Penjajahan Palestina

'Badai' Menjelang Usai Kedubes AS Pindah ke Yerusalem, 58 Demonstran Palestina Tewas

Pembantaian warga sipil Palestina itu tanggung jawab militer Israel yang bertindak brutal. Kebijakan Donald Trump ngotot memindah kedutaan mengundang kecaman internasional. Krisis keamanan Timur Tengah di ambang mata.
15.5.18
Ratusan pengunjuk rasa menolak pemindahan kedubes AS ke Yerusalem. Aksi di perbatasan Khan Yunis, Jalur Gaza itu berakhir ricuh. Foto oleh Ashraf Amra/Anadolu/via Getty Image

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Donald Trump berjanji memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem untuk meraih dukungan sayap kanan religius di Amerika Serikat. Akhir pekan lalu, dia nekat memenuhi janji itu, memicu ketegangan yang berujung pada salah satu insiden satu hari paling berdarah bagi warga Palestina.

Setidaknya 58 demonstran Palestina tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di dekat perbatasan Gaza karena kedubes AS resmi dibuka pada hari Senin, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Disebutkan bahwa 2.400 warga terluka, puluhan di antaranya akibat tembakan, di hari paling mematikan di Gaza sejak perang melawan Israel pada 2014. Pihak berwenang Palestina telah meminta intervensi internasional untuk segera menghentikan yang disebut “pembantaian yang mengerikan” atas para demonstran.

Eskalasi kekerasan yang dramatis terjadi di tengah kemurkaan Palestina atas pembukaan resmi Kedutaan Besar AS di Yerusalem pada hari Senin. Lewat video Trump menyambut tamu-tamu di sana. “Selamat datang,” katanya. “Selama bertahun-tahun, kami gagal mengakui kenyataan yang sudah terang bahwa ibukota Israel adalah Yerusalem.”

Iklan

Meski relokasi kedutaan telah secara luas dianggap sebagai provokasi bagi warga Palestina dan penghalang bagi prospek perdamaian Timur Tengah, pemilihan waktunya ibarat melemparkan minyak ke api.

Langkah itu dijadwalkan agar bertepatan dengan ulang tahun pendirian Israel ke-70, hari raya nasional bagi warga Israel yang, bagi warga Palestina, mewakili bencana. Warga Palestina mengamati hari berikutnya, 15 Mei, sebagai Hari Nakbah, peristiwa yang biasanya ditandai dengan demonstrasi masal.


Tonton dokumenter VICE News merekam kronologi demonstrasi di perbatasan Israel awal pekan ini menolak Kedubes AS, yang memicu pembantaian warga sipil Palestina:


“Memilih hari tragis dalam sejarah Palestina [untuk membuka kedubes] menunjukkan ketidakpekaan dan penghinaan mendalam bagi prinsip-prinsip inti dari proses perdamaian,” tulis Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah dalam sebuah pernyataan.

Sejak 30 Maret, warga Palestina telah menggelar demonstrasi di lokasi-lokasi sepanjang perbatasan Israel atas apa yang disebut sebagai “Pawai Kepulangan Raya,” yang memanas pada hari Senin. Militer Israel mengatakan bahwa 40.000 pemrotes berdemonstrasi di 13 lokasi yang berbeda di sepanjang perbatasan.

Awalnya ribuan warga Palestina yang berkumpul di perbatasan menggelar aksi damai. Selang beberapa jam, beberapa anak muda mulai melemparkan batu dan warga lainnya dilaporkan berucap soal tekad mereka untuk menyerbu perbatasan dan menyerang wilayah Zionis.

Iklan

Pasukan keamanan Israel menanggapi para demonstran dengan tembakan peluru tajam, serta mengerahkan drone yang menyemburkan gas air mata. Menurut laporan media, tidak ada warga Israel yang menjadi korban dalam bentrokan ini.

Polisi Israel berjaga di depan gedung Konsulat AS Yerusalem yang akan dialihfungsikan jadi kedutaan. Foto oleh Lior Mizhari/Getty Image

Mengingat kemarahan berada di titik didih atas relokasi kedutaan dan pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel—tindakan yang digambarkan oleh Hamdallah sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional”—kekerasan diperkirakan akan berlanjut.

APA YANG TERJADI SEPANJANG SENIN?

Pada hari Senin, kedubes AS yang baru dibuka hanya beberapa kilometer dari sejumlah lokasi bentrokan, tepatnya di gedung konsulat AS yang sebelumnya berdiri. Ini bukan lokasi permanen untuk kedutaan itu, melainkan lokasi sementara untuk ditempati duta besar sampai lokasi yang lebih besar ditemukan.

Upacara ini dihadiri oleh pejabat senior AS, termasuk Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan putri Trump, Ivanka, serta suaminya, Jared Kushner.

Saat berbicara pada upacara tersebut, Kushner menggambarkan langkah Trump sebagai peningkatan prospek perdamaian antara Israel dan Palestina. “Saya yakin bahwa sebagai hasilnya, bangsa kita akan menjadi lebih kuat, rakyat kita lebih makmur, dan masa depan kita dipenuhi janji perdamaian yang lebih besar.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan Trump itu. “Sungguh hari yang luar biasa. Ingatlah momen ini,” katanya. “Presiden Trump, dengan mengingat sejarah, Anda telah mencetak sejarah.”

