Mungkinkah IBL Akan Tetap Menarik Tanpa CLS Knights?

Kehilangan juara musim lalu gara-gara sengketa badan hukum memang sedih, tapi pengelola liga basket Indonesia harus segera memikirkan hal mendesak lain: perbaikan gaji pemain lewat sistem salary cap.
5.9.17
Pemain CLS Knights Sandi Kusuma (shooting), saat melawan Satria Muda. Semua foto oleh penulis. 

Indonesia Basketball League musim 2017/2018 akan kembali bergulir 8 Desember mendatang. Namun, drama sebelum berputarnya kompetisi dimulai sejak akhir Juli lalu, gara-gara tim kesayangan kota Surabaya, Cahaya Lestari Surabaya (CLS) Knights secara mengejutkan mundur dari IBL musim depan.

Drama dimulai sejak cara kabar ini muncul. Saya, bersama ribuan fans IBL lainnya, mengetahui mundurnya CLS bukan dari pernyataan resmi pengelola IBL, tapi justru lewat media sosial Instagram. Postingan IG itu menampilkan surat resmi pengunduran diri CLS dari IBL, padahal seharusnya itu surat untuk kalangan terbatas. Hingga saat ini, masih misterius siapa yang menyebarkan surat tersebut di Instagram. Yang lalu biarlah berlalu. Intinya kabar CLS mundur sudah bukan rahasia lagi.

CLS mundur karena musim depan penyelenggara IBL mengharuskan semua tim untuk berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT). Seharusnya manajemen menyosialisasikan sebelum musim 2016-2017 dimulai. Alasan utama IBL melakukan ini adalah untuk membangun liga yang lebih professional.

"Profesionalisme dalam pengelolaan liga dan klub adalah langkah utama untuk memajukan Liga Basket Indonesia. Dan disaat yang sama, peraturan ini juga bisa memberi perlindungan kepada semua pihak, baik itu pemain, pelatih, ataupun official," kata Hasan Gozali selaku Direktur IBL. "Karena bila ingin disebut sebagai sebuah klub ataupun liga profesional, kita tentunya juga harus mulai concern pada urusan legal formal, dan ini menjadi dasar atau landasan kita untuk bisa terus maju ke depan."

CLS yang terbentuk 70 tahun lalu dalam bentuk yayasan. Mereka mengaku kesulitan mengubah status tersebut, karena anggota yang ikut andil mengongkosi klub lebih dari 100 orang. Sangat sulit untuk mengakomodasi seluruh anggotanya bila harus menjadi sebuah PT. Jika dipaksakan jadi PT, justru saham hanya akan dikuasai segelintir orang saja.

"Ini bukan salah siapa-siapa. Saya sebetulnya setuju dengan IBL mengharuskan semua jadi PT. Sayangnya, kita tidak bisa. Ibarat orang pacaran, udah enggak cocok jadi harus berpisah." Begitulah penjelasan dari Managing Partner CLS, Christopher Tanuwidjaja saat saya wawancarai untuk kanal Youtube pribadi.

Kehilangan CLS Knights sekilas memang satu pukulan telak untuk liga basket lokal. CLS adalah juara IBL kompetisi tahun lalu. Tim ini memainkan basket yang atraktif, dengan kumpulan pemain muda dan asing yang menawan, dipimpin atlet senior Mario Wuysang. CLS bahkan dijagokan kembali jadi juara musim iniuntuk).

Ada kabar bahwa CLS akan pindah ke kompetisi ASEAN Basketball League. Namun Christopher menyebutnya sebatas rumor. "Ada opsi untuk ikut ABL, tapi itu kalau kami masih punya pemain. Soalnya kami juga tidak tahu kapan ABL akan mulai."

Sebelum keputusan dramatis diambil para petinggi klub, CLS sebenarnya menunjukkan semua berkas yang diperlukan IBL seperti laporan pajak dan NPWP. Sayangnya, itu saja tidak cukup untuk IBL tetap mengizinkan klub Surabaya ini berpartisipasi musim 2017/2018.

Kemungkinan untuk CLS balik ke IBL sangatlah tipis karena mereka hanya akan balik bila IBL mengeluarkan surat resmi bahwa CLS boleh selamanya menjadi yayasan. Pihak IBL pun sepertinya tetap dengan pendiriannya, terus jalan tanpa CLS. "Kalau bentuknya masih yayasan, ya otomatis mereka tidak boleh profit. Padahal, dengan adanya profit, liga bisa menerapkan aturan salary cap," kata Hasan.

Belum jelas apakah pecinta basket musim ini bisa menyaksikan penampilan Mario Wuysang. Foto oleh Rocky Padila.

