Piala Dunia 2018

Inilah Beberapa Hal yang Akan Selalu Kita Kenang dari Piala Dunia 2018

Agak hampa, tapi kok ya menarik. Berikut hasil analisis redaksi VICE terhadap gelaran pesta sepakbola di Rusia yang baru saja berakhir itu.
17.7.18
Kylian Mbappé seusai membobol gawang Kroasia di final. Foto oleh: Celso Bayo/ISI/Shutterstock

Piala Dunia kadang terasa aneh. Ketika turnamen mencapai klimaksnya, kadang pertandingan final justru rasanya tidak terlalu penting. Dimulai seperti kamp arak-arakan penuh dengan intrik, Piala Dunia justru berakhir begitu saja, kosong dan hampa, menghilang seperti pelangi ketika matahari terbenam.

Faktanya, mungkin anda bisa berargumen bahwa final Piala Dunia adalah pertandingan paling membosankan dalam dunia sepakbola—sebuah perayaan dari hilangnya kesempatan, ambisi 32 negara padam akibat satu negara pemenang yang rakus. Menonton pertandingan final anehnya menimbulkan perasaan kesepian dan kecewa, kurang lebih seperti dua orang yang adu minum hingga salah satu jatuh tertidur. Orang yang masih sadar, memang. Tapi menang apa sih sebenarnya?

Bagi Perancis, tentu jawabannya sudah jelas. Tahun ini tidak akan ada orang yang bisa menyebut pertandingan finalnya membosankan. Kroasia bermain hebat, menampilkan kualitas-kualitas yang membuat mereka mencapai puncak turnamen: keuletan, semangat, dan presisi yang luar biasa. Tapi pada akhirnya mereka dikalahkan tim Perancis berkat kemunculan talenta luar biasa: Kylian Mbappe Lottin.

Mbappe lah yang tampil memukau secara individu di babak perempat final Piala Dunia Rusia 2018. Dia tampak seperti predator yang siap menerkam bek Argentina manapun yang terlihat paling lemah, dan siap menyerang. Serangan yang menghasilkan tendangan penalti dan kemudian tendangan bebas di pinggir kotak penalti di babak pertama bagi Perancis membuat lawan ketakutan. Mbappe tampak seperti seekor serigala yang menyusup ke ruang panik timnas Argentina.

Di pertandingan itu jugalah, gol terbaik Piala Dunia 2018 tercetak. Bek kanan Perancis, Benjamin Pavard melakukan tendangan setengah voli dengan sisi luar kaki kanannya, mengirim bola ke arah luar gawang sebelum berbelok seperti pisang menghantam pojok gawang lawan.

Sabtu Siang panas itu jugalah yang menjadi saksi kepulangan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, dua bintang terbesar dalam sepakbola modern. Hanya berjarak enam jam saja, keduanya tersingkir dan menghapus harapan bahwa salah satu dari mereka bisa memenangkan Piala Dunia dan menghentikan argumen siapa yang seharusnya diingat sebagai yang terhebat.

Di hari itulah, Piala Dunia 2018 resmi menjadi turnamen yang akan diingat karena memulai era baru dunia sepakbola, tanpa Messi-Ronaldo, menghadirkan talenta-talenta baru yang memukau. Pemain-pemain macam Mbappé, Kevin De Bruyne, Neymar, Sergej Milinkovic-Savic, José Maria Giménez, Aleksandr Golovin, Dávinson Sánchez, Paulo Dybala, Marco Asensio, Harry Maguire dan masih banyak lagi berharap akan tumbuh subur dan berperan penting terhadap timnas negara masing-masing.

Hal penting lainnya yang menyenangkan adalah peran Inggris dalam turnamen. Memang mereka didukung dewi fortuna. Grup mereka relatif lebih mudah. Piala Dunia selalu lebih seru ketika tim lain harus bermain sebelum giliranmu. Bahkan kalaupun posisimu netral, rasanya seru menonton pertandingan tim yang mungkin akan kamu hadapi nanti. Memiliki pertandingan yang paling menentukan di akhir setiap babak juga memperpanjang umur turnamen tersebut.

Iklan

Bagaimana nantinya turnamen ini akan diingat dalam sejarah? Terutama dalam mikro-iklim emosional yang dibumbui perselisihan-perselisihan politik kompleks dan pergolakan sosial yang mewarnai negara tuan rumah dan seluruh negara di dunia.

Yang paling diingat nantinya adalah VAR; kehebatan Cheryshev; hukum karma yang menimpa Manuel Neuer; lebarnya badan Jo Hyeon-Woo. Piala Dunia ini akan diingat untuk air mata Mo Salah yang kurang sabar; kekalahan dramatis 3-2 Jepang di tangan Belgia; kegilaan penalti Panamania, dan tersingkirnya Peru, Iran, Nigeria, Senegal dan Serbia di awal-awal. Turnamen ini akan diingat atas sikap tiada ampun Ante Rebic, kedatangan kembali Willy Caballero ke bangku cadangan, skor 3-3 Spanyol melawan Portugal, aksi De Bruyne melawan Brasil, dan potongan rambut menjijikan Domagoj Vida.

Piala Dunia 2018 akan diingat atas keberhasilan Southgate membangkitkan timnas Inggris. Slabhead, aksi melempar bir, dan narasi takdir yang ditulis kembali. Para penonton akan mengingat kecepatan lari Mbappe, dan lemparan ke dalam Milad Mohammadi yang dianulir, bola yang menghantam Michy Batshuayi setelah memantul dari tiang.

Namun yang terpenting, Piala Dunia 2018 akan diingat sebagai salah satu Piala Dunia terbaik. Kalau kata orang sih gitu, paling tidak sampai turnamen berikutnya digilir, dan semua ritual yang sama kembali terulang.

@hydallcodeen

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.