Reaktor Nuklir Portabel

Demi Kuasai Arktik, Rusia Kirim Kapal Reaktor Nuklir Dijuluki 'Chernobyl Mengambang'

PLTN di atas kapal itu memiliki dua reaktor. Ditarik kapal kecil, Akademik Lomonosov akan mengelilingi rute kaya migas di belahan utara Bumi. Rencana Rusia dikecam aktivis karena faktor geopolitik dan lingkungan.
03 Juli 2019, 7:13am
​Reaktor nuklir mengambang pertama di dunia, Akademik Lomonosov, ditarik tugboat dari Pelabuhan Murmansk, Rusia. Foto oleh Pavel Lvov/Sputnik via Associated Press
Reaktor nuklir mengambang pertama di dunia, Akademik Lomonosov, ditarik tugboat dari Pelabuhan Murmansk, Rusia. Foto oleh Pavel Lvov/Sputnik via Associated Press

Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah umat manusia, Rusia berhasil mengirim pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) portabel. PLTN itu dikapalkan dari Utara Moskow melalui Laut Arktik, menempuh jarak sejauh ribuan kilometer ke kawasan terpencil. Di sana, PLTN tersebut akan membangkitkan listrik buat anjungan pengeboran minyak dan gas lepas pantai.

PLTN tersebut telah dibangun selama hampir 9 tahun terakhir, menurut NPR. Akhirnya, setelah pengembangan bertahun-tahun, reaktor diberi nama Akademik Lomonosov itu siap ditugaskan. Kedua reaktor PLTN ini terletak di atas sebuah platform setinggi 152 meter, yang ditarik tugboat melalui rute Laut Utara mulai Agustus 2019, merujuk laporan CNN. Rute tersebut akan membawa PLTN itu ke Utara Rusia di Lingkar Arktik, berakhir kota kecil Pevek yang terletak 4.828 kilometer dari pabrik pembuatannya. Di situ, tenaga nuklirnya dipakai menggerakkan operasi pertambangan kawasan semenanjung Chukotka.

Di mata aktivis lingkungan, kapal bertenaga nuklir ini disebut sebagai “Chernobyl mengambang,” karena berisiko tinggi, mengacu pada PLTN buatan Uni Soviet yang mengalami kebocoran parah pada 1986. Namun, bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, PLTN tersebut adalah kebanggan nasional yang dapat mengembangkan bisnis migas lepas pantai kawasan Arktik, menurut CNN, sumber bahan bakar fosil dalam tanah di Siberia sudah mulai mengering.

Rusia adalah negara kaya minyak. Masalahnya, sumur minyak di daratan tak banyak. Migas melimpah terdapat di lepas pantai kawasan Artik. Beberapa kota Rusia yang berada di pesisir Arktik sangat terpencil; petinggi Rusia berharap PLTN mengambang ini dapat memasok listrik kawasan tersebut.

Ekspansi Rusia ke kawasan Arktik yang terus mencair, akibat perubahan iklim, memicu persoalan geopolitik buat negara-negara lain. Seiring makin mencairnya laut Arktik yang biasanya diliputi salju (sehingga membuka ruang untuk tiap negara berlomba-lomba membangun kilang) kawasan itu diincar banyak negara. Amerika Serikat, salah satunya, kini bersaing dengan Rusia, Tiongkok, dan Kanada untuk mendominasi Arktik, alias berebut sumber daya migas.

Arktik, dan juga Kutub Utara, diramal oleh banyak pakar hubungan internasional akan menjadi tempat persaingan geopolitik baru, sekaligus pusat kepentingan komersial.

Jalur Barat Laut Arktik — rute laut terkenal bangsa Eropa untuk menuju Lingkar Arktik — kini semakin mudah diakses. Dengan semakin terbukanya kawasan Arktik, berbagai negara bersaing mengaksesnya demi mengendalikan kawasan kaya sumber daya alam itu.

Selain persoalan geopolitik, sejumlah ahli nuklir dan aktivis lingkungan turut khawatir pada rencana Rusia mengirim reaktor nuklir di atas kapal. PLTN mengambang itu kemungkinan tidak dilengkapi berbagai fitur yang memungkinkannya beroperasi secara aman. Kelompok aktivis lingkungan Greenpeace menjulukinya "Chernobyl di atas es". Organisasi ini menolak gagasan PLTN mengambang secara keseluruhan—yang dibuat negara manapun—karena potensinya merusak lingkungan jika sampai reaktornya bocor.

Tenaga nuklir sebenarnya sudah sering dimanfaatkan di atas kapal dan kapal selam. Kapal-kapal bertenaga nuklir ini bisa disambungkan kabel ke darat untuk menyediakan listrik ke kawasan perkotaan. Sebuah kapal perang AS bekas Perang Dunia II disambungkan ke jaringan kabel di Panama, sehingga menyediakan listrik untuk berbagai kepentingan sampai 1976, menurut Ars Technica.

Tapi, kita tak boleh lupa sama bencana nuklir Fukushima di Jepang pada 2011. Saat tsunami mengguncang dan air laut membanjiri sebuah PLTN, tiga reaktor nuklir meledak, memicu bencana lingkungan parah. Para ilmuwan yang meneliti Akademik Lomonosov mengklaim sudah belajar dari kesalahan Fukushima ataupun Chernobyl. "Mesin pengebor tidak mungkin terkoyak, bahkan seandainya kapal ini dihantam tsunami tingkat 9," demikian klaim Dmitry Alekseenko, wakil direktur PLTN Lomonosov, kepada CNN.

Tak semua orang yakin dengan klaim Rusia. Pakar di Bellona, kelompok aktivis lingkungan yang memantau proyek-proyek nuklir, mengeluarkan laporan yang menegaskan jika PLTN mengambang tersebut terkena tsunami, maka kapalnya berpotensi mendarat dekat perkotaan tanpa mekanisme untuk mencegah radiasi.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News