dokumenter

Surealnya Tradisi Berburu Dengan Elang di Qatar

Sutradara Italia, Yuri Ancarani, menggambarkan betapa adu elang di Qatar sebetulnya terpengaruh nilai-nilai Barat lewat film dokumenter ‘The Challenge'.
15.8.17

Artikel ini pertama kali tayang di The Creators Project.

Kegiatan berburu menggunakan burung pemangsa, seperti elang, adalah sebuah subkuktur yang menarik. Meski tergolong kebiasaan kuno dan kontroversial (lantaran burung elang dibiakkan dengan paksa dan tingginya ekspor serta impor burung pemangsa), syekh-syekh Qatar memodifikasi kebiasaan yang awalnya hanya sarana bertahan menjadi sebuah tontonan modern—seperti lazimnya dilakukan juragan minyak timur tengah— yang jor-joran. Sebuah film dokumenter baru The Challenge, besutan sineas Italia Yuri Ancarani, membawa kita masuk dunia para syekh dan elang-elangnya dengan cara penyajian yang indah dan mewah. Tak cuma itu,The Challenge mengungkap dampak ide-ide kultural ala kapitalisme barat pada penduduk kawasan Teluk dan menyajikan lanskap gurun Qatar yang menawan. Falconry, sebutan untuk adu elang dan perburuan memakai elang, sejatinya cuma pintu masuk yang digunakan Ancarani untuk membedah dunia para syekh. Ancarani punya motif lain: membuat film yang bersetting di kawasan gurun. Acuan Ancarani adalah film Zabriski Point karya Michelangelo Antonio dan Easy Rider besutan Dennis Hopper. Ide film ini muncul saat Ancarani ambil bagian dalam kegitan American restropective di Hammer Museum. Selama residensi di sana, Ancarani menggodog idenya serta mengunjungi gurun-gurun yang terletak di California, Nevada, Arizona, hingga Utah.

"Aku sadar gurun yang kekinian banget enggak mungkin ada di Amerika Serikat realized that the desert of today couldn't possibly be the American desert," ujar Ancarani kepada Creators. "Untuk menceritakan kisah yang kekinian banget, aku harus pergi ke tempat lain….Qatar."
Tak sekadar menjadi film tentang aktivitas falconry di gurun, Ancarani menyebut The Challenge sebuah film tentang "kelemahan dunia barat" seperti uang, kuasa pria, status serta lainnya. Artinya, film ini bakal jadi cermin besar yang menunjukkan betapa massif pengaruh peradaban barat.

Di satu sisi, The Challenge adalah film tentang tradisi—dalam hal ini falconry—yang secara genetis sudah diobrak-abrik. Jadi, Ancarani memang memilih Qatar bukan karena topografi gurunnya, namun karena Qatar adalah salah satu raksasa ekonomi di dunia.

"Saat aku mengenalkan diri sebagai seorang Italia, sheikh-sheikh di sana tak bosan-bosannya mengulang tiga nama di depanku: Beretta, Prada, dan Ferrari," ucap Ancarani. "Tak terlalu susah menarik hati mereka. Aku cuma menceritakan kegemaranku dan berusaha memahami kegemaran mereka. Proses berbagi kegemaran dan berusaha memahami budaya sudah berumur ribuan tahun ini sangat intens dan rumit." Setelah tinggal cukup lama di kawasan Teluk, Ancarani bisa menemukan kesamaan antara orang Italia, Amerika Serikat dan Qatar dan itu adalah tiga pilar penting dalam peradaban barat: kontrol, hirarki dan kekuasaan.

"Jangan lupa Qatar durunya salah satu kawasan gurun paling keren di Bumi. lalu, sekonyong-konyol sekelumit kawasan ini jadi segalanya," kata Ancarani. "Dulunya, berburu dengan elang bukanlah sarana pamer kekayaan seperti yang kini lazim terjadi—awalnya, ini adalah cara mencari makanan untuk bertahan hidup. Tradisi ini sudah berumur ribuan tahun."

Siapapun yang kelak menonton The Challenge akan menikmati gambar-gambar mencengangkan, dari lanskap gurun, cita rasa fesyen para sheikh, burung-burung elang dan sejenisnya. Beberapa gambar lainnya bakal terasa ganjil, seperti seperangkat TV raksasa di permukaan gurun yang menayangkan elang mengapung di langit, seekor cheetah duduk di kursi depan mobil mewah bersama seorang sheikh serta seorang sheikh lain menyalakan mesin truk dengan mata terpaku pada kamera Ancarani. Sineas asal Italia ini merasa terdorong menggambarkan masa kini dengan simbol visual yang kuat. Bagi saat ini adalah saat yang tepat untuk berkarya di kawasan Teluk ketika hasrat untuk mengadopsi kebiasaan dan ide-ide barat sedang hangat-hangatnya.

"Berburu dengan elang ini mirip dengan kultur hip-hop," Ancarani merenung. "Atau malah, kalau dipikir-pikir lagi, ini mirip dengan kebiasaan pesohor Hollywood di tahun 60an mengambil foto diri di vila mereka bersebelahan dengan hewan-hewan ganas."