karaoke sukaria

Bagaimana Hasrat Karaokean Mendorong Banyak Inovasi Teknologi

Dari teknologi 8-track ke Laserdisc ke CD+G ke garis ISDN hingga Youtube. Rupa-rupa teknologi untuk mengakomodasi hasrat kita bernyanyi sebebas-bebasnya.
26.9.17
sumber foto: Gettyimages

Artikel ini pertama kali tayang di Tedium , sebuah nawala dua mingguan.

Saya selalu merasa punya kewajiban minta maaf pada Chris Carabba dan sakit hatinya yang menahun itu. Pasalnya, momen-momen favorit saya pas karaokean justru bikin lagu-lagu hitnya kelihatan konyol bin cupu. Di puncak kejayaan emo, saya pernah terperangah ketika menemukan ' Screaming Infidelities,' salah satu lagu kebangsaan generasi emo (sebelum "Welcome To Black Parade"-nya My Chemical Romance berjaya di mana-mana), masuk daftar lagu tempat karaoke. Ini jelas bikin saya bingung. Harusnya orang ke tempat karaoke buat senang-senang bukannya nangis bombay di depan mikrofon. Jadi, setelah tahu lagu ini tersedia, saya langsung mendapuknya sebagai lagu karaoke andalan. Saya selalu tampil "sepenuh hati" kalau sudah giliran saya menyanyikan lagu ini. Tak ayal, saya langsung kelihatan seperti orang dungu yang baru putus dan menjeritkan lirik-lirik pedih di depan audiens kecil saya. Menjelang bagian coda, ketika Chris Carabba ngomongin rambut pacarnya yang rontok di mana-mana, saya biasanya langsung berguling-guling di lantai, salah satu gerakan andalan saya. Kalau sudah begini, kawan-kawan saya yang adem-adem langsung berteriak. (atau menertawai saya sih. Ya engga tahu juga. Saya kan asik guling-guling di lantai). Kira-kira begitulah ritual karaoke saya. Harus diakui, saya kurang adil dengan pencipta lagunya (jangan sedih ya Chris.) Ngomong-ngomong soal karaoke, biar saya kasih tahu teknologi yang membuat karaoke lahir. Asal kamu tahu, ini tak seperti yang kamu bayangkan ketika sedang asik-asiknya nyanyi "Jogjakarta"-nya Kla Project di tempat karaoke. Ternyata, karaoke justru jadi pendorong banyak inovasi di dekade 70-an, 80-an dan 90-an. Kaget kan? "Kisah hidup Inoue sangat menginspirasi pekerja lainnya seperti Eiji Toyoda atau Akio Morita. Lagipula, orang yang membuat kita menyanyi bak Sinatra ternyata tak bisa membaca not balok, cuma bisa main keyboard secukupnya dan hampir tak mendapat apapun dari apa yang dia ciptakan."

Iklan

Pico Iyer, seorang kontributor Time, ketika membicarakan kisah hidup Daisuke Inoue, lelaki dari kawasan suburban Osaka, Jepang yang punya ide tentang karaoke di dekade 70-an. Inoue, ironisnya, gagal mematenkan mesin pembuat musik buatannya, sehingga temuannya diklaim oleh orang lain beberapa tahun kemudian. Inoue, yang menceritakan pengalamannya ketika pertama kali mengenalkan di Topic magazine pada 2005, mengaku bahwa tantangan paling besar mewujudkan teknologi karaoke (padahal, jelas prosesnya rumit karena awalnya Inoue menggunakan tape 8-track di mesin karaoke pertamanya, Juke 8), tapi justru label rekamannya. Waktu itu, label-label rekaman bikin proses penjualan karaoke begitu merepotkan.