Pecinta basket lokal sebenarnya mendukung niat IBL membangun liga yang lebih profesional. Apalagi jika tujuan akhir dari kebijakan membentuk PT adalah menjamin tim-tim lokal meraih profit di masa akan datang. Petinggi di IBL berani mengatakan liga akan untung musim depan berkat format PT. Bila janji itu terwujud tentu akan muncul angin segar, mengingat IBL selalu identik dengan gagal meraih profit dan beberapa tim pun kesulitan dana.

Namun, benarkah semua harapan indah tadi bisa tercapai dalam waktu singkat? IBL baru saja memegang kembali liga profesional Indonesia dua tahun lalu, setelah sebelumnya dikelola oleh National Basketball League (NBL). Kalau tujuannya ingin menghasilkan kompetisi sepenuhnya profesional ada banyak hal lain yang harus jadi prioritas oleh IBL. Faktor paling penting yang lebih mendesak dipikirkan adalah gaji dan durasi tanding para pemain.

Musim lalu kompetisi berjalan sangat singkat yaitu dari bulan Januari hingga Mei awal. Pemain IBL butuh banyak jam terbang untuk berkembang. Kita bisa berkaca kepada liga tetangga kita Filipina di mana kompetisi mereka berjalan hampir setahun penuh. Akan lebih oke kalau IBL lebih dulu memperhatikan perbaikan jadwal pertandingan, demi perkembangan skills para pemain dan juga mental bertanding mereka. Kasihan bila pemain memiliki waktu off-season yang lebih panjang daripada musim IBL.


Baca juga liputan VICE dengan tema basket lainnya:

Konon IBL juga akan mengeluarkan ide salary cap di beberapa tahun ke depan. Idealnya, peraturan salary cap ini akan berguna sebagai pemerata kekuatan seluruh tim karena setiap tim akan memiliki batas spending yang sama. Tapi apakah akan berhasil untuk diterapkan di Indonesia?

Semuanya masih tanda tanya karena sangat sulit untuk menghindari tim "nakal" menyodorkan uang di bawah meja terutama kepada pemain asing. Seperti musim lalu, setiap tim mendapatkan budget $5.000 (setara Rp66 juta) untuk dua pemain asing. Tapi, ada beberapa nama pemain asing yang saya yakin harganya lebih dari budget yang dipatok pengelola IBL.

Kalau salary cap benar-benar dijalankan, aturan gaji minimum untuk seluruh pemain lokal harus diutamakan. Idealnya itu tak harus menunggu klub dapat profit, karena kalau begitu akan seperti dilema ayam atau telur duluan.

Sebab, selama ini belum ada standar gaji minimum di IBL. Menurut beberapa teman saya yang mengurus klub basket lokal, masih ada pemain yang digaji di bawah Rp3 juta per bulan! Tragis banget lah kalau seorang pemain basket profesional hanya diberikan gaji dengan angka sekecil itu. Idealnya angka itu bisa naik ke Rp5-6 juta per bulan agar pemain-pemain basket memiliki hidup layak, mengingat pengorbanan mereka yang sungguh luar biasa. Katanya kita ingin muncul kompetisi basket yang profesional kan?! Perkara salary cap ini harus segera didorong pengelola IBL, karena adaptasi klub sama batas minimal pembayaran ini pasti butuh waktu beberapa tahun.

Dengan semua persoalan tadi, satu pertanyaan masih mengemuka. Bagaimana masa depan liga ini yang ditinggal juara bertahannya?

Solusi instannya yang menguntungkan semua pihak, menurut saya, adalah membiarkan tim posisi 6-10 merekrut satu pemain asing dari Filipina. Kita tahu semua, bahwa skill pemain Filipina bisa mendongkrak kekuatan suatu tim di Indonesia.

Dengan menambahkan 1 pemain Filipina untuk tim posisi 6-10 klasemen (atau dua terbawah di pool A-B dalam sistem musim ini) seharusnya nanti peta kekuatan lebih kompetitif. Ini akan membuat kompetisi semakin menarik walaupun IBL kehilangan CLS. Karena hanya kompetisi yang seru dan menarik yang akan membuat para fans CLS tetap menonton IBL.

Pekerjaan rumah untuk pihak IBL masih banyak sekali demi kesuksesan musim 2017-2018. Sangat menarik juga untuk ditunggu saat IBL memainkan seri mereka di Surabaya. Hanya di Kota Pahlawan lah tiket pertandingan sering sold out, karena kecintaan warganya pada basket. Apakah para fans di Kota Pahlawan tetap akan menonton ke stadion, tanpa keikutsertaan tim mereka di kompetisi ini, atau mereka hanya akan menonton lewat livestream? Apakah IBL akan lebih baik ke depannya tanpa CLS?

Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

*Rocky Padila adalah pengamat basket sekaligus jurnalis lepas. Laporannya soal kompetisi basket Indonesia dan NBA bisa disimak di sini.