Rafael Márquez, Legenda Sepakbola Meksiko dan Barcelona, Terjerat Kasus Pencucian Uang Narkoba
Foto oleh Laurence Griffiths/Getty Images
Sepakbola

Rafael Márquez, Legenda Sepakbola Meksiko dan Barcelona, Terjerat Kasus Pencucian Uang Narkoba

Kementerian Keuangan AS mencekal 22 nama yang diduga terkait aktivitas kartel. Salah satunya adalah Márquez, sang bek legendaris Barca.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Warga Meksiko kaget setelah mengetahui salah satu pahlawan olahraga mereka diduga tersandung kasus kriminal. Pekan ini, Pemerintah Amerika Serikat menyebut legenda sepakbola Meksio Rafael Márquez terlibat kasus pencucian uang haram kartel narkoba. Dengan raihan empat trofi La Liga dan dua Piala Champion bersama Barcelona, serta selusin trofi lainnya yang diraih selama karir sepanjang 20 tahun, Márquez sampai saat ini adalah pesepakbola tersukses Meksiko. Pemain bertahan kugiran ini memakai ban kapten timnas Meksiko di empat gelaran Piala Dunia. Rencananya, Marquez akan kembali ditunjuk sebagai kapten tim Meksiko dalam Piala Dunia 2018 di Rusia. Selain dikenal sebagai sosok yang dihormati di dalam dan di luar lapangan, nama Marquez harum lantaran kerja-kerja sosialnya membantu generasi muda yang kurang beruntung di negaranya. Di sebuah negara yang dihantui kekerasan kartel obat terlarang dan korupsi yang tak habis-habisnya, dia adalah pahlawan bagi jutaaan orang dan simbol kebanggaan Meksiko. Namun menurut hasil temuan penelitian bertahun-tahun yang dilakukan oleh penyelidik asal Meksiko dan Amerika Serikat, Marquez tak sepenuhnya bersih dari pengaruh kartel narkoba. Divisi Kontrol Aset Luar Negeri (OFAC), Departemen Keuangan AS telah mendakwa Marquez bersama 21 orang lainnya dengan menggunakan Foreign Narcotics Kingpin Designation Act atas keterlibatan mereka dalam jaringan kriminal besar namun tak banyak diketahui orang yang dipimpin oleh Raúl Flores Hernández. Dalam sebuah kebijakan yang dianggap sebagai tindakan legal tebesar terhadap kartel narkoba Meksiko, OFAC telah memasukkan 21 nama dalam sebuah daftar hitam. Sembilan orang di antaranya punya kaitan dengan Márquez. 20 orang di antarnya tinggal di kota Guadalajara. Marquez kini bermain untuk klub kota itu, Atlas.

Iklan

Undang-Undang di AS, yang berjuluk Kingpin Act, memberi wewenang kepada pemerintah AS membekukan setiap aset milik individu dan entitas yang dituduh terlibat tindakan kriminal, menyegel, serta melarang penduduk AS melakukan kegiatan bisnis dengan nama-nama dalam daftar cekal tersebut.

"[Tuduhan ini] adalah pertandingan terberat yang pernah saya hadapi. Saya akan bereskan semua ini secepat mungkin."

Julión Álvarez, seorang penyanyi kondang, juga dimasukan daftar bersama Márquez. "Kedua pria ini punya hubungan erat dengan Flores Hernández, dan telah berperan sebagai wakil Hernandez dan bisnis narkobanya. Keduanya juga dipercaya mengelola aset Hernandez," demikian tertulis dalam pernyataan OFAC. Kabar tak mengenakkan ini membuat presien Meksiko president Enrique Peña Nieto kehilangan muka. Nieto secara personal pernah memuji Álvarez sebagai "suri tauladan bagi generasi muda Meksiko" dan mengunggah fotonya tengah mengendari perahu bersama Alvarez. Setelah berita keterlibatan Alvarez dalam bisnis kartel narkoba tersiar, Nieto buru-buru menghapus foto tersebut dari laman Instagram pribadinya.

Rafael Márquez (kiri) saat masih membela Barceloba merayakan gelar juara la liga musim 2005/2006 di Stadion Vigo, utara Spanyol. Foto oleh Jose Manuel Ribeiro/ Reuters