Hal yang tak boleh dilupakan dari sejarah karaoke di Jepang: mesin karaoke pernah jadi piranti primadona rumah tangga
Untuk kurun waktu yang sangat singkat, keyboard kecil merk Casio pernah sangat populer di pasar AS. Di saat yang sama, Karaoke laris manis sebagai perabotan rumah tangga. Meski karaoke punya asosiasi kuat dengan restoran dan bar, mesin karaoke ternyata sangat digemari sebagai perkakas rumah tangga. Walaupun baru masuk pasar Jepang di awal dekade 80-an, mesin karaoke rumahan pernah punya capaian mencengangkan. Pada 1983, mesin karaoke terjual sebanya 1,4 juta buah, menurut artikel di Los Angeles Times, dan bisa ditemukan di 13 persen rumah di Negeri Matahari Terbit waktu itu. Hebatnya, harganya waktu itu tak bisa dibilang murah. Satu set mesin karaoke dibanderol dengan harga $400 (sekitar Rp5,3 juta) atau lebih di awal dekade 80-an. Seperti yang tercantum dalam buku Karaoke: The Global Phenomenon, orang Jepang menghabis lebih banyak uang untuk membeli perkakas karaoke dibanding jumlah uang yang dihabiskan penduduk Amerika Serikat untuk membeli bensin di awal tahun 1980-an. (Saking populernya, Famicom bahkan punya game bertema karaoke. Begitu juga, Mega Drive.)
Tren ini mudah dipahami. Karaoke punya kelebihan yang memungkinnya punya dua fungsi sekaligus: sebagai sarana hiburan dan alat penghasil uang. Mesin karaoke tak cuma menguntungkan restoran dan bar, alat ini juga memunculkan industri sampingan, mulai dari servis mesin karaoke, industri pernak-pernik mesin karaoke dan, akhirnya, industri musik punya cara baru mengeruk duit dengan memanfaatkan royalti lagu. Mesin karaoke kaset dari Jepang Image: Yahoo! Japan Auctions
Di awal perkembangannya, teknologi karaoke awalnya masih sangat sederhana. Edisi perdana mesin karaoke hanya menggunakan format 8-track. Lirik, tentu saja, belum tersedia.
Di akhir dekade 70-an, percobaan untuk pertama kali menambahkan video mulai dilakukan. Dan, di awal dekade 80-an, Pioneer berhasil mengawinkan teknologi Laserdisc dengan konsep karaoke.
Setelah itu, persepsi kita akan musik tak sama lagi.

Bagaimana karaoke memajukan teknologi pada 1980-an dan 1990-an
Format karaoke, tentunya, bagus untuk bar, restoran, dan label rekaman di era 80-an. Hal ini bahkan turut membangun industri rumahan di AS pada era 90-an. Billboard melaporkan bahwa pada Mei 1992, 65 vendor berbeda menjalankan layanan karaoke. Di antara perusahaan-perusahaan besar yang mendapatkan lisensi dari industri musik, adalah Pocket Songs dan Sound Choice. Tidak ada industri karaoke di Amerika Serikat satu dekade sebelum itu, tapi hal tersebut merupakan kesepakatan yang lumayan besar sampai-sampai Summer Consumer Electronics Show tahun itu mendedikasikan sebuah acara untuk menyorot industri karaoke. (Dan hal tersebut masih tumbuh di Jepang juga, "karaoke boxes" atau boks karaoke sendiri sudah menjadi bisnis senilai $3.8 miliar di Jepang pada 1991, menurut artikel Billboard.) Namun pemenang sesungguhnya bisa jadi mereka yang memproduksi disk optikal pada era tersebut. Dengan format Laser Disc, apa lagi mereka berasal dari Jepang, Pioneer berada di posisi yang lebih kuat untuk memanfaatkan tren karaoke ini. Perusahaan tersebut meluncurkan pemutar karaoke Laser Disc di Jepang pada 1982, dan tak lama setelah itu mengintegrasikan suara digital, mengizinkan mereka mengambil alih pasar niche di negara tersebut untuk sebuah alasan spesifik: Kompetitor mereka saat itu, pita VHS dan Betamax, yang linear secara alamiah, namun Laserdisc cenderung chapter-based dan random-access dari sananya, seperti DVD. Hasilnya adalah hal tersebut bisa digunakan mirip dengan format jukebox, dengan satu disc memuat lebih dari dua belas lagu.

