Cuplikan adegan 'Suspiria' film terbaik sutradara Dario Argento
Cuplikan adegan 'Suspiria'.
Film Horor

Selain Hitchcock, Dario Argento Adalah Sutradara Film Horor Paling Berpengaruh

Karya paling fenomenal sang sutradara adalah 'Suspiria', jejaknya masih terasa di karya-karya horor masa kini.
25.10.18

Film legendaris Suspiria di-remake oleh sutradara Luca Guadagnino. Bagi penggemar Argento, mungkin versi baru ini akan terasa seakan merusak nama baik Suspiria yang kesohor, karena meskipun lokasi dan adegan-adegan tertentu akan dikenal oleh penggemar, sebagian besar dari interpretasi baru ini merupakan hasil imajinasi ulang.

Salah satu tema terpenting dalam film Suspiria—yaitu kerelaan laki-laki untuk mencuek atau bahkan melawan pengalaman dan kesakitan seorang perempuan—telah disingkirkan dalam versi remake, karena hampir semua pemain film versi baru terdiri dari aktris perempuan. Satu-satunya tokoh utama laki-laki diperan oleh Tilda Swinton dalam film dua setengah jam ini (satu jam lebih panjang dari yang fim aslinya).

Pertanyaan tentu saja menggelayut bagi banyak pecinta film: apakah karya Argento yang menciptakan genre giallo dan rilis pada 1977 itu memang layak disebut mahakarya? Artikel ini berusaha menjawab bahwa, "ya, Suspiria adalah film yang patut dikenang sepanjang masa." Bahkan jejak pengarunya masih bisa dirasakan dalam karya-karya sineas horor masa kini.

1540386608908-Screen-Shot-2018-10-24-at-90948-AM

Dalam sebuah wawancara denan Indiewire pada 2016, Argento mengemukakan rasa frustrasinya tentang wacana remake Suspiria. "Pilihan yang tersedia cuma menggarap dengan cara yang sama (seperti film aslinya)—meski jadinya bukan seuah remake tapi kopian yang artinya percuma," katanya. "Atau, kamu bisa bikin sejumlah perubahan dan menggarap film lain, tapi kalau begini, kenapa harus dijuduli Suspiria."

Apapun itu, yang menarik dari karya Argento adalah obsesinya terhadap bagaimana sesuatu terlihat dan dirasakan dari pada fungsinya. Dalam hal ini, kita bisa menganggap remake Suspiria buatan Guadadgnino sebagai remake yang melambangkan kecintaan pembuatnya pada versi aslinya lantaran kelewat terobsesi dengan keindahan yang unik dan kadang picisan.

Iklan

Suspiria garapan Argento dikenal pewarnaan yang khas. Nyaris semua adegan dalam film itu didominasi corak warna primer. Argento dan juru kamera Luciano Tovali memang bukan sineas pertama yang menggunakan warna bernuansa jenuh. Namun, hanya ada segelintir film setelah Suspiria yang sama indahnya dan benar-benar terpengaruh dalam aspek estetika oleh Suspiria.

1540386648066-Screen-Shot-2018-10-24-at-91030-AM

Sebaliknya, sineas modern macam Nicolas Winding Refn dan, tentu saja, Wes Anderson berutang banyak pada kolaborasi pertama Argento dan Tovoli. Akan tetapi begitu kita menonton dengan detail film-film Argento lainnya, kita makin sadar bahwa pengaruh filmnya juga terasa di sejumlah sineas kondang lainnya. Misalnya, dalam Inferno, penerus Suspiria yang beredar pada 1980 dan bagian kedua trilogi yang diberi nama Three Mother, dikisahkan banyak remaja putri cantik dari Amerika Serikat diteror oleh Maters Suspiriorum, Lachrymarum, dan Tenebrarum.

Dalam satu adegan yang paling ikonik dari film itu, Rose (yang diperankan oleh Irene Miracle) sadar dirinya dikuntit orang di bangunan apartemen yang dia tinggali.

Lantaran panik, Rose lari ke loteng. Malang sesampai di loteng, dia malah dibekap oleh sesosk misterius dan dibunuh dengan guillotine yang dibuat dari bagian jendela yang rusak. Di adegan lain, penunggu apartemen lainnya diteror sampai ke bagian teratas tangga di kamar mereka. Kita bisa melihat dengan jelas kunci di tiap pintu bergerak-gerak selagi sang pemilik ruangan berusaha menyelamatkan dir. Adegan berlebihan yang bernuansa barok ini membuat penonton tertegun oleh betapa mekanis sebuah ruangan dibuat oleh Argento.

Iklan

Alhasil, meski punya corak warna neon yang elegan, Inferno menampilkan adegan yang lebih brutal dibanding karya garapan Eli Roth, James Wan, dan semua sineas pembikin film sadis macam Saw yang meniru karakter horor Italia.

1540386680579-Screen-Shot-2018-10-24-at-91104-AM

Sesudah merilis Inferno, Argento menggarap Mother of Tears, film terakhir dari Trilogi Three Mothers. Jelas sekali, film tersebut ibaratnya acungan jari tengah Argento pada genre horor yang lekat dengan dirinya.

Hilang sudah corak warna primer yang mencolok yang diapit oleh ruang kosong gelap. Sebaliknya, Argento malah memilih mengedepankan tampilan digital untuk menggenapi trilogi tentang penyihir yang mengabadikan namanya. Mungkin karena itulah Mother Tears tak begitu mengundang pujian seperti dua film sebelumnya.

Selebihnya, sekuat apapun Argento melepaskan diri dari corak horor yang dia besarkan, Argento tetaplah ikon bagi film yang dipenuhi gadis-gadis malang, warna primer dan penyihir. Dengan demikian, Argento bisa jadi merupakan sutradara horor paling kondang setelah Alfred Hitchcock. Sentuhnya berserakan di mana-mana, dari aspek horor yang sublim hinggga yang picisan.

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE