Kencan

Berikut Daftar Kebohongan yang Biasa Kita Sampaikan di Aplikasi Kencan

Semuanya menurut peneliti bisa dikategorikan dalam dua tipe utama. Akui saja lah...
3.9.18
Getty Images

Hampir seperempat orang dewasa muda mencari cinta melalui situs web atau aplikasi kencan. Bentuk pacaran yang relatif baru ini dapat memberi kita akses ke sejumlah besar calon pasangan. Ini juga menghadirkan serangkaian tantangan unik.

Misalnya, kamu mungkin pernah mendengar tentang—atau pernah mengalami sendiri—kencan yang direncanakan secara online tetapi tidak berjalan dengan baik karena salah satu alasan berikut: Dia lebih pendek dari profilnya, dia terlihat berbeda dengan foto-fotonya, atau dia banyak bicara di teks tapi seperti sedang sakit gigi saat kencan.

Dengan kata lain, profil seseorang—dan pesan yang dikirim sebelum kopi darat—mungkin tidak mengungkapkan siapa seseorang sebenarnya. Dalam makalah baru-baru ini, rekan saya Jeff Hancock dan saya bertanya-tanya: Seberapa sering orang yang menggunakan aplikasi kencan berbohong? Hal-hal apa saja kebohongan itu? Berikut daftarnya:

‘Sori, Hape Gue Mati Tadi’

Studi kami adalah salah satu dari yang pertama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tetapi yang lain juga telah memeriksa penipuan dalam kencan online. Penelitian sebelumnya berfokus pada profil kencan. Penelitian telah menemukan, misalnya, bahwa laki-laki cenderung melebih-lebihkan tinggi mereka dan berbohong tentang pekerjaan mereka, sementara perempuan mengecilkan berat badan mereka dan cenderung memasang foto yang kurang akurat. Tetapi, profil hanyalah salah satu aspek dari proses kencan online. Baru setelah mengirim pesan kamu akan memutuskan apakah kamu ingin bertemu dengannya.

Untuk memahami seberapa sering orang berbohong kepada pasangan mereka dan apa yang mereka palsukan, kami mengevaluasi ratusan pesan teks setelah dua belah pihak match dan sebelum mereka bertemu—periode yang kami sebut “fase penemuan.” Kami merekrut sampel online lebih dari 200 peserta yang memberi kami pesan-pesan mereka dari percakapan kencan baru-baru ini dan mengidentifikasi kebohongan, dengan beberapa peserta menjelaskan mengapa pesan-pesan ini menipu dan bukan lelucon.

Kami menemukan bahwa kebohongan di aplikasi kencan dapat dikategorikan ke dalam dua tipe utama: Jenis pertama adalah kebohongan yang berkaitan dengan presentasi diri. Jika peserta ingin menampilkan diri mereka sebagai lebih menarik, misalnya, mereka akan berbohong tentang seberapa sering mereka pergi ke gym. Atau jika lawan bicara mereka tampak religius, mereka mungkin berbohong tentang seberapa sering mereka membaca Alkitab untuk membuatnya tampak seolah-olah mereka memiliki minat yang sama.

Jenis kebohongan kedua terkait dengan manajemen ketersediaan, dengan orang-orang yang menjelaskan mengapa mereka tidak dapat bertemu, atau memberikan alasan untuk tidak melanjutkan interaksi, seperti berbohong tentang sinyal jelek. Tipuan ini disebut “butler lies” karena ini adalah cara yang relatif sopan untuk menghindari komunikasi tanpa benar-benar menolak seseorang. Jika kamu pernah mengirim SMS, “Sori, tadi HP gue mati,” padahal kamu lagi males nanggepin, berarti kamu telah mengatakan “butler lies.”

Iklan

Kebohongan macam itu tidak membuatmu jadi orang brengsek. Hal ini malah membantumu menghindari kesalahan kencan, seperti selalu balas cepat atau terkesan putus asa.

Bohong Untuk Menghindari Masalah atau Menipu?

Sementara penipuan atas presentasi diri dan ketersediaan merupakan kebohongan, kami mengamati bahwa hanya 7 persen dari semua pesan yang dinilai salah dalam sampel kami. Mengapa tingkat penipuan ini rendah? Temuan yang kuat di seluruh studi penipuan baru-baru ini menunjukkan bahwa mayoritas orang jujur dan bahwa hanya ada segelintir pembohong kelas kakap di tengah-tengah kita.

Berbohong untuk tampil seperti pasangan yang baik atau berbohong tentang keberadaanmu bisa menjadi perilaku yang sepenuhnya rasional. Faktanya, kebanyakan orang di internet mengharapkannya. Ada juga manfaat dari kebohongan kecil: Hal ini dapat membuat kita menonjol di aplikasi kencan, sekaligus membuat kita merasa bahwa kita tetap setia pada siapa diri kita.

Namun, kebohongan yang nyata dan menyebar—menyebutkan kesukaan kita pada anjing, tetapi sebenarnya alergi—dapat merusak kepercayaan. Terlalu banyak kebohongan besar bisa menjadi masalah untuk menemukan jodoh. Ada hasil menarik lain yang berbicara kepada sifat penipuan selama fase penemuan. Dalam penelitian kami, jumlah kebohongan yang diceritakan oleh seorang peserta berhubungan positif dengan sejumlah kebohongan yang mereka yakini dikatakan pasangan mereka.

Jadi kalau kamu jujur dan mengatakan sedikit kebohongan, kamu berpikir bahwa orang lain juga jujur. Jika kamu mencari cinta tetapi berbohong untuk mendapatkannya, ada peluang baik bahwa kamu akan melihat orang lain berbohong kepadamu juga. Oleh karena itu, mengatakan kebohongan kecil untuk cinta adalah hal yang normal, dan kita melakukannya untuk mencapai suatu tujuan—bukan hanya karena kita bisa.


David Markowitz adalah guru besar analisis data media sosial dari the University of Oregon. Artikel ini sebelumnya pernah tayang di The Conversation. Baca artikel aslinya di tautan ini .