nba

Kembali Juarai NBA, Warriors Diperkirakan Ogah Temui Trump

Ada tradisi tim juara kompetisi olahraga tertinggi AS bertemu presiden. Naga-naganya, Golden State Warriors bakal berani tak bertamu ke Gedung Putih karena membenci rasisme Trump.
14.6.17
Foto Stephen Curry oleh Sergio Estrada-USA TODAY Sports

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Golden State Warriors baru saja memenangkan Final NBA 2017, namun berbagai spekulasi mulai muncul, menyatakan tim basket berbasis di San Fransisco itu tidak akan mengunjungi Donald Trump di Gedung Putih. Pilihan itu wajar saja mengingat Warriors pernah mengkritik tajam pemimpin baru Amerika Serikat.

Beberapa laporan yang tidak terkonfirmasi muncul pagi ini mengatakan bahwa seluruh pemain Golden State Warriors—tidak lama setelah mereka memenangkan gelar juara NBA kedua dalam tiga tahun terakhir—memutuskan tidak mengikuti tradisi kunjungan ke Gedung Putih tahun ini. San Francisco Chronicle melaporkan bahwa belum ada keputusan yang diambil. Apabila seluruh tim Golden State Warriors memutuskan tidak hadir, sebenarnya tidak mengherankan mengingat pemain dan pelatih Warriors berulang kali mengkritik sang presiden.

Iklan

Tahun ini, Steph Curry merespons sengak ketika ditanya apakah dia setuju pada pernyataan Kevin Plank, CEO Under Armour, tentang Presiden Trump sebagai "asset to the country (aset negara)." Curry menjawab: "Saya setuju dengan deskripsi itu…apabila 'et' dihapus dari kata asset." (ass = brengsek).

Beberapa hari setelah komentar Plank, Nike merilis sebuah iklan menampilkan LeBron James, Serena Williams, dan Kevin Durant (bersama banyak atlet lainnya) memasang tagline "kesetaraan tidak mengenal batas." Tentu saja itu sindiran tajam terhadap kebijakan Trump yang ingin membangun perbatasan guna mencegah imigran asal Meksiko masuk ke wilayah AS.

Pelatih utama Warriors, Steve Kerr turut menyebut Trump "banyak omong" dan "tidak pantas" menjadi Presiden. Dia juga melempar pertanyaan retorikal, "Emang ada yang merasa Donald Trump itu pemimpin hebat?"

Salah satu pemain Warriors, David West kepada media massa pernah memberikan kritik yang spesifik seputar pelantikan Trump:

"Banyak warga AS mengira rasisme sudah hilang ketika Presiden Obama terpilih. Donald Trump justru mencoba menjangkau demografi penduduk yang bereaksi terhadap bahasa paling kasar kasar dan kekanak-kanakan yang keluar dari mulut seorang kandidat presiden. Strategi ini berhasil."

"Semua taktik yang dia gunakan agar terpilih menjadi Presiden adalah hal-hal yang harus dihindari kaum muda negara ini. Saya sering bekerja bersama anak-anak, dan kami selalu menasehati mereka agar tidak berakhir seperti dia," jelas West. "Kami menasehati kaum muda agar tidak menjadi perisak. Kami menasehati lelaki muda agar menghargai perempuan. Kami menasehati remaja agar dapat menerima opini dan latar belakang orang lain.

"Sayangnya Trump adalah kebalikan semua itu."

Februari tahun ini, Shaun Livingston mengatakan dia "tidak akan pergi" ke Gedung Putih apabila Warriors menang NBA atas alasan pribadi.

Pemilik Warriors, Joe Lacob, biarpun pernah mendonasikan uang ke beberapa kampanye Partai Republik, menyumbang lebih banyak lagi ke Partai Demokrat.

Kini ada alasan politik kuat untuk tidak menghadiri upacara Gedung Putih. Awal tahun ini, beberapa anggota tim pemenang Super Bowl, New England Patriots menolak untuk hadir, di antaranya: Chris Long, LeGarrette Blount, Devin McCourty dan Martellus Bennett. Tom Brady, teman Donald Trump yang memohon orang-orang untuk mengindahkan pertikaian politik, akhirnya juga tidak hadir demi menemani ibunya yang sakit. Namun tetap saja Patriots mengirimkan tim perwakilan penuh yang kabarnya "kurang lebih sama jumlahnya" dengan perwakilan mereka dari tahun-tahun sebelumnya. Apabila Warriors mengirimkan semacam perwakilan, diduga angkanya akan jauh lebih kecil.

Tapi mungkin juga Warriors akan mengunjungi Gedung Putih sekadar membuat semacam pernyataan politik, sama seperti kelakuan mantan guard Chicago Bulls, Craig Hodges pada 1991. Kala itu Hodges memberi surat sepanjang 2 lembar Presiden George H.W. Bush, berisikan himbauan agar pemerintah AS memperlakukan warga kulit hitam secara lebih baik.

Mungkin juga Presiden Trump akan ngambek dan tidak mengundang mereka sama sekali setelah membaca berbagai komentar tentang isu ini beberapa hari ke depan.