LSD Berpotensi Jadi Alternatif Pereda Nyeri yang Tak Bikin Kecanduan

Sejumlah ilmuwan Universitas Maastricht di Belanda dan Beckley Foundation di Inggris belum lama menerbitkan penelitian yang mengamati sifat analgesik pada LSD. Karya ilmiah ini ditulis dalam rangka menyukseskan “Microdosing Research Programme” yang bertujuan menetapkan dosis optimal LSD untuk meningkatkan suasana hati, kognisi dan ketahanan terhadap rasa nyeri.

Para peneliti menemukan dosis kecil obat non-psikedelik dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri hingga 20 persen—efek yang sebanding dengan obat opioid analgesik seperti oxycodone dan morfin.

Videos by VICE

Ini merupakan studi pertama yang meninjau kembali potensi LSD sebagai obat pereda nyeri sejak masuk ke golongan narkotika yang dilarang penggunaannya pada 1960 dan 1970-an. Peneliti yakin studi lebih lanjut dapat membuka kemungkinan penggunaan zat sebagai obat pereda nyeri yang tidak menyebabkan kecanduan.

“Studi menunjukkan dosis rendah LSD hanya menghasilkan efek analgesik, bukan efek psikedelik,” ujar Jan Ramaekers, peneliti utama dan guru besar Psikofarmakologi dan Toksikologi Perilaku di Universitas Maastricht, dalam pernyataan. “Besarnya efek analgesik LSD sebanding dengan yang dihasilkan opioid dalam model nyeri yang sama.”

Mereka meminta 24 sukarelawan dengan kondisi sehat untuk masing-masing mengonsumsi 5, 10 dan 20 mikrogram LSD, atau plasebo, selama beberapa hari. Setelah itu, para peneliti mengukur tingkat toleransi rasa sakit dengan menyuruh responden merendam tangan di dalam tangki air dingin (tiga derajat celsius) selama mungkin.

Penelitiannya secara konsisten menunjukkan 20 mikrogram LSD mengurangi persepsi nyeri hingga 20 persen, yang berarti sukarelawan dapat merendam tangan lebih lama, dibandingkan dengan plasebo. Tak hanya itu saja, peserta yang minum dosis mikro sekalipun ikut melaporkan penurunan rasa sakit dan tidak nyaman.

Peneliti juga melihat efek analgesik LSD yang dirasakan setelah satu setengah jam sama kuatnya seperti setelah lima jam—menandakan dosis sekecil 20 mikrogram kemungkinan memiliki halo effect yang tahan lama terhadap rasa nyeri. Mereka menekankan respons ini muncul pada dosis yang relatif aman dan tidak menyebabkan halusinasi.

Walaupun begitu, diperlukan lebih banyak studi untuk mengonfirmasi LSD dapat dijadikan alternatif Endone atau Panadol yang lebih aman. Apabila indikasi awal ini benar, implikasi LSD analgesik yang diresepkan bisa menjadi terobosan besar dalam menangani krisis opioid di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Kanada.

“Data saat ini menunjukkan dosis rendah LSD berpotensi efektif meredakan nyeri tanpa menimbulkan konsekuensi yang terkait dengan obat pengurang rasa sakit seperti opioid,” tutur Amanda Feilding, Pendiri dan Direktur Beckley Foundation sekaligus co-director Beckley/Maastricht Microdosing Research Programme.

“Saat ini, sudah ada 16 juta orang lebih di seluruh dunia yang mengalami Gangguan Penyalahgunaan Opioid. Jumlah orang yang kecanduan akan terus bertambah jika permintaan berlebih terhadap obat pereda nyeri semacam ini tak juga ditangani.

“Saya yakin LSD tak hanya mengubah sensasi nyeri, tetapi juga hubungan subjektif kita dengannya,” imbuh Amanda. “Kemungkinan-kemungkinan ini harus terus dieksplor agar nantinya dapat menghasilkan obat pereda nyeri yang lebih aman dan tidak bikin kecanduan, serta mewujudkan kehidupan yang lebih sehat dan bahagia bagi mereka-mereka yang kesakitan.”

Follow Gavin di Twitter

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Thank for your puchase!
You have successfully purchased.