. Beberapa kali kami bikin pelatihan, dan salah satu refleksi yang kami gunakan adalah bagaimana laki-laki dekat dengan ayahnya. Hampir semua peserta merasa betapa mereka jauh dari ayahnya, karena semua tanggung jawab pengasuhan diambil alih oleh ibu. Lalu misalnya ada situasi bahwa misalnya pasangan suami dan istri, istrinya punya potensi karir dan penghasilan yang lebih besar daripada suami. Namun karena suaminya merasa sebagai pemimpin, maka tindakan yang diambil melarang istrinya bekerja. Padahal dari segi pendapatan dan potensi karir, suaminya jauh lebih susah. Ini kan sebenarnya merugikan keduanya.

Aku dulu tahunya ALB fokus menentang kekerasan pada perempuan. Kalau sekarang cakupan kegiatannya seperti apa?
Kampanye kami tetap bicara tentang kekerasan terhadap perempuan. Tapi wacana yang digarap lebih dari itu. Kami sadar bahwa persoalannya bukan hanya karena jenis kelamin dan gender. Ada persoalan yang intersectional. Kami melihat bahwa persoalannya adalah relasi kuasa yang timpang. Jika perempuan yang berkuasa, tapi dia masih mengadopsi nilai-nilai maskulinitas, maka besar kemungkinan dia masih mengadopsi nilai-nilai toxic masculinity, dia akan melakukan hal yang sama. Perempuan itu tetap akan melakukan power abuse, menggunakan kekuasaannya untuk menindas orang lain, baik itu perempuan maupun laki-laki.

Sebagai laki-laki, serumit apa kamu melihat tantangan perempuan Indonesia saat ini?
Kalau disuruh mengungkapkan satu per satu itu akan sangat sulit. Siapa yang paling tertindas dalam struktur masyarakat patriarki sekarang? Misal dia perempuan, pekerja seks, beragama nonmuslim, etnis Cina, dan dianggap bukan 'pribumi', terinfeksi HIV pula. Stratanya akan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki yang mengalami itu semua. Secara tidak sadar, hampir semua kebudayaan hampir semua memberikan privilese yang sangat banyak kepada laki-laki. Lahir nih misal, kelihatan penisnya, dia tidak akan dipertanyakan kalau nanti dia akan keluar malam, dia tidak akan dipertanyakan kalau bercita-cita menjadi pemimpin, atau dia tidak akan dijadikan bahan omongan kalau dia mau gonta-ganti pacar atau kalau melakukan kekerasan. Sebaliknya kalau perempuan, kondisi ekonomi sama, kondisi sosial sama, tetap saja lelaki yang memiliki privilese yang lebih besar dari perempuan karena dikonstruksi masyarakat. Jadi kami laki-laki, harus membayar utang sejarah karena sudah ribuan tahun kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan dibiarkan, dan sangat jarang lelaki mengambil peran dalam hal itu.

Syaldi menjadi salah satu panelis Feminist Fest. Acara ini digelar pada 26-27 Agustus 2017, berlokasi di SMA 1 PSKD, Salemba, Jakarta Pusat. Festival ini akan menggali lagi nilai penting feminisme di Indonesia untuk Abad 21. Sesi-sesi FemFest termasuk panel pleno, diskusi kelompok kecil, lokakarya, dan kelas mengenai berbagai tema: mulai dari kekerasan terhadap perempuan, identitas gender, hingga ekofeminisme. Simak jadwal lengkap acaranya melalui tautan berikut. Selain itu, jika kalian ingin mengetahui lebih lanjut tentang Aliansi Laki-Laki Baru? kunjungi situs resmi mereka..