kultur medsos

Jadi Admin Medsos Enggak Baik Buat Kesehatan Mentalku

Bagi kami, sulit membedakan mana yang profesional dan personal. Dan kamu pasti tahu kan medsos adalah dunia yang sangat toxic buat kesehatan mental?
10 Oktober 2018, 7:04am
Profesi Admin Akun Medsos Enggak Baik Buat Kesehatan Mental
WIlliam Iven/Unsplash

Seperti sebagian besar orang zaman sekarang, kita semua menghabiskan terlalu banyak waktu online—tapi bagi editor media sosial, itu sudah sebuah keharusan. Manager media sosial, jabatan yang sepuluh tahun lalu bahkan belum ada, harus menghadapi tingkat stres yang tinggi dalam pekerjaannya.

Media sosial kadang bisa menjadi tempat yang sangat _toxic_—apalagi bagi kami yang bekerja di bidang ini. Pengguna medsos kadang lupa bahwa ada seorang manusia di balik akun sebuah brand ketika kami diomeli atau dikritik.

Di konferensi Online News Association terakhir di Austin, Texas, saya menanyai beberapa editor medsos, “Bagaimana kalian mengatur kesehatan mental kalian sembari menjadi manager medsos?” Jawaban mereka semua sama. “Wow. Itu pertanyaan yang baik.” Saya langsung sadar bahwa kami semua merasakan pengalaman, kegelisahan yang sama. Dan kami semua harus memiliki semacam mekanisme pertahanan, termasuk mengunjungi psikiatri profesional.

Manajer medsos menghabiskan jam demi jam online bukan hanya untuk mengarang tweets, tapi juga untuk membagi dan membaca komentar, menganalisis statistik, dan membuat laporan mengenai jangkauan dan pertumbuhan pelanggan. Kami senang melihat konten kami menjadi viral sehingga mendorong diskusi antar followers kami. Tapi pekerjaan ini membuat kami merasa kesepian dan kadang ketakutan. Profil-profil profesional kami yang publik maupun yang pribadi dapat menjadi target serangan dan pelecehan online.

Manager medsos sudah pasti melihat sisi baik dan buruk internet. Bagi kami susah untuk tidak merasakan hal-hal ini secara pribadi.

“Memang tujuannya untuk menyakiti orang,” ujar Tracey Spencer, psikolog dari Washington, DC, yang saya hubungi untuk mendapatkan nasihat. “Itu yang dilakukan perisak (bully). Orang-orang seperti ini menyalurkan perasaan dan kegelisahaan mereka masing-masing. Kemungkinan besar mereka tidak mengerti empati. Apa yang mereka katakan tidak ada hubungannya dengan kamu.”

Lantas, bagaimana kami di profesi ini bisa mencari keseimbangan antara menjaga kesehatan jiwa dan performa dalam pekerjaan?

Erica Williams Simon, kepala Creator’s Lab di Snapchat, bercerita ke saya bahwa dia pernah menerima “surat dan tweet penuh kebencian karena saya wanita berkulit hitam. Orang pasti akan menyerang kamu.” Jalan-jalan, meditasi, berdoa, dan seni membantu Simon mengatasi negativitas ini, katanya. Dia juga menyebutkan keuntungan yang ditawarkan Snapchat kepada karyawannya, seperti hari cuti yang banyak dan konsultasi kesehatan mental.

Simon tidak mengomentari topik-topik populer dan memperhatikan apa yang dia retweet. Dia juga tidak memperbolehkan dirinya ikut perdebatan yang toxic. “Internet itu bukan hidup saya. Saya bertanggung jawab atas suara saya online. Sama seperti di kehidupan nyata. Tidak perlu ikut setiap diskusi atau menyuarakan semua yang kamu pikirkan dalam kehidupan nyata.”

Dia juga menyarankan agar sesama rekan kerjanya mengekspos diri mereka ke konten yang baik, apalagi setelah hari yang melelahkan. “Jangan lupa, di internet kamu melihat buruknya orang, jadi carilah yang baik-baik.”

Setelah kari kerja yang menyusahkan, Bobby Blanchard, editor medsos di The Texas Tribune, mengatakan manajernya mendukung ketika dia perlu cuti beberapa hari demi kesehatan mentalnya. Salah satu tips dari Blanchard adalah mengubah notifikasi ke settingan “Do Not Disturb” setelah pulang kantor—sebuah tip yang juga dianjurkan Gene Park , editor medsos di The Washington Post.

“Rekan-rekan kerja saya melihat saya, jadi saya harus menjadi contoh yang baik bagi mereka mengenai perawatan diri dan kebiasaan yang sehat. Saya tidak mau mereka merasa bahwa mereka selalu harus aktif online, karena mereka melihat saya seperti itu,” katanya. Tim medsos di The Texas Tribune menggunakan Slack messenger dan memiliki kanal khusus untuk pelaporan, pembahasan, dan pemblokiran trolls dan penggertak akun-akun mereka.

“Setelah pindah ke London aku langsung sadar,” ucap Sari Zeidler, direktur editorial pertumbuhan di Quartz, sebuah situs web yang melaporkan berita mengenai Afrika dan India. Manager Zeidler tidak senang ketika Zeidler mengirim ide-ide untuk cerita kepada rekan-rekannya setelah jam kerja. “Sistemnya sangat berbeda dengan yang di Amerika, dan itu membantu aku menjadi lebih efisien dalam pekerjaan saya,” ucapnya. “Aku langsung sadar aku kerja terlalu keras dan tidak pernah menarik diri dari medsos.” Sarannya: Tentukan target pekerjaan setiap hari dan blok orang yang menyebarkan kebencian.

Tetap saja, walaupun pelaku diblokir dan komentar mereka dihapus, kata-kata mereka sudah terlanjur terbaca. Hinaan dan cercaan mereka menetap di otak walaupun kita sudah log-off. Spencer mengingatkan saya untuk tidak “menginternalisasikan komentar yang menghina” dan memastikan agar tetap fokus pada kehidupan “nyata.” Dia menyarankan agar membuat batasan antara waktu yang diluangkan demi pekerjaan dan waktu untuk log-off. “Di profesi apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk dirimu sendiri.”

Saya juga mengaku saya kadang tidak sadar saat menggunakan medsos. Saya tidak menyetel settingan “Do Not Disturb” sehabis pulang kerja. Saya sering mengecek komentar, me- retweet, dan mengecek apa yang trending di Twitter saat tidak bisa tidur. Mungkin saya harus memikirkan ulang kebiasaan saya ini.

“Kreativitas kami itu terbatas,” kata Blanchard dari The Texas Tribune. Demi menjadi editor medsos yang baik aku kadang harus _log-off._”

Bagi kami di dalam (dan di luar) profesi ini, menurut saya itu saran yang terbaik.