Pada akhirnya, Pioneer membawa LaserKaraoke ke Amerika Serikat pada 1988. Meski medium tersebut menunjukan tanda-tanda potensi sukses, perusahaan tersebut perlu meyakinkan bar dan restoran untuk menaruh investasi yang lumayan mahal pada teknologi yang mungkin tak akan mereka gunakan setiap malam. Dalam berbagai hal, pendekatan ini sangat inovatif, semua berkat format jukebox disc karaoke.

Tentu saja, Laserdisc memiliki kapasitas yang sempurna untuk karaoke, namun tantangannya adalah ukuran perpustakaan, harus berapa besar ukurannya untuk menyimpan semua LaserDisc itu? Barangkali sebuah ulasan 1991 tentang mesin LaserKaraoke di Popular Electronics terdengar familiar pada siapapun di AS yang akrab dengan teknologi karaoke selama 25 tahun terakhir.

Video-video yang jadi latar lagu-lagu karaoke emang mewakili lirik dan semangat lagu, tapi sebagian besar video itu justru terlihat seperti banyolan, apalagi bagi mereka generasi MTV yang tumbuh besar menonton banyak sekali video klip. Misalnya, "Born To Be Wild" karya Steppenwolf, lagu tema film Easy Rider, menggantikan pengendara motor hippie atau druggie era 1960-an Dennies Hopper dan Peter Fonda, dengan fotojurnalis hippie 1990-an yang berpergian dengan camcordernya dari satu benua ke benua lain dengan motor. Ya, para produser disc tahu bahwa video itu hanya menjadi latar bagi bintang sesungguhnya: para penyanyi karaoke. Masalahnya ada pada anggaran, sebagaimana dikemukakan The Outline tahun lalu,. Sementara Pioneer memiliki uang lebih banyak untuk produksi film dibandingkan kompetitornya, anggaran tersebut (sekitar $6000 per film) tidak ada apa-apanya dibandingkan video musik tradisional. (Internet Archive, tentunya memiliki banyak koleksi.) Dalam bukunya Shooting Movies Without Shooting Yourself in the Foot: Becoming a Cinematographer, penulis Jack Anderson mencatat tantangan yang timbul dari hal tersebut bagi para pembuat film.
"Semua hal bisa dilakukan sesederhana dan semurah mungkin dengan waktu sesingkat-singkatnya," tulisnya. "Di waktu bersamaan, hasilnya diharapkan sangat dinamis, sangat visual dan menghibur. Tentu." Di sisi lain, sebagaimana yang ditulis Brian Raftery dalam Don't Stop Believin': How Karaoke Conquered the World and Changed My Life, dibutuhkan lebih banyak bujet dibandingkan konten karaoke lain, yang terlihat seperti ini. Di samping itu, disc tersebut dijual seharga $150 tiap keping, marjinnya besar sekali.
Laserdisc, sebagai format, memiliki reputasi sebagai mimpi cinephile, add-ons-nya berperan penting dalam hal tersebut. Namun utamanya, sebagian besar orang mengalaminya sebagai format non-cinephile, di bar karaoke, mungkin dengan dinamika interpersonal yang canggung. Dalam banyak hal, kelemahan format tersebut (terutama ukurannya yang besar) adalah terbukanya kesempatan bagi kompetitor untuk muncul. Disk karaoke untuk laki-laki. Kalau menurut kata-kata Jon Secada: I… I don't want to say it.
Yang pertama muncul adalah CD+G, variasi format CD tradisional memanfaatkan porsi yang tak terpakai di CD tradisional untuk menawarkan lapisan visual. Beberapa pertunjukan musik, seperti band synth-pop Information Society, menggunakan CD+G untuk rekaman mereka, dan format ini didukung oleh konsol video game seperti Sega CD dan Philips CD, namun hal tersebut segera menjadi karaoke yang umum. Format tersebut, yang hanya bisa menunjukkan grafik resolusi rendah, lebih terbatas dibandingkan LaserDisc, namun mungkin itu sepadan. Pada akhirnya, beberapa kompetitor menunjukkan diri: The Video CD, variasi yang lebih murah dari LaserDisc, muncul pada 1993. Dan di pasar Jepang, pengembang videogame Taito (sebelumnya dikenal sebagai Arkanoid) menciptakan metode untuk mendistribusikan lagu-lagu karaoke melalui sambungan telepon ISDN, memungkinkannya memiliki perpustakaan yang lebih besar.

