hubungan asmara

Mengapa Laki-Laki Selalu Berasumsi Cewek Naksir Duluan? Ini Hasil Investigasi Kami

Menurut evolusi, hal ini membantu mereka dalam percintaan; menurut psikologi, mereka punya masalah kedekatan. Menurut saya, mereka cuma kurang tau diri.
Foto oleh GIC via Stocksy.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly

Kamu pasti udah sering dengar cerita ini. Kamu mulai sering ketemu cowok, dan kayaknya dia OK—gak aneh-aneh, dan kalian berdua akrab dengan cepat. Kalian jadi ketemu lebih rutin (belum pacaran sih) dan semuanya baik-baik saja sampai dia tiba-tiba memperlakukanmu kayak taik. Waktu kamu tanya, dia bilang kamu mulai terlalu serius. Ini bikin kamu bingung karena kamu sebenarnya gak ngerasa tertarik secara serius.

Iklan

Saya baru mulai berkencan-kencan lagi setelah putus dari hubungan jangka panjang, jadi mungkin saya telat menyadari ini: Sering banget perempuan mengalami skenario seperti di atas. Mengapa laki-laki punya ketakutan tak berdasar bahwa kamu terlalu cinta sama dia padahal nyatanya, kamu emang orangnya perhatian dan baik hati, dan kamu lagi gak nyari hubungan serius—apalagi sama cowok yang bahkan gak bersihin kamar mandinya sendiri? Kalau kamu seorang perempuan millenial yang rutin berkencan, kemungkinan kamu sering mengalami ini. Cinta adalah teka-teki yang langka—gimana bisa fuckboys percaya bahwa formula rahasianya cuma kencan-kencan medioker dan chatting rutin?

Saya punya beberapa teori.

Pertama: Mungkin laki-laki emang percaya bahwa mereka emang segitu pantas dicintainya dan perempuan dari sananya gak bisa gak kepincut sama mereka. Meski ini benar bagi laki-laki seperti Jeff Goldblum, tapi buat laki-laki yang tinggal di kosan berantakan dan gak punya ambisi, ini delusi. Rasa percaya diri yang menggelembung dari privilese dan rasa berhak.

Kedua: Mereka gak ngerti cara membaca gerak-gerik kita. Mungkin buat kita, bertanya “how’s your day” adalah hal yang normal, yang biasa ditanya kepada orang-orang yang gak mereka taksir. Tapi pertanyaan ini mungkin bisa dianggap tanda kamu naksir sama laki-laki yang mikir kita naksir mereka. Meski pelukan atau hadiah sederhana (bukan kado, sih, lebih kayak “eh gue abis dari restoran X, gue bungkusin makanan ya”) adalah hal yang umum di kalangan perempuan, mungkin laki-laki menganggap hal ini sebagai ketertarikan seksual dan romantis dan bukannya afeksi pertemanan.

Iklan

Dan teori saya yang ketiga, dan yang paling mungkin: bahwa dia gak segitu naksirnya sama kamu tapi terlalu pengecut buat bilang begitu, jadi dia membuat-buat alasan supaya bisa terhindar dari akuntabilitas dan mengandalkan stereotip bahwa perempuan itu clingy yang pada akhirnya bakal jadi istri manja.

Tapi kayaknya gak cukup sekadar berteori. Jadi saya tanya-tanya sama ahlinya.

Saya ngobrol dengan Dr. Marissa Harrison, seorang anggota fakultas di Penn State Harrisburg yang memiliki PhD di bidang psikologi biologi dengan fokus psikologi evolusioner. “Saya gak bermaksud sinis lho ya,” ujarnya. Tapi, “biologi evolusioner memprediksi bahwa… laki-laki ingin hookup aja, atau berpikir, Oh, dia clingy. Mesti gimana ya biar gue untung.” Dr. Harrison menjelaskan bahwa insting untuk menjauhi perempuan yang tampak penuh kasih sayang, adalah insting yang amat konyol karena laki-laki cenderung jatuh cinta lebih cepat dari perempuan. Dan dia tahu banget soal ini—dia menulis penelitian soal ini.

