Travel

Menyambangi Bocah-Bocah Penunggu Kuburan Pondok Kelapa

Di Taman Pemakaman Pondok Kelapa, Jaktim, ada bocah merangkap tugas sebagai penggali kubur, perawat nisan, sekaligus penjaga malam bagi orang-orang mati di sana.
Bocah-Bocah Penunggu Kuburan Pondok Kelapa
Semua foto oleh Lody Andrian.

Artikel ini pertama kali tayang untuk VICE US. Dimuat ulang karena masih relevan dengan situasi terkini kawasan Jabodetabek.

Beberapa tahun belakangan, orang-orang tajir di Indonesia rajin menghias (calon) kuburan semewah mungkin. Inspirasinya barangkali memorial park yang ada di California Selatan dari abad pertengahan. Kuburan mewah di luar negeri itu sudah cukup lebay lho, tetapi nyatanya kemewahan rumah orang mati di Indonesia lebih gila lagi. Taman Pemakaman San Diego Hills Memorial Park, contohnya, dibuka sejak 2007. TPU ini menyerupai taman bemain untuk mendiang orang superkaya dan sanak familinya. Di kawasan pemakaman elit itu terdapat restoran, kolam renang, tempat berkemah, hingga perahu dayung layaknya kalian sedang berada di “Lake Los Angeles”.

Iklan

Situasi yang amat berbeda akan kita temukan saat mendatangi TPU Pondok Kelapa. Pemakaman ini lebih dari tiga tahun lalu sempat santer diberitakan media lokal, karena ditemukan jasad korban pembunuhan di sela-sela nisan. Bukan masalah jasad itu yang bikin kuburan Pondok Kelapa menarik. Jika kalian menyempatkan mampir ke sana, kawasan pemakaman Jakarta Timur ini rupanya dijaga oleh gerombolan bocah cilik yang sehari-hari juga bermukim di sana. Begitulah realitasnya. Di saat orang-orang kaya di Indonesia sibuk menghias kuburan (bahkan mungkin bersaing kemewahan hingga liang kubur), ada juga manusia yang terlampau miskin untuk bisa tinggal layak di bawah atap rumah, sehingga mereka tak punya pilihan kecuali tidur sehari-hari di pemakaman. Kontras macam ini tidak aneh sih, mengingat Indonesia adalah negara dengan tingkat ketimpangan ekonomi ada di posisi ke-4 sedunia, menggambarkan betapa lebarnya akses antara mereka yang kaya dan kelompok paling miskin.

Saat kontributor VICE berkunjung ke sana, ada satu bocah yang mengaku sehari-hari menjadi penjaga TPU Pondok Kelapa. Namanya Riski. Sebenarnya dia tidak tahu berapa usianya saat itu, tetapi kelihatannya sih dia berumur 7 tahun. Sehari-hari, Riski bertugas menguburkan jenazah sekaligus membersihkan nisan dari rumput liar atau sampah.

1517996534721-bocah2

Foto oleh Lody Andrian.

Saat saya dan rekan fotografer menemuinya, ia dan temannya bernama Putra, sedang memainkan cicak yang ada di kantong plastik. Riski mengenakan kaus bertuliskan “Slank No Drugs”, sambil beralaskan sandal Crocs imitasi. Saat kami bertanya mengenai Riski pada pedagang di sekitar kuburan, rata-rata pedagang membenarkan kalau dia dan temannya adalah penjaga kuburan termuda di Pondok Kelapa. Riski adalah anak pemulung plastik sejak lama mangkal di TPU Pondok Kelapa untuk memburu sampah yang berserakan di batu nisan.

Iklan

Tak berapa lama kemudian, kami kembali mengajak ngobrol Riski. Kami bertanya apa yang sedang mereka berdua lakukan siang-siang begini, ketika tak bertugas menggali kubur atau membersihkan nisan. Riski mengatakan hari itu, karena senggang, dia dan Putra berburu cicak.

1517996568670-cicak

Foto oleh Lody Andrian

“Kamu tinggal di sekitar sini?” tanyaku.

“Ya, aku sama Putra tinggal di sana,” balas Riski. Ia menunjuk sebuah gubuk yang terbuat dari atap seng di pinggiran taman pemakaman.

Saya tak lupa menanyakan di mana orang tuanya. Bukannya menjawab, dia malah mengajak saya mampir gubuk tempat tinggalnya. Di dalam gubuk itu, ada perempuan tua yang mereka panggil “nenek”. Wanita tua ini selama bertahun-tahun tinggal di kawasan TPU Pondok Kelapa dan mengasuh anak-anak terlantar yang tinggal di kuburan. Perempuan sepuh itu mengurus masalah rumah, sedangkan anak-anak ini yang bertugas merawat kuburan.


