Olahraga

Inilah Alasan Rajin Lari Belum Tentu Bakal Bikin Perutmu Kempes

Bahkan pelari maraton profesional masih bisa punya perut buncit.
7.6.18
vgajic/Getty Images

Coba deh perhatiin acara maraton, mungkin kamu akan menemukan fenomena aneh ini: Beberapa pelari—dengan lengan dan kaki kurus seperti tusuk gigi—boleh jadi punya perut buncit.

Beberapa orang menyebutnya “runner’s paunch.” Ini bukan fenomena yang meluas, tapi lumayan sering muncul sehingga jadi topik pembicaraan beberapa pelari rutin. Ahli bilang ada dua macam penjelasan—salah satunya adalah gejala penyakit.

Iklan

“Saya rasa satu kemungkinan masih lumayan umum, terutama di kalangan individu yang lebih tua, karena itulah saat kamu kehilangan banyak berat badan dan kulit perutmu mulai kendor,” ujar Tim Church, profesor di LSU’s Pennington Biomedical Research Center.

Church menjelaskan bahwa kulit itu “sangat tebal,” sehingga saat kita beranjak tua, ia akan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk mengencang. Kalau seseorang yang berusia 40-50an (atau bahkan lebih) mulai hidup sehat dan turun berat badan, kemungkinan dia akan punya kulit perut yang kendor—kulit yang berada di bawah abdomen dan di atas selangkangan—meskipun bagian tubuh lainnya kurus. Ini juga lebih mungkin terjadi kalau seseorang biasa membawa beban berat di perutnya.

“Seorang teman jujitsu saya juga begitu—dia punya six-pack, tapi juga ada kulit kendor di bawahnya,” ujar Church. “Satu-satunya cara untuk menghilangkan kulit kendor itu adalah dengan memotongnya.”

Penyebab kedua yang berpotensi lebih berbahaya adalah pola makan. Seiring waktu, penelitian terus menunjukkan bahwa olahraga aerobik saja tak cukup bagus untuk menurunkan berat badan. Tapi, bukan berarti kamu gak bisa menurunkan berat badan dari latihan untuk pertandingan lari; kamu bisa menurunkan 2-5 kilogram dengan rajin berlari, menurut penelitian. Dan latihan erobik memang baik untuk kesehatan.

Tapi, satu-satunya cara untuk menurunkan berat badan adalah dengan mengubah pola makan. “Sebagian besar orang gak bisa hanya berlari untuk menurunkan berat badan,” ujar Michael Jensen, seorang endocrinolog di Mayo Clinic di Minnesota.

Jensen bilang seseorang yang rajin lari tapi juga memiliki pola makan yang buruk “bisa terus buncit” kalau genetik mereka menetapkan mereka akan memiliki lemak berlebih di bagian perut, dan Church setuju. “Pada umumnya, kalau kamu gak jaga pola makan, kamu cenderung punya perut buncit,” ujarnya. (Sama juga kalau kamu sering minum alkohol.) Dan penelitian demi penelitian telah menghubungkan berat badan seseorang diusia pertengahan dengan risiko lebih tinggi kepada penyakit metabolisme dan kelangsungan hidup—bahkan membandingkannya dengan orang-orang yang BMI-nya tinggi.

Jadi, kalau ada orang yang rutin berlari tapi gak mengadopsi pola makan sehat untuk melengkapi rutinitas olahraga mereka, bisa-bisa dia punya perut buncit.

Ini tepat terutama bagi orang-orang keturunan Asia. “Kamu melihat banyak contoh orang-orang keturunan Asia yang punya diabetes meski berat badannya normal,” ujar Church. Itu dipengaruhi DNA mereka, banyak keturunan Asia yang langsing, tapi buncit. “Orang-orang seperti ini kadang terlihat kurus banget,” ujarnya. “Tapi perut mereka buncit seperti ada bola basketnya.”