Sepakbola

Sudah Waktunya Diving Dianggap Sebagai Seni Bermain Sepakbola

Ayolah, akui saja, pura-pura menjatuhkan diri dalam pertandingan butuh skill tersendiri. Seni curang di olahraga terpopuler sedunia itu perlu kita maknai ulang.
Foto oleh PA Images.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Gaya lari banteng nyeruduk lalu tersungkur, gaya terjun payung, ekspresi kesakitan bak aktor peraih Oscar, gaya Ashley Young yang naif, gaya jatuh penuh estetika, dan macam-macam lainnya. Semua itu adalah jenis-jenis teknik pura-pura menjatuhkan diri, alias diving, dalam pertandingan sepakbola. Sayang, organisasi pengelola kompetisi ogah memberi klasifikasi terhadap berbagai teknik itu, kecuali meringkusnya dalam satu istilah saja: tindakan curang. Padahal, kalau mau jujur, penggemar sepakbola punya analisis terhadap rupa-rupa cara pemain sepakbola menjatuhkan diri.

Iklan

Mungkinkah olahraga terpopuler sedunia ini salah mengartikan esensi diving? Berdasarkan panduan WikiHow (situs yang memberi panduan terhadap SEMUA hal di dunia ini, mulai dari cara memasak pasta sampai trik lolos tes urin kepolisian), langkah pertama agar kalian sukses menjatuhkan diri di lapangan hijau adalah membuang harga diri. Udah gitu doang. Seperti itulah diving dipandang oleh khalayak umum.

Benarkah? Bukankah pola pikir macam itu kurang adil? Menjatuhkan diri yang terlihat meyakinkan, sampai berbuah penalti misalnya, butuh skill tersendiri lho. Tidak cukup hanya niat berbuat curang saja. Kalian harus mengkombinasikan berbagai faktor dalam hitungan detik. Momentum gesekan dengan pemain lawan, akting, menangis, teriak kesakitan, dan masih banyak lagi. Diving yang oke butuh nuansa dan kepekaan. Kenapa orang justru tidak bisa mengapresiasi sulitnya pemain melakukan aksi pura-pura jatuh yang sempurna?

Ya oke deh. Orang macam saya yang menggemari pemain dengan kemampuan menjatuhkan diri barangkali cuma minoritas. Setiap kompetisi besar, baik di level antarklub maupun Piala Dunia selalu diwarnai aksi diving, yang memaksa official dan pemain menuntut wasit menghukum para pemain "nakal". Sementara untuk penonton selama diving menguntungkan klub yang mereka bela, pasti mereka bakal diam saja. Perhatikan saja, suporter akan memaki habis-habisan pemain lawan yang menjatuhkan diri, sementara bintang klub mereka yang gampang jatuh dan terlihat letoy di kotak penalti lawan akan disanjung sebagai atlet yang piawai.

Iklan

Jurgen Klinsmann terkenal suka pura-pura jatuh, dia pun mengakuinya secara terbuka. Foto oleh PA Images.

Agar aksi menjatuhkan diri bisa kita apresiasi lebih tinggi, penting untuk memahami alasan sebagian pemain melakukannya. Sepakbola modern kini semakin mengandalkan fisik. Kecil kemungkinan pemain depan atau sayap dengan tinggi tak sampai 180 cm, bisa bertahan dari terjangan bek tengah bertubuh raksasa. Satu-satunya cara ya menjatuhkan diri itu tadi. Diving justru sarana bagi pemain yang kalah dari segi ukuran untuk berbalik memenangkan pertandingan. Coba bayangkan kalau akting menjatuhkan diri sepenuhnya dilarang dengan hukuman berat. Pemain bertubuh mungil justru tak akan bisa maksimal menampilkan skill-nya. Mereka akan tertutup oleh atlet dengan badan lebih kekar dan kemampuan lari lebih cepat. Membosankan sekali bukan?! Bentuk pemain bola akan seragam semua. Sungguh permainan yang tak menarik perhatian saya.

Diving makanya wajib kita sebut sebagai seni. Setidaknya seni mengelabui musuh dan wasit sekaligus. Gabungan ilusi optik meyakinkan wasit telah terjadi pelanggaran, bahkan meyakinkan pemain yang sebenarnya tidak menjegal langsung kalau dia melakukan memang bersalah. Emangnya gampang?

Malah, menurut saya, stigma buruk terhadap pelaku diving bukan dipengaruhi oleh sportivitas, tapi dibentuk pandangan mengenai maskulinitas. Pemain yang gampang jatuh ketika senggolan sama lawan, dianggap kurang 'cowok' atau letoy. Banyak suporter yang mengata-ngatai tukang diving dengan sebutan yang seksis, mengasosiasikannya sama perempuan. Buktinya ya kata-kata Gary Lineker. Pemain legendaris Inggris itu pernah bilang, wasit sebaiknya mengganjar pelaku diving dengan "kartu pink". Sudah jelas lah asosiasi pink maksudnya apa.

