Batman Tuh Maunya Jadi Detektif Serius Melulu atau Agak Lucu Sesudah Era Nolan?

Penggemar budaya pop terlalu lama abai sama penggambaran karakter Batman. Film 'Justice League' menunjukkan peran sang manusia kelelawar di zaman kita wajib didedifinisikan ulang.
Audy Bernadus
Diterjemahkan oleh Audy Bernadus
24.11.17

Satu hal yang paling mengganggu dari film Justice League adalah betapa Batman digambarkan seolah-olah ogah jadi anggota Justice League. Gara-gara penampilan Ben Affleck yang kurang pas buat jadi Bruce Wayne, Batman malah jadi ‘beban’ sepanjang cerita film ini. Batman sudah sering digambarkan sosok yang kelam, tapi atmosfer kelamnya Bruce Wayne di film ini berlebihan. Batman versi Affleck lebih mirip remaja emo daripada pahlawan yang telah makan asam garam kehidupan.

Sayang banget melihat salah satu ikon superhero terbaik seperti Batman malah terlihat menyedihkan di film Justice League. Sejak 75 tahun lalu, Batman sukses meraih status superhero terpopuler industri perfilman. Sekarang, saya berpikir para pembuat film sepertinya harus rehat dulu mengadaptasi karakter Bruce Wayne ke layar lebar. Menurut saya, rehat ini berguna supaya orang yang mau mengadaptasi Batman untuk medium film bisa merenung lebih lama sebenarnya Batman macam apa yang harus ditampilkan dan terasa segar buat penonton.

Sebagai karakter komik, Batman karya Bob Kane sudah ada sejak tahun 1930-an. Batman mulai difilmkan sejak 1966 lewat serial Batman Yang dibintangi oleh Adam West dan Burt Ward. Ada banyak generasi masuk menggemari serial Batman versi Adam West, biasanya generasi yang lebih muda menonton serial ini via tayangan ulang lewat televisi. Versi Adam West adalah satu-satunya contoh penggambaran karakter Batman live-action sampai tahun 70-an dan 80-an. Di masa itu, kesan serius dan suram dari Batman belum terlalu dikenal seperti sekarang.

Kita tahu, sekarang Batman melulu dikesankan detektif dan miliarder serius. Kita hidup di tahun 2017, seharusnya ada banyak nerd yang bisa menjelaskan bagaimana seharusnya Batman diadaptasi ke film supaya lebih sukses dan segar. Sebagian berpendapat Batman versi tahun 1966 penting menjadi pembanding imej Batman zaman sekarang yang monoton (terutama gara-gara tafsir Christopher Nolan). Ketika imej Batman kelamaan suram sudah satu dekade lebih berkuasa di layar lebar, saatnya Batman versi 1966 yang warna-warni bisa kita simak lagi.

Batman meraih popularitas di layar lebar pada 1989, Batman garapan sutradara Tim Burton memecahkan rekor box office dan memberi sentuhan konsep gothic ke karakter ini. Batman dalam visi Tim Burton sempat membuat Batman versi Adam West jadi lucu dan enggak keren lagi.

Padahal, sembilan tahun sebelumnya, Batman jadi karakter yang populer banget tapi dikesankan ceria. Tim Burton mengerek popularitas Batman gotik yang menelurkan karya susulannya—sebagian keren banget, tapi ada yang ancur-ancuran: Batman Returns (1992), Batman: The Mask of Phantasm (1993), Batman Forever (1995), dan Batman and Robin (1997). Serial televisi Batman: The Animated Series mendapat sambutan yang positif dari penonton karena menampilkan Batman lebih sering mengandalkan kemampuan detektif dibanding berkelahi. Jadi selama satu dekade, kita bisa melihat bergam versi Batman, dari yang sukses sampai yang bikin kita pengin cepat-cepat melupakannya.