Dampak tuduhan kriminal Márquez jauh lebih parah, meski mantan bintang Barca itu segera membantahnya. "Aku tak pernah terlibat dalam organisasi yang disebutkan dalam tuduhan itu," ujarnya pada awak media setempat Rabu lalu. "Ini pertandingan terberatku. Aku akan bereskan semuanya sesegera mungkin." Sebelumnya pemerintah Meksiko mengatakan bahwa Márquez telah secara sukarela hadir di kantor Jaksa Agung Meksiko untuk memberikan keterangan resmi. Saat ini, investigasi pencucian uang tersebut masih berjalan. Untuk sementara Marquez belum dikenakan tuduhan kriminal apapun. Kartel narkoba Meksiko tengah melancarkan serangan membabibuta. Tahun ini tercatat sebagai tahun paling penuh kekerasan gara-gara ulah para bandar narkoba. Kasus yang membelit Márquez menjadi pengingat akan dampak perang narkoba yang harus ditanggung masyarakat Meksiko. Tom Marshall, pakar sepakbola Meksiko yang tinggal di Guadalajara, menggambarkan tuduhan ini sebagai "goncangan besar." Marshall menyatakan bahwa Marquez sebagai figur penting dalam kancah pesepakbolaan Meksiko. Merquez dikabarkan tengah mempersiapkan diri untuk mengemban tugas sebagai direktur olahrga atau bahkan presiden federasi sepakbola Meksiko. "Rasanya bakal susah melihat Marquez bermain untuk timnas Meksiko lagi, kecuali jika dirinya bisa memberikan penjelasan yang ringkas dan koheren," kata Diego Peterson, kolomnis olahraga yang menulis untuk surat kabar Guadalajara, El Informador. Flores, terduga ketua organisasi kriminal disasar pemerintah AS, adalah figur yang tak begitu dikenal. Flores membangun kerajaan bisnisnya di Guadalajara dan Mexico City sejak tahun 1980an. Sejak awal karirnya, Flores menggalang hubungan dengan kartel narkoba ternama Sinaola dan kartel Generasi Baru Jalisco.

Iklan

Kantor Jaksa Agung Meksiko Rabu lalu membeberkan bahwa Flores pernah ditahan di 2013, dibebaskan di 2015 dan kembali diciduk bulan lalu. Pengadilan federal AS di wilayah D.C dan Distrik Selatan California mendakwa Flores atas kasus penyelundupan narkoba Maret lalu. "Raúl Flores Hernández telah beroperasi selama beberapa dekade karena hubungannya yang langgeng dengan kartel narkoba dan caranya menggunakan orang lain sebagai perwakilanya guna menyamarkan investasi uang hasil penjualan obat-obatan terlarang," ungkap direktur OFAC John E. Smith.

Jaringan pencucian uang Florer mencakup sebuah klab malam ternama, sebuah klub sepakbola divisi tiga, dan sebuah kasino yang sudah disegel oleh pihak berwenang Meksiko. Sembilan perusahaan yang dikaitkan dengan Márquez di antaranya sebuah sekolah sepakbola, beberapa fasilitas kesehatan dan kebugaran dan Rafa Márquez Foundation, sebuah badan amal yang disokong oleh Barcelona. Agen Meksiko dilaporkan telah menggeledah dua perusahaan Márquez Rabu lalu. Petersen, yang rajin menulis tentang praktek pencucian uang di Guadalajara, mengatakan bahwa Márquez memang kerap menanamkan modal di beberapa bisnis di Guadalajara. Namun, di saat yang sama, Petersen mewanti-wanti agar tak gegabah menuduh Marquez sebelum investigasi selasai dilakukan.

"Seandainya tidak ada informasi ini dari pemerintah AS, kami tidak akan pernah tahu siapa saja yang terlibat pencucian uang di Meksiko."

"Di Meksiko, pencuci uang kerap tampil sebagai pengusaha sukses. Mereka bersemuka dengan politikus dan kerap dipuja oleh kelompok pebisnis." kata Petersen. "Jadi ada kemungkinan Marquez berbisnis dengan mereka tanpa sadar kalau dia tengah menerima uang kotor." Guadalajara, kota metropolis nomor dua di Meksiko, menjadi pusat kegiatan pencucian uang setelah beberapa anggota kartel Sinaloa, salah satunya Joaquín "El Chapo" Guzmán, bermukim di kota itu pada tahun 1980an. Pemerintah AS telah memasukkan lebih banyak perusahaan dari Guadalajara dibandingkan kota lainnya. Bentuk usahanya beragam. Mulai dari bar, restoran, perusahaan produsen tequilla, blok apartemen, pusat perbelanjaan, toko sepatu, penjual barang antik, peternakan burung unta hingga klinik peremajaan vagina. Kebanyakan usaha kamuflase pencucian uang ini tetap berjalan seperti biasa sampai saat ini lantaran otoritas Meksiko membiarkannya begitu saja. Petersen berharap investigasi gabungan yang melibatkan agen dari AS dan Meksiko akan memicu kolaborasi lebih lanjut guna memerangi praktik kriminal penting dalam jaringan narkoba, namun kerap dianggap sepele ini. "Di Meksiko kami memburu gembong narkoba namun melepaskan pemilik bisnis dan investor di belakang meraka," ujarnya."Jika informasi ini tak tersebar dari AS, kami tak akan pernah tahu siapa yang terlibat proses pencucian uang di Meksiko."

Duncan Tucker adalah jurnalis lepas yang berbasis di Guadalajara, Meksiko.