Anime

Tonton Trailer The Glassworker, Film Kartun Manual Asal Pakistan yang Terpengaruh Studio Ghibli

'The Glassworker,' karya pertama Mano Animation Studios, kelihatan keren dan enggak kalah dibandingkan film-film Studio Ghibli
23 Februari 2018, 5:10am
Gambar milik Mano Animation Studios

Lebih dari 11.000 km dari studio tempat animator legendaris Hayao Miyazaki berkarya selama hampir 40 tahun, seorang animator muda menyuntikkan darah segar kancah film animasi dengan mendirikan Mano Animation Studios, rumah animasi gambar tangan pertama di Pakistan. Trailer Karya pertama studio yang bermarkas di Karachi tersebut, The Glassworker, baru-baru ini diunggah ke YouTube. Plot film ini berkisah tentang persahabatan antara Vincent, murid seorang pengrajin kaca, dan Alliz, anggota keluarga kerajaan, melewati peperangan dan kemelut politik.

Empat menit pertama film ini kental dengan aroma Studio Ghibli. Hal ini sudah dielakkan karena pendiri Mano, Usman Riza, tak pernah malu mengakui terinspirasi Miyazaki, Isao Takahata, Takeyuki Kanda, dan Disney. Dari semua namanya yang disebutkan Riaz, Miyazaki punya pengaruh paling kuat dalam The Glassworker. Seperti Howl’s Moving Castle dan Castle In The Sky, The Glassworker bersetting di sebuah kota fiksi—mirip dengan kota-kota di Eropa—dengan balon zeppelin melayang di angkasa. “Saya suka apa yang dilakukan oleh animator Jepang saat menggarap karakter dan setting Eropa,” kata Riza lewat Skype. “Di The Glassworker, saya ngerasa bakalan asik kalau orang-orang Eropa memiliki tindak tanduk seperti orang Pakistan dan ngobrol dengan bahasa Urdu.”

Dalam kampanye penggalangan dana di Kickstater pada 2016, Riaz menjanjikan sebuah film kartun yang digambar manual dan kaya dengan pernak-pernik budaya Pakistan. Riaz berhasil mengumpulkan dana sebensar $116.000 (sekitar Rp1,5 miliar), dua kali lipat target awal Riaz, $50.000 (sekitar Rp684 juta). Jika tak ada aral melintang, Riaz sedianya bakal menyelesaikan film panjang pertamanya pada 2020. Artinya, film pertama Riaz akan bersaing dengan film pamungkas Miyazaki, Boro the Caterpillar. Barangkali kalian penasaran sebesar apa pengaruh Miyazaki dalam The Glassworker, cuplikannya bisa dilihat di bawah ini (versi khusus berdurasi 8 menit juga tersedia khusus para donatur di Kickstarter).

Sebelum mendirikan Mano, Riaz hidup jauh dari kancah animasi. Pada umur 21 tahun, video permainan gitarnya yang perkusif viral di di YouTuve. Riaz juga pernah tercatat sebagai Senior TED Fellow paling muda sampai saat ini. Dan berkat presentasinya yang sudah ditonton 3,8 juta kali, Riaz lantas pindah ke California dan kuliah di Berklee College of Music. Kendati demikian, Riaz paling malah digelari “ guitar prodigy” atau “ whiz kid”—padahal dia pantas mendapatkannya kalau melihat presentasi-presentasinya di TED dan penampilannya Tiny Desk Concert. Namun, belajar musik di Amerika Serikat justru menyadarkannya bahwa animasi adalah mintanya yang sesungguhnya. “Tiga tahun saya kuliah di Berklee, saya terus bertanya-tanya, gue di sini buat apa sih?” katanya.

Riaz memanfaatkan koneksi TEDnya untuk melancong ke Tokyo. Di kota tersebut, dia memberikan kuliah tentang kecintaannya pada animasi dan menyempatkan diri ikut tur lagka ke Studio Ghibli. “Baru masuk gerbangnya saja, saya sudah mewek,” aku Riaz. saat itu, The Wind Rises, yang digadang-gadang sebagai karya terakhir Miyazaki sudah dirilis. Alhasil, dia menyaksikan studio penghasil My Neighbor Totoro, Princess Mononoke, dan Spirited Away tengah kosong dan menganggur. “Enggak ada orang sama sekali di sana,” kenang Riaz. “Miyazaki punya sebuah tim kecil yang bekerja di bawahnya, sisanya studio itu kosong melompong.” pemandangannya yang agak mengecewakan bagi Riaz. Namun, Riaz makin matang dengan keputusannya. Tak lama setelah kembali dari Jepang. Riaz keluar dari Berklee dan banting setir jadi animator.

Sekembali ke Karachi, Riaz harus membangun industri animasi manual dari awal. Untungnya, Riaz cukup punya modal. Sebelum bertolak ke Amerika Serikat, Riaz sempat belajar dasar-dasar animasi. Dia juga pernah menimba ilmu desain grafis dan ilustrasi di Indus Valley School of Art. Jauh sebelum itu, Riaz pernah secara otodidak belajar membuat flipbook dengan menggunakan salinan buku Bugs Bunny: 50 Years and Only One Gray Hare milik ayahnya.

CalArts, Pixar, Disney atau Studio Ghibli tak buka cabang di Pakisatan. Yang ada hanyalah rumah produksi animasi yang mengkhususkan diri menggarap iklan, film pendek 3D dan film-film CGI. Mulanya, Riaz menyodorkan The Glassworker pada beberapa rumah produksi tersebut. Bukannya disambut meriah. Ide Riaz ditolak mentah-mentah. “Saya malah ditertawakan dan disangka gila,” ujar Riaz. “Waktu saya bilang tak ada industri animasi manual di Pakistan, saya serius. Industrinya memang beneran tidak ada.”

Pelaku industri animasi di Karachi bahkan tak mudeng sisi menarik dari film-film Disney dan animasi Jepang lama yang sengaja ditunjukkan Riaz. memang, ada satu studio yang menyatakan ketertarikan mereka terhadap ide cerita The Glassworker. Sayangnya, mereka keukeuh ingin filmnya dibuat dengan teknik CGI. “Saya bilang ‘lupakan saja, saya garap sendiri deh. Saya bakal cari kru yang berminat. Film ini harus benar-benar digambar tangan.’”

Penggarapan The Glassworker awalnya berjalan lamban. Film ini sedikit membutuhkan 900 sampai 1000 adegan. Dalam dua tahun pertama, Riaz baru mengelarkan 95 adegan saja. Hal ini bisa dipahami sebab waktu itu Mano Studio hanya terdiri dari Riaz dan Istrinya Miriam Riaz Paracho. Sejak saat itu, Mano Studio terus menambah awak. Kini, tim Mano Studio terdiri dari 20 orang anggota yang masing-masing punya peran tersendiri dari animator, pembuat storyboard, produser, desainer karakter dan lanskap lingkungan, background artist hingga sound mixer. Beberapa di antara belajar langsung di bawah bimbingan Riaz. Proses penggarapan masih lelet namun itu semua disebabkan oleh proses pembelajaran. Belakangan, Mano Studio telah menemukan ritme bekerjanya sendiri.

Kendati banyak tantangan yang menghadang, Riaz masih tetap optimis. “Rasanya seperti tengah melakukan trik sulap,” terang Riaz tentang pengalamannya menggarap The Glassworker. “Saya baru merasa berhasil melakukan sesuatu begitu filmnya kelar.”

Ikuti kiprah Mano Animation Studios dan The Glassworker lewat website resmi mereka .