Dia gak mencatat bahwa hal ini bermanfaat secara evolusioner bagi laki-laki untuk berasumsi bahwa perempuan pasti naksir sama dia. “Coba bayangkan ribuan kali hal ini terjadi. Saat laki-laki ini benar, beberapa kali, hal ini menjadi kesempatan berpasangan yang lebih tinggi,” ujarnya. “False alarm lebih mending daripada alarm yang kelewatan. Apakah dia benar-benar naksir saya? Coba deh gue coba aja, karena kesempatan yang terlewat adalah bukan kesempatan untuk berpasangan.”

Iklan

Terapis pasangan Shira Etzion setuju dengan hipotesis Dr. Harrison: “Banyak laki-laki mengira kamu naksir dengannya hanya karena menatapnya selama beberapa saat.” Perlu diingat kalau “persepsi dan reaksi ketertarikan itu berbeda,” imbuh Etzion. Bagaimana pria bereaksi terhadap ketertarikan tergantung pada riwayat hubungannya.

“Hubungan yang baik semasa kecil menciptakan reaksi positif dan pengharapan,” jelasnya. Sebaliknya, apabila hubunganmu dengan orang tua tidak baik, maka reaksi yang kamu berikan jadi negatif.

“Makanya, banyak orang yang berpikiran tidak-tidak pas ada yang bersikap baik sama mereka. Sebenarnya ini tidak hanya terjadi pada laki-laki saja, tapi mereka lebih cenderung mengalaminya karena tidak peka membaca gerak-gerik dan menanggapi perasaan.”

Etzion menjelaskan bahwa mereka bisa takut seperti itu karena tertekan harus memiliki perasaan yang sama supaya tidak dikira laki-laki brengsek. Padahal orang yang perhatian dengannya tidak naksir sama mereka.

Penjelasan Etzion memang logis, tapi bukan berarti mereka bisa memperlakukan seseorang seenaknya. Dulu sih kita tidak perlu memahami semua orang, tapi sekarang tidak ada salahnya lho untuk bersikap lebih peduli sama perasaan orang lain. Buktinya banyak kok orang dengan masa lalu kelam yang bisa mengatakan perasaan mereka sebenarnya dan gak ninggalin orang lain gitu saja.

Yang penting tuh ada usaha buat berubah. Etzion mengamati perilaku berpacaran kliennya yang dia sebut sebagai “evolusi”. Menurutnya, kita semakin terbuka soal perasaan saat beranjak dewasa. Laki-laki baru bisa bersikap dewasa saat mereka tahu bagaimana memperlakukan perempuan tanpa mikir apa untungnya buat mereka. Misalnya, mereka bisa mempertimbangkan alasan sebenarnya mendekati seseorang. Apakah karena butuh sesuatu atau memang peduli?

Bagi yang belum mencapai fase ini, mereka akan terus dihantui perasaan takut setiap kali ngira ada yang jatuh cinta dengannya. Kalau sudah begini, sebaiknya kamu tanya pada diri sendiri: Apa sih yang membuatmu khawatir? Apa kamu takut mereka kecewa? Apa kamu takut menyakiti perasaannya? Apa kamu memanfaatkannya untuk kepentinganmu sendiri?

“Kamu sebaiknya jujur apa yang kamu inginkan dari mereka. Akan lebih mudah menemukan orang yang merasakan hal sama kalau kamu jujur,” ujar Etzion. “Kamu tidak perlu membohongi perasaan supaya bisa dapatkan apa yang kamu mau.”

Dan ini berlaku bagi semua jenis hubungan. Berhubung kamu bukan Dr. Strange, jadi kamu tidak mungkin bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi pada hubunganmu nantinya. Bersikaplah dewasa dan bicarakan baik-baik perasaanmu dengan pasangan. Kalau kamu kira ada yang naksir, langsung saja tanya. Jadi kamu tidak kegeeran.

Cinta itu rumit. Kamu harus mencintai diri sendiri dan bersabar sampai ada orang yang membalas perasaanmu. Kita tidak boleh egois dalam hubungan percintaan, dan laki-laki harus belajar mengurangi egonya.