Justin Chung memutuskan untuk mendalami fotografi ketika belajar kesehatan masyarakat. Dari dulu dia sudah suka foto-foto, tapi baru menyeriusinya selama mengikuti program pascasarjana di Massachusetts. “Saya sangat tertarik dengan seni dan fotografi, dan akhirnya memasukkan unsur-unsur itu ke dalam tesis. Saya melaksanakan proyek focus group berbasis seni dan menceritakan masalah kesehatan mereka lewat esai foto,” terangnya.
Iklan
Berbekal pengalaman jadi fotografer pernikahan di Massachusetts, Justin pulang ke San Francisco setelah lulus. Kembali ke bagian selatan San Francisco yang berkabut dan dikelilingi pantai. Namun, di sana dia dihadapkan pada dua pilihan.“Pikiranku bercabang. Mending lanjut sekolah kedokteran atau menekuni fotografi? Akhirnya saya pindah ke New York pada 2011, dan fokus pada fotografi. Saya berbaur dengan para stylist, desainer dan editor di dunia mode. Portofolio saya tumbuh secara perlahan, dan saya menemukan panggilan sejati di sana.”
Justin memadukan unsur-unsur fotografi fesyen dengan gaya foto hazy yang menjadi ciri khasnya. Dalam setiap karya Justin, subjek foto selalu bermandikan cahaya lembut nan hangat dengan sedikit sentuhan warna gelap. Menyelami fotografi potret, interior dan makanan, maka tak heran jika dia pernah memotret untuk majalah-majalah seperti Cereal dan WSJ Magazine. “Saya terinspirasi oleh berbagai genre fotografi, dan suka menemukan cara menggabungkan semua elemen ini. Kita bisa lebih memahami dunia seseorang yang difoto dengan cara begini.”Dalam proyek terbarunya, Justin memperkuat pendekatan ini dengan mengundang kita ke rumah dan studio seniman favoritnya.Sesuai judulnya, Faculty Department, Volume 2 adalah proyek fotografi kedua Justin. “Proyek ini dimulai untuk menjawab rasa penasaran terhadap kehidupan sejumlah orang yang pernah saya temui,” tuturnya.
Iklan
“Saya sering membagikan kisah mereka karena cara kerja atau karyanya sangat berarti untukku. Saya mulai mengunjungi studio mereka dan mengisahkannya lewat foto-foto saya. Konsep Faculty Department merupakan hasil dari kumpulan esai foto yang menyoroti berbagai jenis pekerjaan dan profesi; dari orang-orang yang pekerjaan, hidup, dan jalan pemikirannya memengaruhi karya saya.”
Ide untuk proyek kedua muncul setelah Justin mengunjungi Jepang. “Saya memotret koki Shoichiro Aiba di sana. Dia sedang dalam proses membangun rumah dan mendedikasikan waktu untuk keluarga ketika saya bertemu dengannya pada 2016. Saya terpesona dengan gaya hidup dan profesinya.Koki ini memiliki beberapa restoran, dan saya mengagumi gaya memasaknya yang kasual. Dia juga mengajarkanku rasanya menjadi seorang ayah. Saya bertemu Aiba lagi dua tahun lalu untuk mendokumentasikan kehidupannya di Nasu. Saya menemukan angle untuk edisi kedua dari situ. Pada akhirnya, buku ini mengangkat tema ‘kehidupan sederhana yang penuh tujuan.’”Koneksi yang dijalin Justin selama bertahun-tahun—dengan berkunjung ke studio dan semacamnya—membuat proyek fotografi ini terasa sangat otentik. Dia menampilkan subjek dari berbagai bidang kreatif, mulai arsitek, editor hingga profesor. “Berkat semua kunjungan studio baik untuk kepentingan pribadi maupun komersial, saya memperoleh pengalaman dan keberanian untuk menceritakan ‘keseharian’ semacam ini lewat fotografi,” simpul Justin. “Saya berusaha untuk menangkap setiap momen secara alami dan apa adanya.”
Iklan
Apabila tertarik, kalian bisa membeli ‘Faculty Department: Volume 2’ di sini.
Artikel ini pertama kali tayang di i-D UK