Tonton dokumenter VICE mengenai profesi penggali makam di Indonesia:


Kepada saya, Riski mengaku biasa mendapatkan Rp1.000 hingga Rp5.000 untuk merawat kuburan lama, atau menggali dan membersihkan kuburan baru. Kalau terlibat dari awal proses pemakaman, biasanya dia bisa mendapat upah dari keluarga mendiang sebesar Rp20.000. Uang tak setiap saat diperoleh. Sering juga dia tidak mendapat upah sama sekali. Bagaimana kalau dalam sehari sama sekali tidak ada keluarga mendiang yang membutuhkan penjaga kuburan seperti Riski. “Ya, kami tidak makan, kak,” cetusnya singkat. Dia tidak terdengar sedih sama sekali saat mengatakannya. “Udah terlanjur jadi hobi juga nih,” kata Riski. “Aku senang pas ada orang yang meninggal karena artinya aku ada kerjaan. Aku suka bantu nguburin orang, apalagi kalau hasil kerjaanku bagus.”

Iklan
1517996598100-bocah3

Riski bertugas merawat pemakaman Islam, yang berarti tidak ada peti. Karena prosesi pemakaman memakai tata cara Islam, jenazah sudah pasti wajib dimandikan, dibungkus kain kafan, dan bagian pergelangan kaki, tangan, serta kepalanya akan diikat tali. Ikatan tali di bagian kepala harus dilepas sebelum mayat dikubur. Kalau tidak dilepas, orang-orang percaya mayat tersebut akan berubah menjadi hantu pocong. Riski memastikan semua prosesi itu tak sampai terlewat—lepas dari dia juga percaya dengan mitos tersebut.

Di sela-sela ngobrol, saya bertanya pada Riski, memangnya jasa penjaga kuburan betulan diperlukan? Kata dia perlu banget. Di kota besar, bahkan di area pemakaman sepadat Pondok Kelapa, menurut Riski masih ada saja orang-orang iseng yang berniat mencuri kerangka jenaszah, tanah, atau malah sekalian nisan demi ritual mistis pesugihan. Riski bertugas menghalau orang-orang macam itu.

Riski bilang, pernah sekali dia melihat sosok kuntilanak, hantu wanita yang sedang hamil dan meninggal sebelum melahirkan. Di Indonesia, kuntilanak diyakini bakal mengganggu manusia dengan menangis mencari anaknya sampai air matanya berubah menjadi darah. Kuntilanak yang pernah dilihat Riski sangat mirip dengan yang ada di cerita populer. “Wanita berambut panjang dan memakai baju putih panjang, dengan darah di bawah matanya.” Ia mengatakan melihat kuntilanak itu di sebuah pohon besar tidak jauh dari gubuk tempat tinggalnya sehari-hari. Saya melihat pohon yang dimaksu Riski. Saya bertanya kapan dia melihat kuntilanak itu dan dia menjawab, “dia lagi ada di sana sekarang”. Hadeh. Bocah ini kayaknya lagi iseng dan cuma pengen menakut-nakuti kami.

Iklan
1517996630571-bocah4

Tidak lama kemudian, “Nenek” menyuruh kedua anak ini keluar dari gubuk karena ada yang harus diurus. Si nenek memperkenalkan “cucu” ketiganya, Alfian, yang masih 2 tahun. Saya bertanya apa yang dia rasakan ketika mengajak anak-anak itu untuk bekerja di kawasan pemakaman. Dia menolak bila dianggap mempekerjakan anak di bawah umur. “Ini semua kemauan mereka sendiri," kata si nenek. “Mereka mau kerja gini juga supaya bisa makan. Mereka setor duit, saya masak untuk mereka.”

Tapi si nenek tak mengelak saat saya bilang berarti dia secara tidak langsung menjadi 'majikan' yang menerima setoran dari Riski dkk. “Mereka itu masih sangat kecil. Uangnya nanti malah dipakai untuk beli permen. Saya tuh cuma pengin bantu aja.”

Jakarta baru saja memiliki gubernur baru yang dulunya menteri pendidikan. Masalah macam seperti yang membelit Riski belum bisa ditanggulangi secara efektif—karena akar masalahnya adalah kemiskinan laten dan laju urbanisasi. Mustahil persoalan anak-anak jalanan ditangani oleh Jakarta sendirian.

Anak-anak macam Riski bukan sekadar sulit mendapat kesempatan ataupun biaya buat bersekolah. Pemerataan kualitas pendidikan, plus akses terhadap mereka yang benar-benar miskin, adalah pekerjaan rumah lainnya bagi pemerintah. Kendati memiliki tingkat perekonomian terbesar di Asia Tenggara, kondisi sekolah dasar dan menengah di Indonesia sangat buruk berdasarkan survei PISA. Singkat kata, walau pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stabil di kisaran lima persen per tahun—yang memungkinkan kelas menengah atas menggelontorkan uang banyak untuk membangun kuburan indah—nasib bocah-bocah macam Riski tetap saja suram karena kue perekonomian terkonsentrasi di segelintir kalangan saja.

Saat saya ngobrol bersama nenek, dan jujur mengaku pesimis akan ada perubahan nasib buat Riski dan teman-temannya, perempuan sepuh itu cuma tersenyum. “Saya juga cuma bisa berdoa.”

Follow Dennis Destryawan di Twitter.

Mike Pearl turut berkontribusi untuk melengkapi data di artikel ini.