Anak-anak turut menjadi korban serangan gas air mata militer Israel. Foto ini diambil di Beit Lahiya, Jalur Gaza. Foto oleh Dusan Vranic/Associated Press

Dua pendeta kontroversial yang terasosiasi dengan hak agama AS juga hadir pada upacara: Robert Jeffress, yang telah membuat komentar kritis terhadap Islam dan Mormonisme, dan John Hagee.

Mantan kandidat presiden dari Partai Republik Mitt Romney mengecam keterlibatan Jeffress, mencuit: “Pemuda beragama seperti itu seharusnya tidak memberikan doa yang membuka kedutaan Amerika Serikat di Yerusalem.”

MENGAPA PERDEBATAN INI SANGAT PELIK?

Keputusan Trump pada bulan Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, dan kemudian merelokasi kedutaan ke sana, telah menghancurkan netralitas Amerika selama berdekade-dekade mengenai isu status Yerusalem, dan membatalkan konsensus internasional bahwa status Yerusalem yang disengketakan harus diselesaikan lewat negosiasi perdamaian Israel-Palestina. Hamas, organisasi militan yang memerintah Gaza, menggambarkan keputusan itu sebagai “deklarasi perang.”

Status Yerusalem adalah jantung konflik Timur Tengah. Kota ini, yang dianggap suci oleh Yudaisme, Islam, dan Kristen, diklaim oleh Israel dan Palestina sebagai ibukota mereka. Israel memandang Yerusalem sebagai ibukota yang tak terpisahkan, sementara warga Palestina menginginkan bagian timur kota untuk ibukota mereka di masa datang.

Netanyahu telah meminta negara-negara lain untuk mengikuti langkah Washington dalam merelokasi kedutaan mereka ke Yerusalem, dan beberapa negara telah melakukannya: Guatemala akan membuka kedutaan di sana pada hari Rabu, dan Paraguay bermaksud bergabung dengan mereka akhir bulan ini.

Iklan

Gedung Putih menegaskan bahwa pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel “tidak berarti Amerika Serikat telah mengambil posisi pada negosiasi status final.”

Akan tetapi, negara-negara lain telah banyak mengkritik langkah AS, yang dijalankan di tenga-tengah meningkatnya ketegangan regional sejak Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pekan lalu, yang mendorong bentrokan militer antara Israel dan Iran di Suriah.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov mengatakan pada hari Senin bahwa langkah itu “dangkal” dan “berpotensi memicu konfrontasi berskala besar antara Palestina dan Israel, serta meningkatkan jumlah korban.”

Langkah Trump itu juga telah dikutuk Uni Eropa — Prancis bahkan tegas mengatakan keputusan AS melanggar hukum internasional — serta memicu kecaman seluruh negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Pembicara parlemen Iran, Ali Larijani, mengingatkan bahwa langkah itu akan mengobarkan ketegangan di seluruh kawasan itu, sementara pejabat tinggi Iran lainnya mengatakan langkah itu akan mempercepat kematian Israel.

“Langkah berbuah bencana ini akan menyatukan dan mengeratkan umat Islam di dunia dalam membela kesucian mereka sambil mempercepat penghancuran rezim Zionis palsu,” ujar Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

APA YANG TERJADI DI PERBATASAN GAZA?

Senin lalu, rakyat Palestina berunjuk rasa di perbatasan Gaza dan berbagai masjid menyiarkan seruan bagi orang-orang yang tidak ikut turun ke jalan untuk bergabung bersama demonstran lainnya. Bus mengangkut ribuan orang menuju 12 titik demonstrasi.

Pengunjuk rasa menyuarakan hak-hak rakyat Palestina untuk mendapatkan kembali tanah Palestina yang dirampas oleh Israel.

Iklan

Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, warga yang tewas akibat serangan tentara Israel ialah anak berusia 14 tahun dan laki-laki berkursi roda, yang fotonya sedang membawa katapel tersebar luas di media sosial. Pejabat Hamas, Ismail Radwan, menyatakan bahwa dirinya akan tetap melanjutkan aksi protes meskipun serangan sudah memakan banyak korban: “Kami tidak akan berhenti sampai rakyat Palestina mendapatkan haknya.”

Warga Palestina membakar ban di perbatasan Israel mengecam kebijakan pemindahan kedubes AS. Foto oleh Ashraf Amra/Anadolu/via Getty Image.

Pasukan tentara Israel melemparkan selebaran peringatan di Gaza lewat jalur udara. Isinya mendesak warga Palestina untuk tidak mendekati atau merusak tembok pembatas. “Selamatkan nyawamu dan ciptakan masa depanmu,” bunyinya.

Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, menulis pesan yang sama untuk penduduk Gaza di akun Twitternya. “Saya menyarankan penduduk Gaza agar tidak mudah dimanipulasi [oleh pemimpin Hamas di Gaza, Yehya Al-Sinwar], yang mengorbankan anak-anakmu tanpa dilengkapi persenjataan. Kami akan melakukan apa pun untuk melindungi dan membela warga Israel dan tidak akan mengizinkan siapa pun melewati tembok.”

Israel menyatakan mereka telah bertindak sesuai kesepakatan dalam melindungi perbatasan dan penduduk Israel di sana, sementara pengamat seperti kepala HAM PBB, Zeid Ra'ad al-Hussein, menuduh tentara Israel telah berlebihan dalam melakukan penyerangan.

Kendati mendapat kecaman dari dunia, Washington mendukung Israel dalam bentrokan ini, menuduh Hamas sebagai pemicu kekerasan.