Iklan

Tentu saja, pandangan lain yang menyudutkan pelaku diving dipengaruhi sentimen nasionalisme. Setiap negara berusaha mengklaim bangsanya lebih macho daripada bangsa lain. Makanya pemain asing asal Italia, misalnya, akan dicemooh sebagai tukang diving oleh suporter Inggris. Di Premier League, banyak pemain asli Inggris yang mencap pemain asing sebagai pelaku diving. Salah satunya Alan Stubbs, mantan punggawa lini belakang Everton. "Mereka lancar berbahasa Inggris, tapi kalau sudah giliran (diving) mereka seakan-akan tidak memahami ucapan kami."

Stubbs mungkin lupa, pemain pertama yang melakukan aksi pura-pura jatuh dalam pertandingan disiarkan televisi adalah Francis Lee, mantan striker Manchester City, kelahiran Inggris totok. Atau dia lupa sama nama John MacDonald, tukang diving yang membela Glasgow Rangers sampai-sampai dia pernah punya julukan 'kapal selam' karena gampang banget ndlosor di lapangan hijau tiap ditekel bek lawan. Oh, juga Michael Owen, penyerang legendaris Timnas Inggris yang bisa banget diving sambil memasang muka tanpa dosa, berbekal wajahnya yang imut. Jadi mengira aksi pura-pura jatuh adalah kebiasaan pemain dari kebangsaan tertentu sebetulnya tolol banget.

Diving legendaris Michael Owen saat melawan Fulham. Foto oleh PA Images.

Pandangan yang negatif memandang diving paling banyak muncul di Inggris dan Amerika Serikat. Di AS, atlet yang gampang jatuh saat kontak fisik dianggap lemah, dan lagi-lagi, mirip perempuan. Cabang olahraga di AS mengharamkan aksi macam itu karena tidak macho.

Iklan

Setidaknya itu komentar jurnalis Amerika saat menyaksikan Arjen Robben pura-pura jatuh dalam pertandingan di Piala Dunia 2014. "Dia meraung seakan-akan kakinya putus atau seragamnya terbakar api," ujarnya. "Tindakan memalukan ini harus dihentikan."

Iya deh, kalian para jurnalis macho dari negara dengan olahraga full kontak fisik macam NFL, yang ternyata membuat pemain mengalami gegar otak jauh setelah pensiun. Makan tuh adu fisik melulu.

Padahal di Brasil, diving dianggap sebagai aksi perlawanan. Ketika aksi pura-pura jatuh berhasil memberi keuntungan bagi tim, maka pelakunya dipuja-puja oleh sebagian suporter. Si pemain dianggap cerdas. Artinya, kita tidak bisa serta merta menganggap diving hanya tindakan curang oleh manusia licik. Tiap negara dan budaya punya persepsi berbeda terhadap diving. Makanya, bila kita mengadopsi pola pikir seragam terhadap diving, kita menghilangkan nuansa dan konteks yang hadir dari aksi pura-pura jatuh.

Satu-satunya alasan diving tidak bisa diterima komunitas sepakbola seluruh dunia, karena dia melanggar moral. Namun, salahkah bila pemain dari generasi manapun tetap melakukannya, jika tim mereka memang mendapat keuntungan dari aksi menjatuhkan diri? Akar masalah diving adalah kebijakan zonasi dalam pertandingan sepakbola. Kotak penalti dianggap berbeda dari sisi lapangan lain. Ada keuntungan berupa tendangan dari titik 12 pas jika seseorang dijatuhkan di zona tersebut. Wajar belaka lah kalau akhirnya ada pemain sepakbola yang coba-coba cari kesempatan meraih gol mudah tanpa harus melakukan kerja keras. Melarang diving, dengan tetap mempertahankan sistem kotak penalti, sama saja menuntut keledai tidak memakan umpan wortel yang ditaruh di depan mukanya.

FIFA mulai memanfaatkan teknologi video dan kamera canggih untuk memantau apakah seorang pemain benar-benar jatuh atau menjatuhkan diri, sehingga keputusan wasit lebih akurat. Buat saya sih, pertandingan sepakbola tanpa diving sama saja makan sayur tanpa garam. Selain itu, mengharapkan olahraga ini bebas sepenuhnya dari tindakan tercela sebetulnya utopis banget. Diving, terserah mau diakui atau tidak, sebetulnya membuat pertandingan yang kita cintai itu jadi kaya warna. Menjadi sangat manusiawi.