Batman & Robin nyaris membuat waralaba Batman enggak bisa tampil di layar lebar lagi. Saking jeleknya, banyak orang benci karakter Batman. Butuh 8 tahun buat Batman kembali tayang di bioskop. Untungnya kita menunggu lama untuk sesuatu yang bagus. The Dark Knight Trilogy versi Christopher Nolan menuai banyak pujian. Pemeran Joker, Heath Ledger memenangkan Oscar. The Dark Knight adalah film superhero satu-satunya yang sukses mendapatkan 8 nominasi Oscar. Batman akhirnya bukan cuma film superhero untuk anak-anak, tapi beralih jadi film ‘serius’ yang proses penggarapannya enggak main-main.

Rating setiap film Batman selama periode kebangkitan kembali di dekade awal Abad 21 masih lumayan lah, termasuk untuk Batman v Superman : Dawn of Justice, Suicide Squad (Batman jadi cameo, tapi masih layak masuk hitungan lah) dan Justice League. Satu masalah saja sih: Batman dari trilogi filmnya Zack Snyder itu digambarkan sangat berbeda di The Lego Movie dan The Lego Batman Movie. Dunia Batman ditampilkan sebagai dunia yang lucu, jauh dari kesan kelam. Bahkan jauh lebih suram daripada versinya Nolan.


Baca juga artikel kami mengulas dunia komik Batman:

Batman juga dipaksakan Warner Bros harus gabung superhero lain di satu film, yang jelas lebih menyerupai dewa, karena satu alasan: kesuksesan The Avengers. Marvel mewujudkan keinginan mereka membuat sebuah dunia superhero utuh dari filmnya. Kesuksesan Marvel mengubah secara radikal film superhero berubah. Warner Brothers berusaha untuk melakukan yang sama dengan Marvel dengan film pertama Man of Steel. Jadi Batman harus juga ditampilkan secepat mungkin. DC Comics mengadaptasi Batman karena karakter ini bisa menarik perhatian banyak penggemar beratnya dan ini menguntungkan secara finansial. Masalahnya, ketika Batman tampil dalam Dawn of Justice, kita dipaksa memikirkan lagi hakikat karater Batman seperti apa yang bagus buat diangkat ke layar lebar. Soalnya The Dark Knight Rises sudah memberikan akhir yang pas untuk tafsir yang kelam dan serius dari sosok Batman. Kayaknya Batman serius macam itu sebaiknya rehat dulu dari industri film deh.

Terbukti, Batman super serius ala Affleck tak terlalu menarik perhatian pecinta film superhero. Warner Brothers segera memperkirakan rugi hingga US$100 juta setelah melihat performa Justice League di pekan pertama peredarannya gagal menarik penonton sesuai target. Angka kerugian itu langsung dipatok mengingat budget film ini mencapai US$300 juta (belum termasuk promosinya yang bisa separuh angka itu). Apabila studio film tidak bisa meraup keuntungan dari film yang berisi karakter-karakter ikonik, termasuk Batman, berarti pasti ada masalah. Banyak yang menyalahkan film Justice League secara keseluruhan, tapi buat saya, Batman yang memainkan peran di sini. Batman di Justice League gagal banget sampai-sampai bikin kangen Batman versi serial televisi 1966, versi Tim Burton, versi kartun, Batman yang kelihatan putingnya, Batman versi Lego, dan Batman-nya Christopher Nolan.

Film Batman terbaru kabarnya sedang dalam proses produksi, disutradarai Matt Reeves (orang yang sebelumnya menghasilkan Cloverfield dan Dawn of the Planet of the Apes). Kabar burung beredar, kemungkinan besar akan ada pergantian pemeran Batman, bukan Ben Affleck lagi. Kita tahu mungkin angka keberuntungan buat comebacknya Batman itu setelah delapan tahun vakum. Menurut saya, si pembuat film Batman versi baru ini harus pelan-pelan mengadaptasi mitologi sang manusia kelelawar yang sudah punya sejarah panjang.

Sebaiknya dia menonton lagi Batman-Batman versi jadul, dari yang live-action sampai yang kartun. Saya yakin kalau dilakukan, Batman versi terbaru bakalan bagus banget. Makanya, satu saja permintaan saya: bikin film Batman setelah era Nolan ini enggak usah buru-buru ya.