The VICE Guide to Right Now

Pakar Australia Turun Tangan Selamatkan Buaya Berkalung Ban di Palu

Ban yang mencekik leher buaya malang itu 4 tahun terakhir bakal dilepas dua ahli buaya asal Australia yang jauh-jauh datang ke Palu.
13 Februari 2020, 8:40am
Pakar dari Australia Terlibat Penyelamatan Buaya Berkalung Ban Palu
Buaya berkalung ban di Palu, terlihat berjemur di tepi sungai pada 2 Februari 2020. Foto oleh Nanang/AFP

*VICE sempat menaikkan artikel yang menyebut buaya berkalung ban sudah berhasil diselamatkan oleh BKSDA bersama Matt Wrights. Setelah dikonfirmasi ulang, video yang viral itu baru proses simulasi. Redaksi mohon maaf atas ketidakakuratan informasi sebelumya. Artikel ini direvisi pukul 18.15 WIB.


Sebagai media yang perhatian sama nasib buaya berkalung ban di Kota Palu, Sulawesi Tengah, VICE terharu banget akhirnya bisa mengabarkan kalau siksaan ban yang mencekik leher sang buaya segera berakhir. Sebab, kini pakar buaya sudah turun tangan.

Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson, dua ahli buaya asal Australia yang juga pengisi acara TV National Geographic adalah dua tokoh utama penyelamatan terkini. Keduanya bersama tim yang mereka bawa mulai bekerja di Palu sejak tiga hari lalu.

Matthew Nicolas Wright dan Chris Wilson, dua ahli buaya asal Australia yang juga pengisi acara TV National Geographic, adalah nama penyelamatnya. Pada Rabu Malam (12/2), dua bule ini sudah latihan simulasi lepas ban dengan buaya lain, dan kini berusaha menyelamatkan buaya yang sebenarnya.

Pada unggahan video di akun Instagramnya, Matt mengabarkan upaya simulasi penyelamatan lewat kerjasama epic dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng dan Satuan Polisi Air Polda Sulteng. Matt menggunakan sarang perangkap atau harpun dengan mengorbankan seekor bebek sebagai pancingan (jasamu akan selalu dikenang, wahai bebek!) untuk menjebak target. Buaya yang terperangkap di harpun kemudian diseret ke daratan untuk diikat dan diselamatkan dari jeratan ban.

Salah satu kendala, menurut Matt, dari penyelesaian misi ini adalah memancing buaya untuk masuk perangkap karena kebanyakan buaya di sungai itu tidak kelaparan akibat sumber makanan yang melimpah. Emang dasar passion, ia mengaku menikmati proses sayembara ini. "Saya senang berbagi pengetahuan dengan teman-teman di Indonesia dan menunjukkan kepada mereka bagaimana menangkap dan melepaskan buaya air laut lewat cara-cara yang benar dan humanis," tulis Matt di akun instagram pribadinya.

Saat menguji coba harpun, perangkap sempat mengenai buaya lain. "Harpun kemudian kita coba, dan buaya itu terkena. Matt kemudian menariknya ke tepi. Setelah kita lepaskan harpunnya, buaya kita rilis kembali ke sungai," kata Ketua Satgas Penyelamatan Satwa Haruna kepada Kompas.

Buaya berkalung ban yang malang sempat kembali terkatung-katung. Pekan lalu sayembara sempat diputuskan ditutup karena sepi peminat. Sebelumnya juga, tim pakar satwa dari Predator Fun Park Jawa Timur udah berniat mau berangkat namun gagal karena alasan yang sangat Indonesia sekali: tidak mendapat izin tertulis dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta.

Proses administrasi ini dirasa KLHK harus dilakukan karena pemerintah minta semua tim yang mau ikutan sayembara untuk menunjukkan caranya terlebih dahulu di Jakarta. Ya ampun, udah enggak dikasih informasi berapa besar hadiahnya, prosesnya juga dibuat ribet.

Beruntung Matthew dan Chris mau ikutan prosedur ini dan akhirnya mengantongi izin dari surat Direktur Keanekaragaman Hayati Nomor S110/KKH/MJ/KSA.2/02/2020 tertanggal 20 Februari 2020 dan segera berangkat menyelamatkan buaya. Semoga semua sesuai rencana dan si buaya bisa segera terbebas dari kemalangan.

Kini, misteri yang masih jadi pertanyaan kita semua hanya satu: berapa jumlah hadiah sayembara yang katanya mau dikasih tunai itu? Apakah pemerintah tidak akan membayar dengan dalih sayembara sudah ditutup? Sebagai buaya yang paling disayang VICE, kami akan terus memantau ini.