OnlyFans

OnlyFans Resmi Melarang Konten Seksual Eksplisit yang Membuat Platform itu Sukses

Manajemen OnlyFans mengklaim semua konten seksual tidak lagi bisa tayang mulai Oktober 2021. Tapi, kabarnya foto telanjang masih boleh diunggah.
20.8.21
OnlyFans Melarang Penayangan Konten Seksual Eksplisit mulai Oktober 2021
Foto ilustrasi logo OnlyFans via Getty Images

Manajemen OnlyFans membuat keputusan mengejutkan, dengan sepenuhnya melarang semua pengguna mengunggah konten “bermuatan seksual eksplisit” mulai Oktober 2021. Merujuk keterangan pers dari perusahaan pada Kamis 20 Agustus 2021, konten seksual yang masih bisa tayang hanya foto atau video telanjang, “selama masih sesuai dengan kebijakan OnlyFans.”

Iklan

Keputusan ini diambil demi mendorong pertumbuhan pengguna secara lebih stabil, dan tidak membuat citra OnlyFans lekat dengan pornografi berbayar. “Kami ingin platform ini berkembang secara berkelanjutan, dan bisa menampung kreator konten serta penonton yang beragam,” demikian keterangan jubir OnlyFans saat dikonfirmasi Motherboard, situs teknologi bagian dari VICE.

Selain itu, OnlyFans mengakui muncul tekanan dari perusahaan perbankan dan pembayaran yang menjadi mitra mereka, yang risih pada meningkatnya konten seksual eksplisit di platform tersebut.

OnlyFans awalnya tidak dirancang menjadi platform untuk merekam konten seksual yang bisa ditonton siapapun asal bersedia bayar. Platform ini dibayangkan bakal menjadi sarana mendekatkan seleb dengan para penggemar yang bersedia berlangganan. Namun, lambat laun, mayoritas kreator adalah mereka yang telanjang atau melakukan adegan seks eksplisit sesuai bayaran penggemar.

Akibat citra yang makin miring itu, Axios melaporkan OnlyFans kesulitan mencari investor baru. Padahal startup ini butuh dana segar untuk mengembangkan bisnis, demi mencapai target valuasi senilai US$12,5 miliar pada 2022.

Berkat popularitas konten-konten mesum, OnlyFans sebetulnya sudah berhasil mendapat 130 juta pengguna merujuk data terbaru. Manajemen OnlyFans memotong 20 persen pendapatan tiap kreator, dan meraup penghasilan ratusan juta dollar. Karenanya, keputusan melarang konten seksual eksplisit cukup mengejutkan, mengingat pemasukan utama mereka justru berasal dari tayangan semacam itu.

Jika merujuk aturan perusahaan yang lama, tayangan seksual eksplisit seperti masturbasi di depan kamera atau merekam adegan seks masih diperbolehkan. Jubir OnlyFans mengatakan perubahan aturan akan diumumkan segera, dan mereka siap bekerja sama dengan para kreator supaya mulus menyesuaikan diri.

Kalau hanya bicara konten pornografi, tentu saja OnlyFans bukan satu-satunya di Internet. Ada platform lain seperti Pornhub, ManyVids, atau FanCentro yang juga menawarkan konsep serupa, bahkan menjadikannya bisnis utama. Akan tetapi, OnlyFans dianggap paling mudah digunakan siapapun untuk membangun karir mesum secara cepat, sehingga popularitas platformnya meningkat drastis selama pandemi. Tak sedikit kreator di OnlyFans adalah pekerja seks di berbagai negara, yang kehilangan penghasilan selama pandemi.

Seiring makin tenarnya OnlyFans, tekanan pun bermunculan. Anggota parlemen Amerika Serikat, Ann Wagner, meminta Kejaksaan Agung memeriksa OnlyFans atas tudingan mengizinkan materi pornografi anak. Materi pornografi anak inilah yang sering memicu masalah bagi platform mesum. Pornhub pada 2020 sudah lebih dulu berbenah, karena ditekan mitra pembayaran seperti Visa dan Mastercard, selepas muncul tudingan adanya pornografi melibatkan anak di bawah umur.