Dan meski DVD pada akhirnya muncul, dan memperbaiki kualitasnya, hal tersebut menjadi ide karaoke dengan akses ke cloud membuktikan penyusup sebenarnya di negara yang pertama kali menciptakan konsepnya. Ya, awalnya memang tidak bagus, hal tersebut mengandalkan MIDI yang diprogram lebih dulu pada suatu waktu bahwa LaserDisc bisa mengeluarkan musik sesungguhnya yang diproduksi dalam studio, tapi kualitasnya, ternyata, bukan faktor utama. "Karaoke online bisa dianggap 'teknologi destruktif' untuk karaoke yang sudah ada," tulis IP Friends Connections, publikasi kantor paten Jepang. "Sebelum karaoke online merajalela, fokus utama dari inovasi teknologi di industri perlengkapan karaoke adalah perbaikan kualitas musik yang diputar dan menciptakan video untuk mengiringi lagu-lagu tersebut. MIDI dianggap inferior dalam hal kualitas di karaoke yang sudah ada, tapi sejauh ini superior dalam hal memperbarui lagu-lagu."
Dalam waktu dekat, internet akan melakukan hal ini di setiap industri. Kini, hal yang anehnya adalah karaoke mungkin tidak diminati sepetri pada era 1980-an dan 1990-an (kecuali Carpool Karaoke), dan hal ini masih mendorong inovasi di dunia bisnis. Hal itu tidak termasuk fakta bahwa ponsel pintar bisa melakukan segala hal yang dilakukan mesin karaoke pada 1992. Faktanya, ponsel pintar menginspirasi sebagain pembaruan yang ada.
Di Youtube, misalnya, ada kanal bernama Sing King Karaoke, yang memproduksi lagu-lagu karaoke terkenal dengan format instrumental, memiliki pengikut 3,2 juta pengguna. (Saat tulisan ini dibuat, 26 lagu di kanal itu sudah dilihat sebanyak 10 juta kali.) Proses produksi tim tersebut, menurut TubeFilter, mencakup sejumlah studio dan banyak track bekerja di waktu bersamaan.
"Kami sangat sadar soal kualitas instrumental kami, kami harus bikin sebaik mungkin, jadi kami selalu mempriotitaskan kualitas daripada kecepatan," tulis para pembuatnya. Meski hal tersebut sangat menakjubkan, inovasi paling menarik dan baru datang dari Cina. Selama beberapa tahun belakangan, miniKTV, kios seukuran telepon umum, memungkinkan layanan karaoke mandiri. Jadi, pas kamu jalan-jalan di mal, abis makan Kenny Rogers Roasters, misalnya, kamu bisa mendatangi booth ini, nyanyi beberapa lagu, dan mengunggah hasilnya ke WeChat atau layanan sejenis, atau bahkan merekam album kalian sendiri. Intinya, ini kios karaoke rekaman, dan ini mendorong investasi di Cina saat ini. "Perkembangan mini-KTV bertemu dengan permintaan anak muda di masyarakat saat ini, yang hidup dengan cepat dan menyenangkan dan semangat untuk menggunakan waktu luang mereka dengan baik," kata analis bisnis Liu Dingding kepada Global Times minggu lalu. Tren mal karaoke ini berlawanan dengan konsep penampilan publik yang memajukan teknologi karaoke, namun mereka tidak terlihat keberatan. "Tak peduli seberapa bagus atau buruknya saya menyanyi, tidak akan ada yang menghakimi, dan saya bisa menikmati momen saya," ujar Li Riu, penggemar KTV mini dari Changchun, pada Xinhua. Bar karaoke, dari sananya, seharusnya menjadi ruang aman tanpa penghakiman. Tapi ya, kalau privasi yang didapatkan dari kios karaoke di dalam mal membuatmu tampil paling prima, kenapa enggak? Maka menyanyilah sebelum dilarang.